Connect with us

Ekonomi

Anak Kelas Satu MI Tahfidz Ngelo Terima Cempe, Pendidikan Wirausaha Sejak Dini Disiapkan dari Pesisir Pantai Sine

Published

on

TULUNGAGUNG – Suasana halaman MI Tahfidz Ngelo, Kecamatan Besuki, pada Kamis (25/6), tampak berbeda.

Puluhan siswa kelas satu terlihat sumringah saat menerima seekor cempe atau anak kambing sebagai bagian dari program pendidikan berbasis kewirausahaan yang menjadi ciri khas madrasah tersebut.

Program ini menjadi penutup rangkaian kegiatan Muharroman dan tasyakuran MI Tahfidz Ngelo.

Di kawasan pesisir Pantai Sine, semangat bekerja keras dan berwirausaha telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Nilai itu diwariskan dari orang tua kepada anak-anak sejak usia dini.

Berangkat dari realitas tersebut, MI Tahfidz Ngelo mengembangkan model pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga membangun karakter mandiri melalui pengalaman nyata.

Kepala MI Tahfidz Ngelo, Ulil Abshor, mengatakan kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh lokasi sekolah, melainkan oleh keberanian menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan.

“Sejak kelas satu, anak-anak kami diberi cempe atau anak kambing untuk dipelihara di rumah. Mereka belajar merawat, memberi makan, menjaga kesehatan ternak, hingga memahami tanggung jawab atas amanah yang diberikan,” ujarnya usai kegiatan.

Menurut Ulil, proses tersebut menjadi media belajar yang sangat efektif. Anak-anak diperkenalkan pada makna usaha sejak dini, mulai dari menghadapi risiko ketika ternak sakit, mencari solusi atas berbagai persoalan, hingga membangun keberanian mengambil keputusan.

“Anak-anak belajar bahwa setiap usaha membutuhkan kesabaran, kerja keras, dan tanggung jawab. Dari pengalaman sederhana itu mereka mulai memahami nilai ekonomi sekaligus belajar tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, program tersebut juga menjadi sarana menanamkan kepedulian terhadap makhluk hidup serta membangun rasa percaya diri. Ketika kambing tumbuh sehat bahkan berkembang biak, para siswa akan merasakan hasil dari kerja keras yang mereka lakukan bersama keluarga.

Pengasuh Pesantren Al Azhaar Kedungwaru, KH Imam Mawardi Ridlwan, mengapresiasi langkah MI Tahfidz Ngelo yang berani menghadirkan pendidikan berbasis praktik.

Menurutnya, usia sekolah dasar merupakan masa emas pembentukan karakter sehingga anak perlu diberi pengalaman nyata, bukan sekadar teori.

“Usia dini adalah usia emas. MI Tahfidz Ngelo tidak berhenti pada konsep, tetapi langsung memberikan praktik. Dari situ lahir kreativitas, keberanian mengambil risiko, serta mentalitas yang ulet,” tuturnya.

Abah Imam menilai pembelajaran semacam ini akan menjadi bekal penting bagi anak-anak dalam menghadapi perubahan zaman.

Selain memperoleh pendidikan agama melalui program tahfidz, mereka juga memiliki kemampuan berpikir kreatif, mandiri, serta terbiasa menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Program pemberian cempe kepada siswa kelas satu menjadi simbol bahwa pendidikan karakter dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Anak-anak tidak hanya diajak menghafal pelajaran, tetapi juga dilatih mengelola amanah, bekerja keras, dan memahami proses sebelum memperoleh hasil.

Melalui pendekatan tersebut, MI Tahfidz Ngelo berharap mampu melahirkan generasi pesisir yang religius, produktif, dan memiliki jiwa kewirausahaan sejak usia dini.

Dari seekor anak kambing yang dirawat dengan penuh tanggung jawab, tumbuh harapan besar akan lahirnya generasi emas yang mandiri, inovatif, serta siap berkarya bagi masyarakat. (DON/Red)

Ekonomi

Rupiah Kembali ke Rp17.900, IHSG Rebound Usai Intervensi Bank Indonesia

Published

on

JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah mengalami tekanan cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona hijau.

Kondisi tersebut dinilai sebagai respons positif pasar terhadap langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), rupiah tercatat bergerak menguat ke kisaran Rp17.900 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga mendekati level psikologis Rp18.000 bahkan sempat menyentuh di atas Rp18.100 di pasar referensi.

Penguatan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena menunjukkan mulai meredanya tekanan terhadap mata uang domestik.

Di saat yang sama, IHSG juga menunjukkan tren pemulihan atau rebound setelah beberapa sesi sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam. Investor mulai kembali melakukan akumulasi saham, terutama pada sektor perbankan dan komoditas yang dinilai memiliki fundamental kuat di tengah volatilitas global.

Pemulihan pasar ini tidak terlepas dari langkah cepat Bank Indonesia yang secara mengejutkan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui rapat di luar jadwal reguler pada 9 Juni 2026.

Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Selain menaikkan suku bunga acuan, BI juga memperkuat strategi stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan pembelian surat berharga negara (SBN). Otoritas moneter juga memperluas instrumen investasi berbasis rupiah guna menjaga likuiditas pasar dan menahan arus modal keluar (capital outflow) yang sempat meningkat akibat penguatan dolar AS secara global.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dan cadangan devisa nasional berada pada level yang memadai untuk menjaga stabilitas pasar.

Menurutnya, langkah responsif diperlukan karena tekanan eksternal beberapa waktu terakhir berkembang lebih cepat dari perkiraan.

Pengamat pasar modal menilai kebijakan BI mulai memberikan dampak psikologis positif terhadap investor. Penguatan rupiah dan pergerakan IHSG yang kembali menghijau dinilai menjadi indikasi awal bahwa kepercayaan pasar mulai pulih setelah sempat dibayangi kekhawatiran terhadap pelemahan mata uang dan tingginya ketidakpastian global.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan nasional, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), ketegangan geopolitik, hingga perlambatan ekonomi global.

Di tengah dinamika tersebut, stabilisasi rupiah kembali di bawah level Rp18.000 dan rebound IHSG memberi optimisme baru bahwa pasar keuangan Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah tekanan global.

Pemerintah dan Bank Indonesia kini dihadapkan pada tantangan menjaga momentum pemulihan agar kepercayaan investor terus terjaga dalam jangka menengah. (By/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Ekonomi

Rupiah Tembus Rp18.042 per Dolar AS, Level Psikologis Rp18.000 Resmi Terlewati

Published

on

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) resmi menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Berdasarkan data Google Finance, kurs USD/IDR tercatat berada di level Rp18.042 per dolar AS pada pukul 04.35 UTC, menandai tekanan lanjutan terhadap mata uang Garuda di tengah penguatan dolar global.

Tembusnya level Rp18.000 menjadi sorotan pelaku pasar karena angka tersebut selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting dalam perdagangan valuta asing.

Kenaikan nilai dolar AS terhadap rupiah mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal sekaligus tingginya permintaan mata uang Negeri Paman Sam di pasar.

Pergerakan rupiah kali ini dinilai tidak berdiri sendiri. Sejumlah analis pasar uang menilai penguatan dolar AS masih dipicu meningkatnya minat investor terhadap aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Perlambatan ekonomi di sejumlah negara, tensi geopolitik, serta ketidakjelasan arah pemulihan ekonomi dunia membuat investor cenderung memilih aset berbasis dolar.

Selain faktor global, pelaku pasar juga masih mencermati kebijakan Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga acuan.

Ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan pada level tinggi membuat dolar tetap menjadi instrumen investasi yang menarik karena menawarkan imbal hasil kompetitif dibanding negara berkembang.

Kondisi tersebut berpotensi memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat aliran modal asing bergerak menuju aset dolar, mata uang domestik seperti rupiah biasanya mengalami tekanan.

Di dalam negeri, permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri perusahaan, hingga transaksi perdagangan internasional juga dinilai turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Ketidakseimbangan antara permintaan valuta asing dan pasokan devisa membuat pergerakan kurs menjadi lebih volatil.

Meski pelemahan rupiah sering dipandang sebagai sentimen negatif, dampaknya tidak selalu merugikan seluruh sektor ekonomi.

Pelaku usaha berbasis ekspor justru berpotensi memperoleh keuntungan karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.

Sebaliknya, industri yang bergantung pada bahan baku impor diperkirakan menghadapi kenaikan biaya produksi. Jika tekanan kurs berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak pada harga barang konsumsi, elektronik, hingga biaya logistik.

Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau volatilitas pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing, penguatan likuiditas, serta kebijakan moneter untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

Ke depan, arah pergerakan rupiah diprediksi masih akan sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi global, kebijakan The Fed, serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal yang terus berubah.(JK/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Ekonomi

Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.928 pada Perdagangan 3 Juni 2026

Published

on

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tekanan pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.

Berdasarkan data kurs USD/IDR, posisi rupiah berada di level Rp17.928,9 per dolar AS, menandai pelemahan yang masih berlanjut di tengah dinamika pasar keuangan global.

Data perdagangan menunjukkan nilai tukar rupiah mengalami perubahan harian sebesar 0,5 persen, sementara dalam periode bulanan tercatat kenaikan tekanan hingga 3,08 persen.

Secara tahunan, pelemahan rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam mencapai hampir 9,99 persen, mencerminkan tekanan yang cukup signifikan dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa mata uang Garuda masih menghadapi tantangan besar di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan indeks dolar AS, hingga sentimen pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika, Federal Reserve (The Fed).

Pelemahan rupiah umumnya dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, maupun keluarnya aliran modal asing dari pasar domestik.

Meski demikian, pelaku pasar masih menanti langkah lanjutan dari otoritas moneter, khususnya Bank Indonesia (BI), dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah fluktuasi pasar global.

Sejumlah pengamat memperkirakan intervensi pasar dan penguatan instrumen moneter tetap menjadi opsi untuk menahan tekanan yang lebih dalam terhadap rupiah.

Sementara itu, proyeksi kuartal kedua (Q2) memperkirakan kurs USD/IDR berada di kisaran Rp17.801,3 per dolar AS, meski pergerakan aktual tetap sangat dipengaruhi kondisi geopolitik global, inflasi AS, serta arus investasi asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Melemahnya rupiah berpotensi memberikan dampak pada harga barang impor, biaya produksi industri, hingga inflasi domestik.

Namun di sisi lain, kondisi tersebut dapat memberi keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor karena produk Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif di pasar internasional.(JK/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Trending