Ekonomi & Bisnis
Kilas Balik Kayu Seram di Balik Kekayaan Rp 800 Triliun Prajogo Pangestu, Maluku Diminta Jemput Bola Investasi Hilirisasi Gas
AMBON – Majalah Forbes mencatat kekayaan Prajogo Pangestu pada tahun 2026 mencapai Rp800 triliun, menjadikannya manusia terkaya nomor satu di Indonesia.
Namun di balik akumulasi modal yang maha dahsyat tersebut, terdapat kisah panjang yang berawal dari hutan Pulau Seram, Maluku.
Sekretaris Hena Hetu Seram Bagian Barat (SBB) yang akrab disapa Bung Verry atau Veja, menyampaikan kepada sejumlah awak media di Ambon melalui pesan WhatsApp, bahwa perjalanan bisnis Prajogo tidak lahir begitu saja.
“Kisahnya dimulai dari pertemuan dengan Burhan Uray (Bong Sun On), seorang pengusaha kayu asal Serawak, Malaysia. Saat bergabung di PT Djajanti Group yang berbasis di hutan Pulau Seram, ia lalu mengambil lompatan besar dengan membeli CV Pacific Lumber Coy yang hampir bangkrut dan mengubahnya menjadi PT Barito Pacific Timber,” ujar Veja.
Menurutnya, pada puncak kejayaan di era 1980-an hingga 1990-an, Barito Pacific Timber bukan sekadar pemain, melainkan penguasa hutan Nusantara. Prajogo berhasil memperoleh Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seluas lebih dari 6 juta hektar di berbagai daerah, termasuk eksploitasi besar-besaran di Pulau Seram.
“Kayu Seram mengalir deras ke pabrik-pabrik plywood. Getah dan serat kayu hutan Maluku menjadi salah satu roda penggerak mesin uang Prajogo yang pertama. Di sinilah dulu darah kekayaannya bersumber, jauh sebelum ia beralih ke petrokimia pada 2007,” tegas Veja.
Dari uang kayu itulah, Prajogo membangun imperium. Pada 2007, ia mengakuisisi 70 persen saham Chandra Asri, perusahaan petrokimia raksasa. Kemudian pada 2011, Chandra Asri melebur dengan Tri Polyta Indonesia menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.
Tidak berhenti di situ, ia merambah energi baru terbarukan melalui Barito Renewables Energy (BREN) dan pertambangan melalui Petrindo Jaya Kreasi (CUAN). Hanya dalam beberapa tahun, kekayaannya meledak hingga ratusan triliun.
Veja menyoroti bahwa siklus ekstraksi sumber daya alam dari daerah, akumulasi modal di pusat, lalu transformasi ke industri bernilai tambah tinggi di Jawa, membuat daerah hanya menjadi penonton.
“Pulau Seram dan Maluku umumnya hanya menjadi pemasok bahan mentah. Sementara pabrik petrokimia terbesar berdiri megah di Merak dan Cilegon, Maluku yang dulu kayunya menjadi fondasi awal sumber kekayaan tetap bergulat dengan angka kemiskinan di atas rata-rata nasional,” jelasnya.
Berita Baik dari Blok Masela
Veja menyampaikan bahwa ada kabar baik yang harus dibaca cerdas oleh pemerintah daerah. PT Petrosea Tbk (PTRO), emiten milik Prajogo Pangestu, baru saja menandatangani kontrak proyek di Blok Masela.
Konsorsium yang beranggotakan Petrosea dengan porsi 36 persen PT Enviromate Technology International, dan PT Nindya Karya (Persero) akan mengerjakan konstruksi perimeter LNG di Lapangan Abadi.
“Pertanyaannya sekarang, apakah kehadiran Prajogo Pangestu di Masela hanya akan berhenti sebagai pembangun jalan dan pagar perimeter, lalu uangnya kembali mengalir ke Jakarta? Atau akankah beliau mengembalikan hutang sejarahnya dengan membangun pabrik petrokimia langsung di tanah Maluku?” ujar Veja.
Ia menambahkan, Blok Masela memiliki cadangan gas raksasa yang berpotensi menghasilkan 9,5 juta metrik ton LNG per tahun dan 35.000 barel kondensat per hari.
Angka-angka ini merupakan peluang besar bagi industri petrokimia. Prajogo pun dinilai sudah memiliki rantai pasok hilirisasi gas yang matang melalui Chandra Asri.
“Mengapa pabriknya tidak dibangun di Pulau Seram? Mengapa tidak membangun kilang metanol, amoniak, atau polypropylene di dekat sumber gas? Dengan begitu, nilai tambah tidak lagi dinikmati sendirian oleh Cilegon, tetapi juga oleh anak-anak muda Maluku yang saat ini menganggur,” tegasnya.
Empat Langkah Strategis Menarik Investasi Prajogo
Pemerintah Provinsi Maluku didorong untuk bergerak taktis, bukan hanya seremoni, dan tidak menunggu belas kasih.
Berikut empat langkah yang harus dilakukan untuk menarik Prajogo Pangestu berinvestasi penuh di Seram Bagian Barat:
1. Pendekatan Personal dan Institusional
Ingatkan bahwa kekayaan Prajogo dimulai dari kayu, dan kayu itu berasal dari Maluku. Jangan gunakan nada menuntut, gunakan nada kemitraan strategis.
“Katakan: ‘Pak Prajogo, dulu Kayu Seram mengantar bapak ke puncak, sekarang Gas Masela akan mengantar warisan bapak ke level berikutnya, dengan meninggalkan pabrik di Seram’.”
2. Siapkan Kawasan Industri Terintegrasi
Kawasan di Seram Bagian Barat yang dekat dengan infrastruktur gas harus disiapkan. Tidak perlu lahan luas kosong melompong, tetapi pastikan ketersediaan listrik, air, dan akses jalan.
3. Tawarkan Skema KPBU yang Bersih
Tawarkan sistem Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) yang cepat, transparan, dan bebas pungli.
4. Manfaatkan Kehadiran PT Petrosea
PT Petrosea saat ini sudah ada di Masela mengerjakan proyek Rp989 miliar. Gunakan momen ini untuk negosiasi hilir. Undang petinggi Barito Pacific dan Chandra Asri melihat langsung potensi lahan di Seram.
Jangan biarkan mereka pulang tanpa komitmen memorandum of understanding (MoU) pengembangan kawasan industri petrokimia.
Veja juga mengingatkan bahwa status Maluku sebagai daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) harus dimanfaatkan. Berikan tax holiday, kemudahan izin, dan jaminan keamanan investasi jangka panjang.
Jangan sampai investor besar seperti Prajogo memilih daerah lain karena birokrasi yang berbelit.
“Tuan Prajogo Pangestu bukanlah orang jahat. Ia adalah pengusaha paling visioner yang dimiliki Indonesia. Tapi sejarah tetaplah sejarah. Kayu Seram pernah menjadi darah segar yang menghidupkan mesin bisnisnya. Sekarang, saatnya Seram mendapatkan transfusi darah baru dari pabrik petrokimia yang dibangun oleh tangan yang sama,” ujar Veja.
Ia menutup pernyataannya dengan seruan: “Rakyat Maluku tidak ingin menggoyang masa lalu, mereka ingin masa depan. Mereka tidak ingin Prajogo hanya lewat sebagai kontraktor, tetapi sebagai mitra pembangunan. Pemerintah Provinsi Maluku, jangan tidur, jemput bola“.
“Kepada Tuan Prajogo, kembalilah ke Maluku. Bukan untuk menebang, tetapi untuk membangun. Seram menanti seperti orang tua menantikan kepulangan sang anak yang telah sukses di perantauan,“tutupnya. (Red/By)