Redaksi
Merawat Tradisi: Jejak Pondok Tengah Kamulan
TULUNGAGUNG— Di tengah bentang pedesaan Trenggalek, Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Kamulan yang akrab disebut Pondok Tengah menjadi salah satu simpul penting tradisi keilmuan Islam di kawasan Mataraman. Berdiri sejak akhir abad ke-18 oleh Kyai Ahmad Yunus atau Sunan Wilis, pesantren ini bukan hanya tempat belajar, melainkan ruang hidupnya sanad: sanad keilmuan, sanad keluarga, dan sanad perjuangan.
Sejak awal, Pondok Tengah tumbuh dari tradisi babat alas membuka wilayah baru sekaligus membuka jalan dakwah. Dari tangan Sunan Wilis, yang merupakan putra Ki Bagus Mukmin, jejak pesantren ini terhubung dengan warisan besar Islam Mataram, perpaduan antara darah bangsawan dan laku kesantrian. Dalam konteks ini, pesantren tidak sekadar institusi pendidikan, melainkan simpul peradaban yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Dalam tradisi pesantren, keberkahan ilmu tidak hanya diukur dari apa yang dipelajari, tetapi dari kepada siapa ilmu itu disandarkan. Di sinilah pentingnya sanad rantai transmisi keilmuan yang memastikan otoritas dan keaslian ilmu.
Pondok Tengah Kamulan memiliki hubungan keilmuan yang erat dengan Pondok Pesantren Joresan, Ponorogo salah satu pusat keilmuan Islam yang berpengaruh di Jawa Timur. Relasi ini tampak jelas dalam perjalanan intelektual para kiai Kamulan.
K.H. Mahmud Ihsan, salah satu pengasuh penting Pondok Tengah pada abad ke-20, tidak hanya menimba ilmu di Tremas Pacitan, tetapi juga berguru kepada K.H. Hasbullah di Joresan pada masa-masa awal kemerdekaan.
K.H. Hasbullah sendiri dikenal sebagai ulama dari trah Mbah Mesir Durenan, yang memiliki kedekatan historis dengan wilayah Trenggalek dan sekitarnya.
Sanad ini kemudian berlanjut melalui generasi berikutnya. K.H. Syafi’i Ismail Tayib, keponakan K.H. Mahmud Ihsan, juga menimba ilmu di Joresan. Ia belajar kepada K.H. Hasbullah serta K.H. Abdul Karim, memperkuat mata rantai keilmuan antara Kamulan dan Ponorogo. Relasi ini menunjukkan bahwa pesantren tidak pernah berdiri sendiri, melainkan hidup dalam jejaring keilmuan yang saling terhubung dan saling menguatkan.
Salah satu kekuatan utama Pondok Tengah adalah peran besar keluarga dalam menjaga keberlanjutan pesantren. Tradisi ini terlihat dari kontribusi luas trah Kyai Ihsan Aliyilmurtadho Yunus dan K.H. Tayib Abdussalam Yunus.
Baik dari jalur dzuriyah (keturunan langsung) maupun melalui jalur pernikahan (menantu), banyak tokoh lahir dan tumbuh dalam orbit pesantren ini. Di antara mereka adalah K.H. Toha Munawar Ikhsan, K.H. Islam Tayib Abdussalam, K.H. Ismail Tayib Abdussalam, K.H. Syafi’i Ismail Tayib, K.H. Bakar Abdussalam, dan K.H. Ahmad Zuhri Bakar.
Mereka bukan sekadar bagian dari silsilah keluarga, tetapi juga penjaga tradisi mengajar, berdakwah, dan merawat nilai-nilai pesantren. Dalam kultur pesantren, keluarga berfungsi sebagai institusi sosial yang memastikan kesinambungan nilai, etika, dan keilmuan.
Sejak dahulu, santri Pondok Tengah dikenal dengan kemandiriannya. Siang hari digunakan untuk bekerja, sementara malam hari diisi dengan mengaji. Tradisi ini bukan semata lahir dari keterbatasan, melainkan menjadi bagian dari sistem pendidikan karakter.
Model ini membentuk santri yang tangguh, sederhana, dan berdaya. Kemandirian bukan hanya aspek ekonomi, tetapi juga mental melatih daya juang dan ketahanan hidup.
Hingga kini, sistem salaf dengan pengajaran kitab kuning tetap dipertahankan sebagai ruh utama pendidikan.
Di tengah perkembangan zaman, Pondok Pesantren Hidayatut Thullab tidak berhenti pada tradisi. Di bawah kepemimpinan K.H. Bahrul Munir, pesantren ini mengembangkan pendidikan formal berbasis Islamic boarding school.
Lembaga pendidikan tingkat Tsanawiyah dan Aliyah kini hadir sebagai bagian dari sistem pendidikan terpadu. Selain memperdalam ilmu agama, para santri juga dibekali pendidikan vokasi modern, termasuk penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Langkah ini menunjukkan bahwa pesantren bukan institusi yang statis. Ia mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Tradisi tetap menjadi fondasi, sementara inovasi menjadi jembatan menuju masa depan.
Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Kamulan mengajarkan satu hal penting: bahwa kekuatan pesantren terletak pada sanad yang dijaga dan tradisi yang dirawat.
Dari Sunan Wilis hingga generasi hari ini, dari Kamulan hingga Joresan, semua terhubung dalam satu mata rantai keilmuan yang tidak terputus. Sebuah warisan yang tidak hanya dikenang, tetapi terus dihidupkan.
Di situlah pesantren menemukan maknanya sebagai penjaga tradisi, sekaligus penuntun masa depan.
Apa Hubungan Sunan Wilis Kamulan dengan Kalangbret Tulungagung ? (DON/Red)
Oleh: Ahmad Dardiri Syafi’i