Ekonomi & Bisnis
Fredi Moses Ulemlem: Jangan Terjebak Kuota Tenaga Kerja, Maluku Harus Siapkan SDM Hadapi Blok Masela
AMBON — Rencana dimulainya pengembangan Proyek Blok Masela dinilai menjadi momentum yang akan menentukan arah pembangunan ekonomi Maluku dalam beberapa dekade ke depan.
Namun, peluang tersebut hanya akan memberikan manfaat nyata apabila pemerintah daerah mampu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang memenuhi standar industri minyak dan gas.
Tokoh Maluku, Fredi Moses Ulemlem, mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat tidak menghabiskan energi pada perdebatan mengenai besaran kuota tenaga kerja lokal semata. Menurut dia, persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan putra-putri Maluku memiliki kompetensi yang dibutuhkan sehingga mampu bersaing dan terserap dalam proyek strategis nasional tersebut.
“Jangan terjebak pada perdebatan soal berapa persen tenaga kerja lokal yang diterima di Blok Masela. Yang harus menjadi perhatian utama adalah bagaimana masyarakat Maluku dipersiapkan agar memenuhi seluruh kualifikasi yang dibutuhkan industri migas,” kata Fredi, pada Kamis (2/7).
Menurut Fredi, tanpa investasi yang serius pada pembangunan SDM, tuntutan agar tenaga kerja lokal diprioritaskan hanya akan menjadi slogan yang sulit diwujudkan.
Industri migas memiliki standar kompetensi yang ketat dan tidak dapat dipenuhi hanya dengan pendekatan administratif atau pertimbangan domisili.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja pada proyek Blok Masela mencakup berbagai bidang keahlian dengan persyaratan yang tinggi.
Selain pendidikan minimal sarjana (S1) di bidang teknik maupun sains, banyak posisi mensyaratkan pengalaman kerja di sektor minyak dan gas, khususnya fasilitas LNG, kemampuan berbahasa Inggris, penguasaan standar internasional keselamatan kerja, kepatuhan lingkungan, manajemen kontrak, hingga pengalaman pada proyek FPSO maupun FLNG untuk jabatan tertentu.
Karena itu, Fredi menilai pemerintah Provinsi Maluku bersama sebelas pemerintah kabupaten dan kota harus mulai menyusun strategi jangka panjang untuk membangun SDM lokal. Menurut dia, keterbatasan ekonomi masyarakat tidak boleh menjadi penghalang bagi generasi muda Maluku untuk memperoleh pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Kalau masyarakat tidak mampu membiayai pendidikan dan pelatihan, maka negara melalui pemerintah daerah wajib hadir. Pemerintah harus memfasilitasi pendidikan vokasi, pelatihan, sertifikasi profesi, penguasaan bahasa Inggris, hingga kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga pelatihan. Jangan membiarkan masyarakat berjuang sendiri,” ujarnya.
Lebih jauh, Fredi menilai pemerintah daerah tidak cukup hanya berperan sebagai fasilitator pelatihan. Pemerintah juga harus membangun kepastian hukum yang menjamin keterlibatan tenaga kerja lokal melalui regulasi daerah.
Ia mendorong Pemerintah Provinsi Maluku bersama DPRD menyusun Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur secara jelas komposisi tenaga kerja lokal dan tenaga kerja dari luar daerah pada proyek-proyek strategis di Maluku.
Regulasi tersebut, menurut dia, akan memberikan kepastian bagi investor sekaligus menjadi instrumen perlindungan terhadap kepentingan masyarakat lokal.
“Harus ada aturan yang memberikan kepastian mengenai persentase minimal tenaga kerja lokal yang wajib diserap. Dengan demikian, masyarakat memiliki kepastian memperoleh kesempatan, sementara perusahaan juga memiliki pedoman yang jelas dalam proses rekrutmen,” katanya.
Menurut Fredi, keberhasilan Blok Masela tidak semestinya hanya diukur dari besarnya investasi atau peningkatan produksi gas nasional, tetapi juga dari sejauh mana proyek tersebut mampu meningkatkan kualitas SDM, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan perekonomian masyarakat Maluku secara berkelanjutan.
“Blok Masela jangan hanya menjadi sumber kekayaan alam yang dinikmati oleh pihak luar. Proyek ini harus menjadi momentum lahirnya generasi profesional Maluku yang mampu menjadi pelaku utama pembangunan di tanahnya sendiri. Kalau SDM dipersiapkan sejak sekarang, manfaat ekonominya akan dirasakan jauh melampaui usia proyek itu sendiri,” ujar Fredi.(By/Red)