Redaksi
Pemimpin Seperti Apa yang Sebenarnya Kita Inginkan ?

Jakarta — Pertanyaan mengenai sosok pemimpin seperti apa yang sebenarnya diinginkan masyarakat kembali menjadi bahan perenungan. Setiap era menghadirkan pemimpin dengan karakter dan gaya kepemimpinan yang berbeda. Namun, hampir setiap pemimpin selalu menghadapi kritik, pro dan kontra, serta tuntutan dari masyarakat.
Indonesia memiliki sejarah panjang dengan beragam karakter kepemimpinan. Setiap presiden membawa gaya, pemikiran, kebijakan, dan tantangannya masing-masing.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dikenal sebagai sosok orator ulung dan pemimpin yang memiliki gagasan besar tentang nasionalisme, persatuan, serta kemandirian bangsa. Karisma dan kemampuan pidatonya mampu membangkitkan semangat rakyat. Namun, masa pemerintahannya juga diwarnai berbagai persoalan politik dan ekonomi yang menjadi bagian dari perdebatan sejarah bangsa.
Soeharto dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tegas dan kemampuannya menjaga stabilitas politik dalam waktu panjang. Di bawah pemerintahannya, Indonesia mengalami pembangunan ekonomi dan infrastruktur yang signifikan. Namun, pemerintahannya juga mendapat kritik keras terkait pembatasan kebebasan berpendapat, praktik otoritarianisme, serta persoalan demokrasi dan hak asasi manusia.
Bacharuddin Jusuf Habibie memiliki latar belakang teknologi dan dikenal memiliki visi besar mengenai kemajuan Indonesia. Masa pemerintahannya yang relatif singkat berlangsung pada periode transisi penting setelah berakhirnya Orde Baru. Sejumlah langkah reformasi dilakukan, meskipun kepemimpinannya juga menghadapi berbagai tantangan politik dan tekanan dari berbagai pihak.
Sementara itu, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sering dikenang sebagai sosok sederhana, humanis, dan dekat dengan masyarakat. Ia membawa gagasan mengenai pluralisme, demokrasi, dan kebebasan. Namun, perjalanan pemerintahannya menghadapi konflik politik yang pada akhirnya berujung pada pemberhentian dirinya dari jabatan presiden.
Megawati Soekarnoputri juga memiliki karakter kepemimpinan tersendiri. Sebagai presiden perempuan pertama Indonesia, ia memimpin dalam periode pemulihan setelah gejolak politik dan ekonomi. Pendukungnya menilai Megawati memiliki sikap tegas dan konsisten, sementara kritik terhadap pemerintahannya juga menjadi bagian dari dinamika demokrasi Indonesia.
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikenal memiliki pembawaan yang tenang, komunikatif, dan berwibawa. Ia juga dikenal berhati-hati dalam mengambil keputusan. Namun, gaya tersebut tidak terlepas dari kritik. Sebagian pihak menilai pemerintahannya terlalu berhati-hati dalam menghadapi persoalan tertentu dan lamban dalam mengambil keputusan.
Joko Widodo dikenal dengan gaya kepemimpinan yang sederhana dan citra yang dekat dengan masyarakat. Pembangunan infrastruktur menjadi salah satu ciri utama pemerintahannya. Namun, di sisi lain, ia juga tidak lepas dari berbagai kritik, mulai dari persoalan kebijakan, komunikasi politik, hingga anggapan sebagian masyarakat bahwa pemerintahannya kurang tegas dalam menghadapi sejumlah persoalan.
Kini, Prabowo Subianto juga menghadapi dinamika serupa. Sosoknya dikenal tegas dan berwibawa. Pendukungnya menilai Prabowo memiliki keberanian, ketegasan, serta kepedulian terhadap persoalan sosial. Di sisi lain, kritik dan tuntutan perubahan tetap muncul dari sebagian masyarakat.
Di tingkat pemerintahan daerah, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga menjadi contoh bahwa karakter kepemimpinan yang tegas dan berorientasi pada pekerjaan tidak serta-merta membuat seorang pemimpin diterima semua kalangan. Perjalanan politiknya menunjukkan betapa kuatnya perbedaan pandangan di tengah masyarakat.
Lantas, sebenarnya pemimpin seperti apa yang kita inginkan?
Mungkin persoalannya bukan semata-mata mengenai siapa yang menjadi pemimpin. Bisa jadi, persoalannya terletak pada kecenderungan manusia untuk menuntut kesempurnaan dari sosok yang pada dasarnya juga merupakan manusia biasa.
Tidak ada manusia yang sepenuhnya sempurna. Bahkan sosok yang dianggap baik, adil, dan mulia pun tidak selalu mendapatkan penerimaan dari semua orang.
Karena itu, setiap pemimpin tentu memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Ada kebijakan yang patut diapresiasi, tetapi ada pula keputusan yang layak dikritik dan diperbaiki.
Dalam demokrasi, kritik terhadap pemimpin merupakan hal yang wajar dan penting. Namun, kritik idealnya disampaikan secara proporsional, berdasarkan fakta, serta berorientasi pada perbaikan, bukan sekadar untuk menjatuhkan.
Masyarakat juga memiliki peran penting. Tidak cukup hanya memilih pemimpin, tetapi juga perlu ikut mengawasi jalannya pemerintahan, mendukung kebijakan yang baik, menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang keliru, dan turut menjaga persatuan.
Sebab, negara tidak hanya dibangun oleh seorang presiden atau sekelompok pejabat. Negara juga dibangun oleh masyarakatnya.
Pada akhirnya, mungkin yang kita butuhkan bukanlah pemimpin tanpa kekurangan, melainkan pemimpin yang mau belajar, terbuka terhadap kritik, berani memperbaiki kesalahan, dan mampu menjalankan amanah. Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu menerima bahwa setiap pemimpin memiliki keterbatasan, sembari tetap kritis, aktif mengawasi, dan ikut memperbaiki apa yang masih kurang.
Jangan sampai keinginan mencari pemimpin yang sempurna justru membuat kita lupa bahwa kesempurnaan bukanlah milik manusia.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang terus belajar dan memperbaiki diri, sekaligus masyarakat yang bersedia menjaga, mengawasi, mengkritik, dan ikut membangun negaranya.
Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia bukan hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi juga oleh bagaimana rakyatnya ikut mengambil peran. (Red)
Oleh: Doni Saputro, Pimpinan Redaksi 90detik.com.
Editor: Joko Prasetyo.
Redaksi
Bahlil Disebut Punya Modal Politik Masuk Skenario Wapres Pengganti Gibran

Jakarta— Nama Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ikut muncul dalam spekulasi mengenai kemungkinan perubahan posisi Wakil Presiden RI.
Bahlil memiliki posisi politik yang cukup unik. Di pemerintahan, ia menjabat Menteri ESDM. Sementara di luar pemerintahan, ia memimpin Partai Golkar.
Pada Pemilu 2024, Golkar memperoleh 102 kursi DPR, atau sekitar 17,59 persen dari total 580 kursi DPR. Jumlah tersebut menempatkan Golkar sebagai salah satu kekuatan utama di parlemen.
Posisi itu menjadi salah satu faktor yang membuat nama Bahlil menarik ketika konfigurasi politik pemerintahan mulai diperbincangkan.
Pengamat politik Yuwono mengatakan posisi Bahlil memiliki dua dimensi, yakni kapasitasnya sebagai pejabat pemerintahan dan kekuatan politik yang melekat pada posisinya sebagai ketua umum partai.
“Bahlil tidak hanya membawa kapasitas personal sebagai menteri. Dia juga membawa posisi sebagai ketua umum partai dengan kekuatan parlementer yang signifikan”, ungkapnya, Kamis(1/10).
Menurut Yuwono, 102 kursi yang dimiliki Golkar merupakan modal politik, tetapi tidak serta-merta menjadi tiket menuju posisi tertentu.
“Ini modal politik, bukan tiket otomatis. Kalau terjadi perubahan konfigurasi, tetap ada proses politik dan konstitusional yang harus dilalui”, terangnya.
Selain posisi politik, rekam kerja Bahlil di sektor energi menjadi bagian lain yang dapat diperhitungkan dalam melihat perannya di pemerintahan.
Kementerian ESDM mencatat, sepanjang 2025, lifting minyak mencapai 605,3 ribu barel per hari, atau 100,05 persen dari target APBN. Capaian tersebut disebut menjadi yang pertama dalam sembilan tahun terakhir ketika lifting minyak berhasil melampaui target APBN.
Di sektor gas, produksi domestik pada 2025 disebut mampu memenuhi seluruh kebutuhan gas nasional tanpa impor LNG. Dari sekitar 5.600 BBTUD gas yang tersedia, sebanyak 3.908 BBTUD atau 69 persen dialokasikan untuk kebutuhan domestik.
Pemerintah juga menjalankan mandatori B40 sejak 1 Januari 2025. Kebijakan tersebut meningkatkan campuran biodiesel berbasis sawit menjadi 40 persen dan ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.
Di sisi lain, Kementerian ESDM melaporkan bauran energi terbarukan pada 2025 mencapai 15,75 persen, dengan kapasitas terpasang energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 15.630 MW.
Dengan demikian, rekam kerja ESDM Bahlil dapat dilihat melalui sejumlah indikator, mulai dari lifting minyak, pasokan gas domestik, implementasi B40, pengembangan EBT hingga pengelolaan cadangan energi.
Posisi politik Bahlil juga menarik perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut Bahlil bukan hanya sebagai menteri, tetapi juga sebagai mitra politik karena memimpin sebuah partai politik.
Bagi Yuwono, perpaduan antara posisi pemerintahan dan kepemimpinan partai tersebut membuat Bahlil memiliki ruang politik untuk ikut diperbincangkan dalam berbagai kemungkinan konfigurasi politik.
“Bahlil berada di persimpangan antara teknokrasi pemerintahan dan politik kepartaian. Karena itu, ketika membahas kemungkinan perubahan konfigurasi politik, namanya wajar ikut diperbincangkan”, ujarnya.
Namun, menurut Yuwono, faktor politik tersebut tetap harus dipisahkan dari proses formal pengisian jabatan Wakil Presiden.
Konstitusi telah mengatur mekanisme apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden.
Pasal 8 ayat (2) UUD 1945 menyebutkan bahwa apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden, MPR menyelenggarakan sidang paling lambat 60 hari untuk memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan Presiden.
Dengan demikian, pembicaraan mengenai figur pengganti tidak hanya berkaitan dengan siapa yang memiliki dukungan politik. Ada proses konstitusional yang harus dijalankan apabila kekosongan jabatan tersebut benar-benar terjadi.
Menurut Yuwono, jika suatu saat terjadi perubahan posisi Wakil Presiden, setidaknya terdapat dua aspek yang dapat menjadi bahan pembacaan terhadap Bahlil.
Pertama, modal politik Partai Golkar, termasuk 102 kursi yang dimiliki di DPR.
Kedua, pengalaman pemerintahan Bahlil di sektor energi, yang bersinggungan langsung dengan sejumlah isu strategis, seperti BBM, gas, biodiesel, listrik, EBT, dan ketahanan energi.
“Kalau nama Bahlil masuk dalam pembicaraan, masyarakat tentu tidak hanya melihat siapa partainya. Rekam kerjanya sebagai menteri juga menjadi bagian dari informasi yang perlu dilihat”, imbuhnya.
Dengan demikian, Bahlil dan Golkar dapat dibaca sebagai salah satu konfigurasi yang muncul dalam ruang spekulasi politik, tetapi belum merupakan pencalonan resmi.
Pada saat yang sama, posisi Bahlil sebagai figur politik dari kawasan Indonesia Timur menjadi salah satu aspek yang turut memberi warna dalam pembahasan mengenai representasi politik nasional.
Yuwono menilai, kombinasi antara kepemimpinan Partai Golkar, posisi di pemerintahan, serta latar belakang Bahlil dari Indonesia Timur membuat namanya memiliki konteks tersendiri dalam setiap pembicaraan mengenai kemungkinan perubahan konfigurasi politik nasional. (By/Red)
Redaksi
PW IPHI Jatim Siapkan Rakerwil, Fokus Perkuat Koperasi Haji dan Ekonomi Kerakyatan

Surabaya— Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Jawa Timur menindaklanjuti amanah Pengurus Pusat (PP) IPHI untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kalangan anggota.
Ketua Umum PP IPHI, Dr. Erman Suparno, menyampaikan hal tersebut dalam rapat koordinasi yang digelar di Kota Batu, Malang, pada 23 September 2026. Ia menegaskan bahwa ekonomi kerakyatan menjadi salah satu program prioritas IPHI sebagaimana diamanatkan dalam hasil Muktamar IPHI di Bali.
Menurut Erman, konsep ekonomi kerakyatan yang dikembangkan IPHI melibatkan seluruh anggota organisasi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama.
Ia menyebut konsep tersebut sebagai jalan tengah antara sistem kapitalisme yang cenderung dikuasai oleh segelintir pihak dan sosialisme yang menempatkan negara sebagai pengendali utama.
“Program PP IPHI merupakan jalan tengah atau wasathiyah yang sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945. Tujuannya untuk mewujudkan kebersamaan, gotong royong, serta berasaskan kekeluargaan dan keumatan,” ujar Erman.
Sebagai tindak lanjut arahan tersebut, PW IPHI Jawa Timur akan menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) pada Ahad, 18 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung di Lantai 11 Gedung Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kampus Lidah Wetan, Surabaya.
Sekretaris PW IPHI Jawa Timur, KH Imam Mawardi Ridlwan, mengatakan Rakerwil akan secara khusus membahas implementasi program koperasi haji dan ekonomi kerakyatan, termasuk pemberdayaan UMKM yang menjadi prioritas organisasi.
Peserta yang diundang dalam Rakerwil tersebut antara lain wakil ketua bidang ekonomi atau usaha serta ketua bidang ekonomi atau usaha dari PD IPHI se-Jawa Timur. Perwakilan Majelis Taklim Perempuan (MTP) PD IPHI juga akan dilibatkan dalam pembahasan program.
“Rakerwil PW IPHI Jawa Timur pada Oktober 2026 secara khusus membahas program koperasi dan ekonomi kerakyatan atau UMKM. Hasil Rakerwil nantinya diamanatkan untuk ditindaklanjuti oleh seluruh PD IPHI se-Jawa Timur,” jelas Imam.
Ia menambahkan, Rakerwil juga akan menghadirkan narasumber dari PP IPHI, yakni Ketua Biro Ekonomi Kerakyatan dan UMKM.
Menurut Imam, pelaksanaan program tersebut membutuhkan sinergi antara struktur organisasi di tingkat pusat, wilayah, dan daerah agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh anggota IPHI.
“Program dari PP IPHI dijalankan oleh PW IPHI dan PD IPHI agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh anggota,” pungkasnya. (DON/Red)
Redaksi
Pelunasan Utang BLBI ke BI Tak Hapus Hak Tagih Negara, Pemerintah Kejar Aset Debitur

Jakarta — Pemerintah memastikan penyelesaian utang obligasi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) kepada Bank Indonesia (BI) tidak berdampak pada hak negara untuk menagih kewajiban para debitur dan obligor BLBI.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, pelunasan kewajiban pemerintah kepada BI merupakan persoalan terpisah dari penagihan terhadap pihak-pihak yang masih memiliki kewajiban terkait program penanganan krisis ekonomi 1997–1998.
“Pelunasan ini tidak mengurangi hak tagih negara atas kewajiban dari para obligor atau debitur BLBI. Pemerintah akan terus melanjutkan penagihan kewajiban kepada debitur dan obligor tersebut,” kata Suahasil seusai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/9).
Menurut Suahasil, pemerintah telah menyelesaikan pelunasan senilai Rp218,3 triliun pada 24 Agustus. Pembayaran tersebut merupakan penyelesaian hubungan utang-piutang antara pemerintah dan BI sebagai dua lembaga negara.
Sementara itu, kewajiban hukum para obligor dan debitur BLBI kepada negara tetap berjalan. Dengan demikian, pemerintah masih memiliki dasar untuk melakukan penagihan dan mengejar aset yang berkaitan dengan kewajiban tersebut.
Setelah masa kerja Satuan Tugas BLBI berakhir pada penghujung 2024, proses penagihan kini dilanjutkan secara kelembagaan oleh Kementerian Keuangan. Pelaksanaan penagihan dilakukan melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) di bawah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN).
Pemerintah juga memperkuat mekanisme tersebut melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 4 Tahun 2026. Regulasi ini menjadi salah satu dasar hukum untuk mengoptimalkan pengembalian aset dan penyelesaian kewajiban kepada negara.
Suahasil mengatakan, pemerintah menyiapkan berbagai langkah untuk mengejar aset maupun kewajiban para debitur dan obligor. Upaya tersebut mencakup penagihan aktif hingga tindakan terhadap aset yang telah menjadi objek penanganan.
“Ada banyak cara. Jadi termasuk dalam berbagai macam bentuk ya, penagihan aktif. Kemudian teman-teman di DJKN banyak melakukan apa namanya pemancangan, penyitaan,” ujarnya.
Dalam proses tersebut, pemerintah juga melibatkan aparat penegak hukum (APH) serta sejumlah lembaga terkait untuk membantu pelacakan dan pengamanan aset yang dapat digunakan dalam penyelesaian kewajiban.
Pemerintah berharap hasil penagihan dan pengembalian aset tersebut pada akhirnya dapat masuk ke kas negara. Dana yang diterima akan dikelola melalui APBN dan digunakan untuk kepentingan masyarakat.
“Kita berharap bahwa kewajiban-kewajiban ini akan terus kita kejar. Dan kemudian kita gunakan pengembaliannya untuk betul-betul kemaslahatan masyarakat kita melalui APBN,” pungkasnya. (By/Red)
Redaksi1 minggu agoBahlil Disebut Punya Modal Politik Masuk Skenario Wapres Pengganti Gibran
Nasional1 minggu agoUang Dikumpulkan, Administrasi Disiapkan, Sidang Gatut Sunu Bongkar Pola Pengelolaan Anggaran
Jawa Timur2 minggu agoDakwah Tak Boleh Bikin Gaduh, LD PWNU Jatim Serukan Jalan Wasathiyah
Nasional2 minggu agoPeletakan Batu Pertama Masjid Bina Insan Kamil Tuban, Ikhtiar Membangun Pusat Ibadah dan Peradaban
Nasional1 minggu agoPW IPHI Jatim Fokus Kembangkan Koperhaji Al Mabrur dalam Rakerwil
Hukum2 minggu agoPemanggilan Ketiga Elim Tyu Samba oleh Polrestabes Makassar, Penyidik Periksa di Blitar
Pemerintahan1 hari ago21 Pejabat Eselon II Bergeser, Pemkab Tulungagung Tuntut Kinerja Bukan Sekadar Jabatan
Jawa Timur2 minggu agoTak Ada Kericuhan, Aksi PSHT di Madiun Berakhir Damai, Kapolres Layangkan Apresiasi










