Redaksi

Harga Telur Anjlok, Pasar Sepi: Peternak dan Pedagang Tertekan Overproduksi

Published

on

Blitar — Kondisi pasar telur ayam di sejumlah daerah dilaporkan kian lesu. Overproduksi yang tidak diimbangi daya beli masyarakat menyebabkan harga telur terus merosot, bahkan di bawah harga normal, dan memicu kerugian di tingkat peternak maupun pedagang.

Sejumlah pelaku usaha menyebut, di wilayah Blitar terjadi penumpukan stok telur dalam jumlah besar. Harga yang sudah ditekan hingga kisaran Rp20.000–Rp21.000 per kilogram pun masih sulit terserap pasar. Lemahnya daya beli masyarakat disebut menjadi faktor utama stagnasi distribusi.

Situasi serupa juga terjadi di kawasan Surabaya Raya. Pedagang mengaku kesulitan menjual telur, bahkan pada harga Rp25.000 per kilogram. Transaksi dalam jumlah kecil, seperti setengah kilogram, lebih diminati pembeli karena keterbatasan uang tunai di masyarakat.

“Pembeli banyak yang pecah uang dulu. Kalau bawa uang besar seperti Rp50 ribu atau Rp100 ribu, baru agak lancar. Selebihnya sepi,” ujar salah satu pedagang, Selasa(7/4).

Penurunan harga diperkirakan masih berlanjut. Sejumlah pelaku pasar menyebut harga telur berpotensi turun hingga Rp15.000–Rp17.000 per kilogram dalam waktu dekat. Bahkan, ada laporan harga sudah menyentuh kisaran Rp15.000–Rp18.000 di beberapa titik distribusi.

Mengutip laporan RRI, penurunan permintaan telur juga dipengaruhi perubahan kebijakan konsumsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut dilaporkan mulai beralih dari menu berbasis telur ke daging, sehingga berdampak langsung pada serapan pasar telur nasional.

Penumpukan stok turut berdampak pada kualitas barang. Sejumlah telur dilaporkan mulai membusuk akibat terlalu lama tersimpan, terutama pasca momen hari raya. Kondisi ini memperparah kerugian yang dialami peternak.

Di sisi lain, harga komoditas lain seperti daging ayam (sekitar Rp28.000/kg) dan daging sapi (sekitar Rp95.000/kg) dinilai turut memengaruhi pergeseran konsumsi masyarakat, sehingga permintaan telur semakin tertekan.

Para pelaku usaha kini dihadapkan pada dilema berat antara biaya produksi tinggi dan harga jual yang terus turun. Bahkan, tidak sedikit yang mulai mengalami kerugian serius hingga terancam gulung tikar akibat pola “beli mahal, jual murah”.

Pelaku usaha mengingatkan agar pedagang tidak memaksakan pembelian di tengah pasar yang lemah.

“Kalau pasar tidak kuat, jangan dipaksakan belanja. Daripada rugi hanya demi terlihat ramai,” ungkap salah satu pedagang lainya.

Dengan kondisi ini, mereka berharap adanya intervensi pemerintah atau kebijakan strategis untuk menyerap kelebihan produksi dan menstabilkan harga, agar sektor peternakan telur tidak semakin terpuruk. (By/Red)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version