Ekonomi

Rupiah Kembali ke Rp17.900, IHSG Rebound Usai Intervensi Bank Indonesia

Published

on

JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah mengalami tekanan cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona hijau.

Kondisi tersebut dinilai sebagai respons positif pasar terhadap langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), rupiah tercatat bergerak menguat ke kisaran Rp17.900 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga mendekati level psikologis Rp18.000 bahkan sempat menyentuh di atas Rp18.100 di pasar referensi.

Penguatan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena menunjukkan mulai meredanya tekanan terhadap mata uang domestik.

Di saat yang sama, IHSG juga menunjukkan tren pemulihan atau rebound setelah beberapa sesi sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam. Investor mulai kembali melakukan akumulasi saham, terutama pada sektor perbankan dan komoditas yang dinilai memiliki fundamental kuat di tengah volatilitas global.

Pemulihan pasar ini tidak terlepas dari langkah cepat Bank Indonesia yang secara mengejutkan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui rapat di luar jadwal reguler pada 9 Juni 2026.

Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Selain menaikkan suku bunga acuan, BI juga memperkuat strategi stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan pembelian surat berharga negara (SBN). Otoritas moneter juga memperluas instrumen investasi berbasis rupiah guna menjaga likuiditas pasar dan menahan arus modal keluar (capital outflow) yang sempat meningkat akibat penguatan dolar AS secara global.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dan cadangan devisa nasional berada pada level yang memadai untuk menjaga stabilitas pasar.

Menurutnya, langkah responsif diperlukan karena tekanan eksternal beberapa waktu terakhir berkembang lebih cepat dari perkiraan.

Pengamat pasar modal menilai kebijakan BI mulai memberikan dampak psikologis positif terhadap investor. Penguatan rupiah dan pergerakan IHSG yang kembali menghijau dinilai menjadi indikasi awal bahwa kepercayaan pasar mulai pulih setelah sempat dibayangi kekhawatiran terhadap pelemahan mata uang dan tingginya ketidakpastian global.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan nasional, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), ketegangan geopolitik, hingga perlambatan ekonomi global.

Di tengah dinamika tersebut, stabilisasi rupiah kembali di bawah level Rp18.000 dan rebound IHSG memberi optimisme baru bahwa pasar keuangan Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah tekanan global.

Pemerintah dan Bank Indonesia kini dihadapkan pada tantangan menjaga momentum pemulihan agar kepercayaan investor terus terjaga dalam jangka menengah. (By/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version