Ekonomi

Rupiah Tembus Rp18.042 per Dolar AS, Level Psikologis Rp18.000 Resmi Terlewati

Published

on

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) resmi menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Berdasarkan data Google Finance, kurs USD/IDR tercatat berada di level Rp18.042 per dolar AS pada pukul 04.35 UTC, menandai tekanan lanjutan terhadap mata uang Garuda di tengah penguatan dolar global.

Tembusnya level Rp18.000 menjadi sorotan pelaku pasar karena angka tersebut selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting dalam perdagangan valuta asing.

Kenaikan nilai dolar AS terhadap rupiah mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal sekaligus tingginya permintaan mata uang Negeri Paman Sam di pasar.

Pergerakan rupiah kali ini dinilai tidak berdiri sendiri. Sejumlah analis pasar uang menilai penguatan dolar AS masih dipicu meningkatnya minat investor terhadap aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Perlambatan ekonomi di sejumlah negara, tensi geopolitik, serta ketidakjelasan arah pemulihan ekonomi dunia membuat investor cenderung memilih aset berbasis dolar.

Selain faktor global, pelaku pasar juga masih mencermati kebijakan Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga acuan.

Ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan pada level tinggi membuat dolar tetap menjadi instrumen investasi yang menarik karena menawarkan imbal hasil kompetitif dibanding negara berkembang.

Kondisi tersebut berpotensi memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat aliran modal asing bergerak menuju aset dolar, mata uang domestik seperti rupiah biasanya mengalami tekanan.

Di dalam negeri, permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri perusahaan, hingga transaksi perdagangan internasional juga dinilai turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Ketidakseimbangan antara permintaan valuta asing dan pasokan devisa membuat pergerakan kurs menjadi lebih volatil.

Meski pelemahan rupiah sering dipandang sebagai sentimen negatif, dampaknya tidak selalu merugikan seluruh sektor ekonomi.

Pelaku usaha berbasis ekspor justru berpotensi memperoleh keuntungan karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.

Sebaliknya, industri yang bergantung pada bahan baku impor diperkirakan menghadapi kenaikan biaya produksi. Jika tekanan kurs berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak pada harga barang konsumsi, elektronik, hingga biaya logistik.

Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau volatilitas pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing, penguatan likuiditas, serta kebijakan moneter untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

Ke depan, arah pergerakan rupiah diprediksi masih akan sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi global, kebijakan The Fed, serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal yang terus berubah.(JK/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version