Budaya
Langen Tayub Tetap Eksis di Trenggalek, Masih Jadi Hiburan Favorit Warga Panggul
TRENGGALEK – Kesenian tradisional Langen Tayub masih mampu mempertahankan eksistensinya di tengah derasnya perkembangan hiburan modern.
Di Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, kesenian khas Jawa ini bahkan tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk memeriahkan berbagai acara hajatan maupun tradisi adat.
Tidak hanya diminati kalangan tua, Langen Tayub kini juga mulai menarik perhatian generasi muda.
Pergelaran seni yang memadukan tari, musik gamelan, dan tembang Jawa tersebut masih rutin digelar dalam berbagai kegiatan seperti pernikahan, khitanan, sedekah bumi, hingga sedekah laut.

Pecinta kesenian tradisional Langen Tayub Trenggalek, saat mengikuti acara tasyakuran.(dok/YT)
Pementasan Tayub umumnya dimulai pada malam hari dan berlanjut hingga siang hari keesokan harinya. Selain menjadi hiburan, kesenian ini juga berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan sosial masyarakat.
Menjadi bagian dari sebuah kelompok Tayub bukan perkara mudah. Para pelaku seni dituntut memiliki kemampuan khusus, mulai dari olah vokal, penguasaan tari, hingga memahami tata cara jalannya pertunjukan.
Dalam satu kelompok Tayub terdapat sinden, penabuh gamelan, penari perempuan atau waranggana, serta seorang pemandu acara yang mengatur jalannya pertunjukan.
Di Kecamatan Panggul saat ini terdapat satu paguyuban Tayub yang telah berbadan hukum, yakni Paguyuban Margo Rukun, dengan iringan kelompok campursari Surya Nada.
Pemilik Campursari Surya Nada, Suyono, mengatakan kelompoknya saat ini didukung sekitar 20 orang pemandu Tayub dan sekitar 25 waranggana yang masih aktif tampil.
“Jumlah tersebut merupakan mereka yang masih aktif menjalani profesinya hingga saat ini. Bisa bertambah atau berkurang, tetapi yang paling berpengaruh adalah faktor usia,” ujar Suyono, Rabu (24/6).
Menurutnya, minat masyarakat terhadap Tayub di wilayah Panggul masih sangat tinggi. Bahkan, sekitar 75 persen hajatan di sejumlah desa masih menghadirkan hiburan Langen Tayub.
Selain sebagai hiburan, menghadirkan Tayub dalam sebuah hajatan juga dianggap memiliki nilai prestise di tengah masyarakat.
Untuk mendatangkan satu kelompok Tayub, penyelenggara acara setidaknya harus menyiapkan anggaran mulai Rp15 juta untuk satu kali pementasan.
Biaya tersebut dapat meningkat apabila tuan rumah menginginkan waranggana yang sudah memiliki nama besar atau populer di kalangan pecinta Tayub.
Di balik tingginya minat masyarakat, profesi sebagai waranggana juga memiliki tantangan tersendiri. Selain dituntut memiliki kemampuan menari dan menyanyi, mereka juga harus siap menghadapi situasi pertunjukan yang berlangsung hingga larut malam.
Salah seorang waranggana asal Kecamatan Panggul yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku telah menekuni profesi tersebut selama 13 tahun.
Ibu dua anak itu mengatakan risiko terbesar yang dihadapi adalah harus tampil di tengah keramaian dengan beragam karakter penonton.
Meski demikian, profesi tersebut dinilai masih mampu memberikan penghasilan yang cukup menjanjikan. Untuk sekali tampil, ia mematok tarif sekitar Rp1 juta.
Hingga kini, Langen Tayub tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat pedesaan di Trenggalek.
Di tengah hadirnya berbagai bentuk hiburan modern, kesenian tradisional ini masih bertahan sebagai warisan budaya yang terus dilestarikan sekaligus menjadi hiburan favorit dalam berbagai hajatan masyarakat.(YT/Red)
Editor: Joko Prasetyo