Redaksi

Ramadan 1447 H Berakhir, Sekretaris IPHI Jatim Ingatkan Enam Adab Silaturahmi Saat Lebaran

Published

on

TULUNGAGUNG— Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah resmi berakhir pada hari ini, Jumat (20/3/2026). Umat Muslim pun bersiap menyambut Hari Raya Idulfitri yang jatuh pada Sabtu (21/3/2026), sebagai momentum kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

Di Indonesia, khususnya di Tulungagung dan wilayah Jawa pada umumnya, Lebaran tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali persaudaraan melalui tradisi silaturahmi.

Masyarakat biasanya saling berkunjung ke rumah famili, tetangga, sahabat, hingga rekan kerja sebagai bentuk saling memaafkan dan memperkuat hubungan sosial.

Namun demikian, dalam praktiknya, silaturahmi juga perlu dilakukan dengan memperhatikan adab dan tata krama agar tetap bernilai ibadah dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan.

Sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Wilayah Jawa Timur, KH. Imam Mawardi Ridlwan, pada Jumat (20/3/2026) menuturkan bahwa terdapat enam tata krama penting yang perlu diperhatikan saat bersilaturahmi, khususnya di momen Lebaran.

“Silaturahmi itu bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari ibadah. Maka harus diawali dengan niat yang baik,” ujarnya.

Pertama, sebelum bersilaturahmi, seseorang perlu menata niat agar setiap langkahnya bernilai ibadah.
Niatkan untuk menyambung “seduluran” atau persaudaraan, mempererat pertemanan dan kekerabatan, serta memohon maaf atas segala khilaf selama ini. Selain itu, dianjurkan untuk berdoa sebelum berangkat, dengan doa yang sebisanya.

Kedua, ia menyarankan agar seseorang berangkat silaturahmi dalam kondisi sudah kenyang. Hal ini dimaksudkan agar tidak memiliki harapan terhadap hidangan dari tuan rumah.

“Kalau kemudian disuguhi, itu menjadi bonus yang patut disyukuri,” jelasnya.

Ketiga, penting untuk membuat janji terlebih dahulu sebelum berkunjung. Hal ini untuk memastikan waktu yang dipilih tidak mengganggu aktivitas atau waktu istirahat tuan rumah. Dengan demikian, kunjungan menjadi lebih nyaman bagi kedua belah pihak.

Keempat, dalam budaya masyarakat Jawa, membawa buah tangan meskipun sederhana merupakan bentuk penghormatan yang baik. Tradisi ini dinilai sebagai bagian dari tata krama yang patut dilestarikan.

Kelima, saat berada di rumah yang dikunjungi, tamu diharapkan menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan nasihat dari tuan rumah, tidak mendominasi pembicaraan, serta menghindari topik-topik berat atau yang berpotensi menyinggung perasaan menjadi hal penting dalam menjaga suasana tetap hangat dan menyenangkan.

Keenam, durasi kunjungan sebaiknya tidak terlalu lama. Hal ini agar tidak menyita waktu tuan rumah. Setelah maksud utama kunjungan tersampaikan, sebaiknya tamu segera berpamitan dengan sopan.

Lebih lanjut, Abah Imam menekankan bahwa dalam silaturahmi, ada urutan prioritas yang perlu diperhatikan.

“Yang pertama harus dikunjungi adalah kedua orang tua atau mertua. Setelah itu pakde, paman, bude dan bulik, kemudian para guru,” ungkapnya.

Ia berharap, dengan memahami dan menerapkan adab-adab tersebut, tradisi silaturahmi saat Lebaran tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga membawa keberkahan serta memperkuat nilai-nilai persaudaraan di tengah masyarakat.

Momentum Idulfitri pun diharapkan menjadi ajang untuk kembali kepada fitrah, memperbaiki hubungan antarsesama, dan mempererat ikatan sosial yang harmonis. (DON/Red)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version