Nasional
ASIDEWI dan UIN SATU Tulungagung Teken MoU, Perkuat Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan

TULUNGAGUNG — Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) resmi menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dalam upaya memperkuat pengembangan desa wisata di Indonesia.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Gedung Prajna Paramita lantai lima UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Rabu (9/9/2026).
Penandatanganan MoU dilakukan langsung oleh Ketua ASIDEWI, Andi Yuwono, dalam rangkaian pembukaan konferensi internasional SATU ICON 2026 (Satu International Conference).
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan universitas, akademisi, delegasi, serta peserta konferensi yang mengikuti kegiatan secara langsung maupun daring.
SATU ICON 2026 diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dengan mengusung tema “Green, Blue, and Circular: An Integrated Framework for Sustainable Global Economy”.
Melalui kerja sama tersebut, ASIDEWI dan UIN SATU Tulungagung mendorong sinergi antara dunia akademik dan praktisi pariwisata dalam mendukung pertumbuhan ekonomi hijau, biru, dan sirkular. Kolaborasi ini juga diarahkan pada pemberdayaan potensi ekonomi kreatif serta pengembangan destinasi desa wisata di berbagai daerah.
Ketua ASIDEWI Andi Yuwono mengatakan, kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi langkah strategis untuk menjembatani hasil riset akademis dengan kebutuhan dan implementasi di lapangan.
Menurutnya, pengembangan desa wisata membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari asosiasi, perguruan tinggi, pemerintah, hingga masyarakat desa.
“Pengembangan desa wisata tidak bisa berjalan sendiri. Kami di ASIDEWI sangat menyambut baik sinergi dengan dunia kampus seperti UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung ini,” terang Andi Yuwono usai penandatanganan kerja sama.
Andi berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada penandatanganan MoU, tetapi dapat diwujudkan melalui berbagai program konkret dan terus dikembangkan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui kolaborasi riset, pendampingan, dan penguatan tata kelola, kami optimis desa-desa wisata di Indonesia dapat naik kelas, lebih mandiri, serta mampu menerapkan prinsip ekonomi berkelanjutan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat lokal,” tambahnya.
Pihaknya juga menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memberikan pendampingan berbasis riset. Pendampingan tersebut dapat mencakup tata kelola desa wisata, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga pengembangan potensi ekonomi kreatif yang dimiliki masyarakat desa.
Kemitraan ASIDEWI dengan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung diharapkan menjadi landasan untuk mendorong pembangunan pariwisata desa yang lebih berdaya saing, berkelanjutan, serta berwawasan lingkungan.
Ke depan, kerja sama tersebut akan diarahkan pada berbagai program, antara lain pendampingan desa wisata, riset bersama, serta pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada penguatan ekonomi berkelanjutan.
Sinergi antara akademisi dan praktisi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan desa wisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal di berbagai daerah di Indonesia. (Dri/Abd)
Jawa Timur
Ecology Policing : Polres Trenggalek Tanam Mangrove dan Lepas Liarkan Ratusan Tukik

TRENGGALEK— Kapolres Trenggalek, AKBP Rizky Tri Putra Erryka Adi Wijaya, S.I.K., M.H., didampingi Ketua Cabang Bhayangkari Trenggalek, Ny. Debie Rizky, melakukan aksi nyata penyelamatan lingkungan dengan menanam pohon mangrove dan melepasliarkan ratusan tukik (anak penyu) di Kawasan Konservasi Pantai Taman Kili-Kili, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek pada Rabu (9/9/2026).
Aksi peduli lingkungan yang digelar di sela-sela kunjungan kerja ke Mapolsek Panggul ini merupakan bagian dari implementasi Ecology Policing. Program tersebut merupakan wujud kepedulian Polri terhadap kelestarian alam sekaligus langkah strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah Kabupaten Trenggalek.
“Pelepasliaran tukik adalah bentuk nyata komitmen kami dalam menjaga kelestarian satwa laut, khususnya penyu, agar tetap dapat berkembang biak dan menjadi bagian penting dari ekosistem. Kita ketahui bersama bahwa penyu adalah pemelihara terumbu karang, dan terumbu karang adalah rumah bagi ikan-ikan di laut lepas,” jelas AKBP Rizky.
Sebagai wilayah pesisir, Kecamatan Panggul memang dikenal memiliki bentang pantai yang eksotis serta menjadi pusat konservasi penyu. Potensi alam yang besar ini dinilai menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama untuk terus dijaga, termasuk perlindungan terhadap biota laut yang dilindungi seperti penyu.
Di sisi lain, ancaman perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan gelombang tinggi kerap memicu abrasi di sepanjang bibir pantai. Kondisi dinamis inilah yang mendorong Polres Trenggalek Polda Jatim melakukan mitigasi bencana melalui penanaman pohon mangrove.
“Penanaman mangrove memiliki manfaat yang sangat besar, mulai dari mencegah abrasi pantai, menjaga habitat biota pesisir, menyerap karbon, hingga melindungi kawasan pantai dari berbagai ancaman kerusakan lingkungan,”tambah AKBP Rizky.
Kapolres Trenggalek menegaskan bahwa tugas menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) tidak lagi terbatas pada keamanan fisik semata, melainkan juga mencakup aspek kelestarian lingkungan demi masa depan generasi mendatang.
Kendati demikian lanjut AKBP Rizky, kepolisian tidak dapat berjalan sendiri dan membutuhkan sinergi dari seluruh lapisan masyarakat. Ia berharap, Ecology Policing ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjelma menjadi gerakan bersama dan budaya dalam menjaga alam.
“Hentikan membuang sampah di lautan karena sampah plastik sangat rentan mematikan penyu. Menjaga lingkungan hari ini berarti menjaga kehidupan masa depan anak cucu kita,” pungkas AKBP Rizky.
Salah satu anggota Kelompok Masyarakat (Pokmas) Konservasi Taman Kili-Kili, Eko Margono sangat menyambut baik langkah proaktif Polres Trenggalek Polda Jatim yang terjun langsung dalam pelestarian alam dan perlindungan satwa penyu.
“Kebetulan di Konservasi Penyu Taman Kili-Kili tahun ini, jenis yang bertelur dan menetas adalah penyu lekang atau penyu hijau. Hari ini, bersama jajaran Polres Trenggalek, kami melepasliarkan sebanyak 100 ekor tukik jenis penyu lekang,” urai Eko.
Eko menambahkan, perlindungan terhadap satwa ini sangat krusial mengingat ancaman perburuan liar oleh pihak tak bertanggung jawab serta tingginya predator alami di laut lepas yang mengancam populasi mereka.
“Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi aktif Polres Trenggalek. Langkah ini sangat membantu meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat agar semakin taat pada aturan pemerintah. Penyu adalah satwa yang dilindungi, dan keberadaan mereka sangat vital bagi ekosistem laut kita,” tutupnya. (DON/Red)
Nasional
Wisuda Perbanas 2026, Menteri Brian Tekankan Integritas di Tengah Disrupsi Teknologi

Jakarta — Perbanas Institute menggelar Prosesi Wisuda Tahun 2026 di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Selasa, 8 September 2026. Sebanyak 951 wisudawan dari berbagai jenjang pendidikan mengikuti prosesi wisuda yang mengusung tema “Integrity-Driven Innovation: Reimagining Business, Finance, and Digital Transformation for Sustainable Development.”
Dari total tersebut, sebanyak 111 lulusan berasal dari Program Magister Manajemen dan 54 lulusan dari Program Magister Akuntansi.
Pada jenjang sarjana, Perbanas Institute meluluskan 353 lulusan S1 Akuntansi, 295 S1 Manajemen, 20 S1 Ekonomi Syariah, 65 S1 Sistem Informasi, dan 25 S1 Teknik Informatika. Sementara itu, Program Profesi Akuntansi (PPAk) meluluskan tiga orang, sedangkan jenjang diploma terdiri atas 11 lulusan D3 Akuntansi dan 14 lulusan D3 Keuangan dan Perbankan.
Tema wisuda tahun ini menegaskan pentingnya integritas dan inovasi sebagai fondasi bagi para lulusan dalam menghadapi perubahan di dunia bisnis, keuangan, teknologi, dan industri. Perbanas Institute berharap para lulusan mampu memberikan kontribusi nyata bagi dunia usaha, masyarakat, serta pembangunan berkelanjutan.
Rektor Perbanas Institute, Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec., mengatakan para lulusan harus memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, termasuk menghadapi perkembangan teknologi informasi serta kebutuhan dunia usaha dan industri.
Menurut Hermanto, penguatan pemanfaatan teknologi informasi dan relevansi kurikulum menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan agar mampu menghadapi dinamika lingkungan profesional.
Prosesi wisuda turut dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. Dalam orasi ilmiahnya, Brian menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diiringi kreativitas, kemampuan beradaptasi, keberanian berinovasi, serta karakter dan integritas.
“Kita membutuhkan generasi yang cukup kreatif untuk menghadapi perubahan, cukup adaptif untuk menghadapi ketidakpastian, berani untuk mencoba sesuatu yang baru, tetapi juga cukup berintegritas dan mengetahui mana yang benar ketika dunia menawarkan begitu banyak jalan pintas,” ujar Brian Yuliarto.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III Jakarta, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk melahirkan lulusan berkualitas sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia.
Ia juga mendorong agar riset perguruan tinggi tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dikembangkan menjadi prototipe, produk, dan solusi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui Wisuda Tahun 2026, Perbanas Institute berharap 951 lulusan mampu membawa semangat Integrity-Driven Innovation dalam perjalanan profesional mereka. Integritas menjadi prinsip dalam mengambil keputusan, sementara inovasi menjadi kekuatan untuk menghadapi perubahan dan menciptakan solusi baru bagi dunia bisnis, keuangan, teknologi, serta pembangunan berkelanjutan. (By/Red)
Nasional
Massa KONI Geruduk Kantor Wali Kota Minta Anggaran Cair, Pj Sekda Tegaskan Hal Ini

BLITAR – Polemik antara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Blitar dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar terus memanas.
Massa yang terdiri dari insan olahraga dan pengurus cabang olahraga (cabor) menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD dan Kantor Wali Kota Blitar pada Senin (7/9) menuntut kepastian pencairan anggaran pembinaan.
Aksi yang dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Ketua KONI Kota Blitar, Elim Tyu Samba, tersebut menyoroti dua persoalan utama, realisasi anggaran hibah yang dinilai molor dan penutupan kantor KONI yang disebut menghambat koordinasi.
Namun, di balik desakan massa, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Blitar, Tri Iman Prasetyono, justru mengungkap bahwa permasalahan yang terjadi jauh lebih kompleks dari sekadar soal pencairan dana.
Berpakaian atribut olahraga, puluhan massa yang tergabung dalam KONI dan sejumlah cabor memulai aksi dari halaman Kantor KONI di Jalan Cokroaminoto Nomor 34, kemudian berjalan kaki menuju DPRD Kota Blitar sebelum akhirnya tiba di Kantor Wali Kota Blitar. Rute aksi tersebut telah diberitahukan terlebih dahulu kepada pihak kepolisian.
Di hadapan para peserta aksi, Elim Tyu Samba menyampaikan tuntutan tegas. Menurutnya, anggaran pembinaan olahraga yang sudah dialokasikan dalam APBD harus segera direalisasikan agar program latihan dan pembinaan atlet tidak terganggu.
“Terserah, mau anggaran tersebut ditaruh di Dispora atau KONI, yang penting segera direalisasikan. Kami sangat menunggu anggaran itu supaya cabor bisa melakukan rutinitas pembinaan atlet,” ujarnya.
Elim juga menyoroti belum dibukanya kembali Kantor KONI yang menurutnya menjadi pusat koordinasi antara pengurus dan cabor.
Ia mengaku telah tiga kali melayangkan surat kepada Pemkot Blitar sejak ditunjuk sebagai Plt, namun hingga kini belum mendapat respons yang memuaskan.
“Sudah tiga kali saya kirim surat, tetapi belum ada respons. Saya juga sudah ditetapkan oleh KONI Jawa Timur. Muskot juga sudah dilakukan,” tegasnya.
Meski Wali Kota Blitar tidak menemui massa secara langsung, aspirasi tersebut tetap disampaikan dengan harapan pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret.
Menanggapi aksi tersebut, Pj Sekda Kota Blitar Tri Iman Prasetyono turun langsung menemui perwakilan massa. Ia membantah anggapan bahwa Pemkot sengaja menghambat pembinaan olahraga.
Menurutnya, pemerintah daerah memiliki komitmen tinggi terhadap pengembangan prestasi atlet, namun semua proses harus mengikuti aturan yang berlaku.
“Tidak pernah menghalang-halangi dan tidak pernah intervensi. Kami hanya berpandangan bahwa karena ini proses administrasi negara tentang keuangan dan barang milik daerah, maka harus legal dan sah. Hanya itu saja,” jelasnya di hadapan para peserta aksi.
Tri Iman mengungkapkan, ada tiga persoalan mendasar yang membuat pencairan anggaran KONI tertahan. Pertama, mekanisme hibah yang mengharuskan seluruh persyaratan administrasi terpenuhi sebelum dana daerah dapat dicairkan. Kedua, status dan kewenangan Plt Ketua KONI yang dinilai masih menjadi ganjalan hukum. Ketiga, penggunaan aset kantor KONI yang merupakan milik pemerintah daerah.
“Bukan berarti pemerintah kota tidak mau merealisasikan anggaran. Ini berkaitan dengan aturan hibah, sehingga seluruh persyaratan dan mekanismenya harus dipenuhi,” tegasnya.
Salah satu pokok persoalan yang diangkat Pemkot adalah legalitas Elim Tyu Samba sebagai Plt Ketua KONI Kota Blitar. Tri Iman menjelaskan, berdasarkan surat dari KONI Provinsi Jawa Timur, tugas Plt terbatas pada menjalankan kegiatan rutin organisasi dan menyelenggarakan Musyawarah Olahraga Kota Luar Biasa (Musorkotlub).
Menurutnya, persoalan muncul ketika Plt harus menandatangani dokumen hibah dan perjanjian peminjaman aset yang memiliki konsekuensi hukum jangka panjang hingga puluhan tahun ke depan. Pemkot menilai, kewenangan tersebut hanya dapat dijalankan oleh ketua definitif yang terpilih melalui mekanisme organisasi yang sah.
“Penandatanganan aset ini bukan kegiatan sehari-hari, karena tanggung jawabnya itu sampai dua puluh tahun yang akan datang,” jelas Tri Iman.
Selain anggaran, polemik juga menyangkut keberadaan Kantor KONI yang hingga kini belum dibuka. Tri Iman menegaskan bahwa bangunan tersebut merupakan aset milik Pemerintah Kota Blitar yang penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan pengelolaan barang milik daerah.
Pemkot memastikan setiap pemanfaatan aset memiliki dasar hukum yang jelas agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Untuk memutus rantai polemik, Pemkot Blitar mendorong agar Musorkotlub KONI segera dilaksanakan guna memilih ketua definitif. Tri Iman menyatakan, pemerintah daerah siap memfasilitasi jalannya musyawarah tersebut tanpa intervensi apa pun.
“Kalau misalnya Musorkotlub seminggu lagi dilakukan, kemudian terpilih ketua definitif, sudah langsung dilakukan. Tetapi perjanjiannya baru, perjanjian hibah dengan ketua yang baru dan perjanjian peminjaman aset dengan ketua yang baru,” jelasnya.
Ia menegaskan, Pemkot akan menghormati siapa pun yang terpilih sebagai Ketua KONI definitif selama prosesnya sah dan sesuai mekanisme organisasi.
Di tengah perbedaan pandangan, Tri Iman memastikan bahwa pembinaan atlet tetap dapat berjalan melalui masing-masing cabang olahraga, klub, dan sasana.
Pemkot memiliki komitmen terhadap pengembangan olahraga prestasi, namun setiap dukungan yang bersumber dari APBD harus disalurkan dengan mekanisme yang sesuai ketentuan.
“Sepanjang Ketua KONI itu definitif dan diakui sah secara hukum untuk menerima hibah dan peminjaman aset, kami tidak masalah,” tegasnya.
Kini, polemik yang melibatkan KONI dan Pemkot Blitar menunjukkan dua sisi yang sama-sama memiliki dasar kuat. Di satu sisi, KONI dan insan olahraga mendesak kepastian agar program pembinaan tidak terhambat.
Di sisi lain, Pemkot berkewajiban memastikan setiap penggunaan uang dan aset daerah memiliki kepastian hukum yang jelas.
Penyelesaian persoalan ini kini mengarah pada satu agenda penting, terpilihnya Ketua KONI definitif melalui Musorkotlub.
Jika kepengurusan definitif terbentuk dan seluruh persyaratan administrasi terpenuhi, Pemkot Blitar menyatakan siap menyalurkan dukungan anggaran dan pemanfaatan aset sesuai aturan yang berlaku.
Publik olahraga pun menantikan langkah nyata agar pembinaan atlet di Kota Blitar tidak terus terkatung-katung dalam ketidakpastian. (JK/Red)
Editor: Joko Prasetyo
Nasional1 minggu agoPolres Sumba Tengah Klarifikasi 104 Kuda di Mamboro, Belum Ada Kesimpulan Penyelundupan
Nasional6 hari agoBupati Tulungagung Non Aktif, Seret Nama Makrus; Ancam Bui-kan Saksi “Karangan” KPK
Redaksi6 hari agoGatut Sunu Bantah Peras Pejabat, Saksi KPK Diancam Dilaporkan Jika Beri Keterangan Palsu
Redaksi2 minggu agoKetika Perayaan Desa Berhadapan dengan Hak atas Akses Darurat
Jawa Timur2 minggu agoGus Kikin dan Gus Yahya Masuk Babak Persaingan Baru
Pendidikan1 minggu agoBedah “Negara Hukum Berwatak Pancasila”, FH UNDIP Pertanyakan Arah Hukum Indonesia
Redaksi2 minggu agoDeadline 15 Desember: RUU Perampasan Aset Tak Disahkan, Pimpinan DPR Siap Mundur
Redaksi2 minggu agoMUI Tulungagung Keluarkan Peringatan Keras Peringatan HUT RI: Sound Horeg Jangan Dipakai












