Redaksi
Roti Berjamur, Pembina Yayasan Al Azhaar: Sudah Dibiayai Rp6 Juta Sehari, Jangan Rakus
TULUNGAGUNG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan setelah ditemukan makanan tidak layak konsumsi dalam paket yang dibagikan kepada siswa sekolah dasar di Tulungagung. Temuan roti berjamur dalam paket snack tersebut memicu kritik keras dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Azhaar Indonesia, KH. Imam Mawardi Ridlwan.
Kasus ini mencuat setelah media 90detik.com melaporkan adanya roti berjamur yang diterima siswa di SDN 4 Kampungdalem pada Jumat pagi (6/3/2026). Makanan tersebut merupakan bagian dari paket snack program MBG yang seharusnya mendukung pemenuhan gizi anak-anak sekolah.
Menanggapi hal itu, Imam yang akrab disapa Abah Imam menyampaikan kritik tajam terhadap para mitra penyedia makanan dalam program tersebut. Dia menilai temuan roti berjamur menunjukkan adanya kelalaian serius bahkan potensi penyimpangan dalam pelaksanaan program di lapangan.
Menurutnya, para mitra MBG seharusnya menjalankan amanah pemerintah dengan penuh tanggung jawab dan tidak mengurangi kualitas makanan yang diberikan kepada para siswa.
“Mereka para mitra BGN sudah diberi dana sewa oleh BGN setiap hari Rp6 juta. Maka tidak baik masih mengkorupsi dana jatah para murid. Jangan rakus. Belanjakan yang amanah. Jujurlah sebagai mitra BGN,” tegas Imam Mawardi Ridlwan pada Jumat (6/3).
Pihaknya menegaskan, praktik menekan biaya hingga mengorbankan kualitas makanan sangat tidak dapat dibenarkan, apalagi program tersebut menyasar anak-anak sekolah yang membutuhkan asupan gizi yang baik.
Lebih lanjut, Abah Imam meminta para kepala dapur MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap mematuhi standar belanja makanan yang telah ditetapkan pemerintah.
Dirinya mengingatkan bahwa anggaran makanan harus digunakan sesuai ketentuan, yakni Rp8.000 untuk siswa kelas kecil dan Rp10.000 untuk siswa kelas besar.
Menurutnya, kepala SPPG memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahan makanan yang diterima benar-benar layak konsumsi.
“Para Kepala SPPG harus tetap membelanjakan Rp8.000 untuk kelas kecil dan Rp10.000 untuk kelas besar. Jika mitra memberikan bahan yang kurang baik, lebih baik ditolak dan dibuat laporan khusus,” ujarnya.
Abah Imam juga menyoroti pentingnya peran pengawasan dalam pelaksanaan program MBG di daerah. Dia meminta para kepala satuan pelaksana (Kasatpel), koordinator kecamatan (Korcam), hingga koordinator wilayah (Korwil) SPPG untuk tidak ragu bersikap tegas terhadap mitra yang melanggar.
Menurutnya, program yang dirancang untuk meningkatkan gizi anak-anak bisa kehilangan tujuan jika pengawasan di lapangan lemah.
“Mitra nakal harus diberi peringatan agar program yang baik ini dapat berjalan sesuai tujuan awal,” terangnya.
Dalam pesannya yang disampaikan dari Tanah Suci pada Jumat (6/3), dia juga menegaskan bahwa aparat pengawas program tidak boleh bersikap pasif.
“Kasatpel, Korcam, dan Korwil wajib tegas. Tidak boleh lemah,” tegasnya.
Selain itu, Abah Imam juga menekankan bahwa kepala SPPG harus memiliki keberanian untuk menolak bahan makanan yang tidak layak dari mitra penyedia.
Ketegasan tersebut menjadi kunci agar kualitas makanan yang diterima siswa tetap terjaga dan program MBG benar-benar memberi manfaat bagi kesehatan anak-anak sekolah.
“Jadi Kepala SPPG harus tegas. Kalau ada mitra nakal, harus berani menolak,” pungkasnya.
Temuan roti berjamur di sekolah dasar tersebut menjadi alarm bagi pelaksanaan program MBG di daerah. Tanpa pengawasan ketat dan integritas para mitra penyedia makanan, program yang bertujuan meningkatkan gizi generasi muda berisiko tercoreng oleh praktik yang tidak bertanggung jawab. (DON/Red)
Editor: Joko Prasetyo