Politik
Ketika Modernitas Bertemu Kearifan Nusantara: Pesan Kebudayaan Mahardhika Sukarno
JAKARTA – Di tengah derasnya arus modernisasi dan penetrasi budaya global, menjaga identitas kebangsaan menjadi tantangan penting bagi Indonesia. Kemajuan teknologi dan perubahan zaman perlu berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai budaya, adab, serta karakter bangsa.
Pesan tersebut tercermin dalam pandangan Mahardhika Sukarno Putra, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, yang mengingatkan bahwa menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan adab dan kebudayaan.
“Menjadi modern tidak berarti meninggalkan adab. Cara hidup boleh berubah, teknologi boleh semakin maju, dan generasi boleh berganti. Tetapi menghormati orang lain, menjaga tata krama, menghargai perbedaan, dan memiliki tenggang rasa tidak pernah menjadi sesuatu yang ketinggalan zaman,” demikian pesan Mahardhika.
Pernyataan tersebut menarik untuk dibaca melalui perspektif Budaya Geopolitik Nusantara, yakni cara memahami posisi dan kekuatan Indonesia melalui keterkaitan antara ruang geografis, keragaman budaya, sejarah, identitas, dan kesadaran kebangsaan.
Dalam perspektif ini, kebudayaan bukan sekadar warisan tradisi atau ekspresi kesenian. Kebudayaan merupakan salah satu fondasi strategis yang membentuk karakter kolektif masyarakat sekaligus memperkuat kohesi sosial di tengah keragaman Nusantara.
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki karakter geografis dan kebudayaan yang sangat beragam. Ribuan pulau, berbagai suku, bahasa, adat istiadat, serta tradisi membentuk mozaik peradaban yang menjadi kekuatan sekaligus tantangan dalam menjaga persatuan nasional.
Karena itu, nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah, tenggang rasa, penghormatan terhadap perbedaan, dan tata krama memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar norma sosial. Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial untuk menjaga integrasi bangsa.
Dalam kajian Budaya Geopolitik Nusantara, kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh luas wilayah, kekuatan militer, sumber daya alam, dan kemampuan ekonominya. Ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yaitu kekuatan identitas dan kebudayaan.
Di tengah persaingan global, pengaruh antarnegara tidak hanya berlangsung melalui perdagangan, investasi, teknologi, dan kekuatan politik, tetapi juga melalui pertukaran nilai, gaya hidup, informasi, dan produk kebudayaan.
Dalam konteks tersebut, Indonesia membutuhkan kemampuan untuk terbuka terhadap kemajuan dunia tanpa kehilangan orientasi kebangsaannya.
Modernisasi tidak harus menghasilkan penyeragaman budaya. Sebaliknya, kemajuan seharusnya memperkuat kemampuan masyarakat Nusantara untuk mengembangkan identitasnya sendiri sekaligus berinteraksi secara setara dengan peradaban global.
Pemikiran Mahardhika tentang pentingnya menjaga adab dapat ditempatkan dalam kerangka tersebut. Sebab, masyarakat yang memiliki kesadaran budaya dan karakter kebangsaan akan mempunyai fondasi sosial yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan global.
Perspektif ini juga memiliki relevansi dengan pemikiran Bung Karno mengenai kepribadian bangsa dan Trisakti, khususnya berkepribadian dalam kebudayaan.
Kemandirian bangsa tidak cukup diwujudkan melalui kekuatan politik dan ekonomi. Indonesia juga perlu memiliki kepercayaan diri dalam menentukan arah kebudayaannya sendiri.
Artinya, bangsa Indonesia tidak harus menutup diri dari pengaruh luar, tetapi perlu memiliki kemampuan menyaring, mengadaptasi, dan mengembangkan pengaruh tersebut berdasarkan nilai-nilai kebangsaan.
Di sinilah pentingnya membangun kesadaran Budaya Geopolitik Nusantara: melihat kebudayaan sebagai kekuatan pemersatu wilayah, penjaga identitas nasional, sekaligus modal strategis dalam membangun posisi Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia.
Pada akhirnya, modernitas dan kebudayaan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Teknologi boleh berkembang, generasi boleh berganti, dan peradaban boleh bergerak maju. Namun, karakter, adab, dan kepribadian bangsa harus tetap menjadi pijakan.
Sebagaimana pesan Mahardhika, kemajuan seharusnya membuat manusia semakin beradab, bukan semakin kehilangan adab.
Sebab, Nusantara tidak hanya dipersatukan oleh batas geografis, tetapi juga oleh nilai, sejarah, kebudayaan, dan kesadaran untuk hidup sebagai satu bangsa.(By/Red)