Connect with us

Nasional

Nusantara dan Krisis Peradaban Modern

Published

on

Surabaya— Di tengah ledakan teknologi, perang data, dan perebutan pengaruh global yang semakin agresif, dunia sesungguhnya sedang memasuki fase krisis yang jauh lebih besar daripada sekadar konflik ekonomi atau ketegangan geopolitik biasa. Dunia sedang menghadapi krisis arah peradaban.

Abad ke-21 melahirkan kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan berkembang pesat, teknologi digital mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, dan arus informasi bergerak melampaui batas negara dalam hitungan detik. Namun di balik percepatan itu, dunia juga menghadapi paradoks besar: kemajuan teknologi tumbuh jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan moralitas, kebijaksanaan, dan kesadaran kemanusiaan.

Hari ini, kekuatan global tidak lagi hanya ditentukan oleh tank, misil, atau luas wilayah, tetapi oleh penguasaan teknologi, data, energi, rantai pasok industri, dan kemampuan membentuk opini publik melalui algoritma digital.

Platform teknologi raksasa perlahan menjadi pusat kekuasaan baru dunia. Algoritma bukan lagi sekadar alat membaca perilaku manusia, tetapi mulai memengaruhi cara masyarakat berpikir, memilih, bahkan memahami realitas.

Dalam situasi seperti itu, kolonialisme modern pun berubah wajah.

Jika kolonialisme lama hadir melalui pendudukan wilayah secara fisik, maka kolonialisme abad ke-21 bekerja melalui ketergantungan teknologi, dominasi data, kontrol finansial global, penetrasi budaya digital, serta penguasaan rantai nilai ekonomi dunia.

Negara yang gagal membangun kemandirian teknologi, ketahanan energi, kedaulatan pangan, dan kekuatan industrinya sendiri perlahan akan berubah hanya menjadi pasar sekaligus objek eksploitasi dalam sistem global yang kompetitif dan tidak sepenuhnya netral.

Indonesia berada tepat di tengah pusaran perubahan besar tersebut.

Secara geopolitik, Nusantara merupakan salah satu kawasan paling strategis di dunia. Jalur laut Indonesia menjadi penghubung utama perdagangan internasional dan kawasan Indo-Pasifik. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya strategis mulai dari nikel, timah, gas, batu bara, panas bumi, hingga potensi energi hijau yang menjadikannya bagian penting dalam perebutan ekonomi masa depan dunia.

Namun sejarah menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya tidak otomatis melahirkan kedaulatan.

Banyak negara kaya sumber daya justru terjebak dalam ketergantungan struktural karena gagal membangun kekuatan teknologi, kapasitas industri, kualitas pendidikan, dan visi peradabannya sendiri. Negara yang hanya mengekspor bahan mentah tanpa menguasai teknologi akan selalu berada di lapisan bawah ekonomi global.

Di titik inilah Indonesia menghadapi tantangan sejarahnya yang paling menentukan.

Persoalan terbesar Indonesia hari ini bukan hanya pertumbuhan ekonomi atau stabilitas politik jangka pendek, melainkan bagaimana bangsa ini menjaga arah sejarahnya di tengah tekanan global yang semakin kuat. Demokrasi berkembang secara prosedural, tetapi sering kehilangan kedalaman etika dan orientasi kebangsaan.

Pendidikan tumbuh secara kuantitatif, tetapi belum sepenuhnya melahirkan manusia yang memiliki daya pikir strategis, keberanian intelektual, dan kesadaran sejarah yang kuat. Politik terlalu sering bergerak dalam logika elektoral lima tahunan, sementara pengaruh oligarki ekonomi dan manipulasi digital semakin dominan membentuk ruang publik nasional.

Indonesia tampak bergerak maju, tetapi masih terus mencari jawaban tentang untuk apa kemajuan itu dibangun.

Dalam konteks inilah gagasan Geopolitik Nusantara Modern menemukan relevansinya.

Gagasan ini bukan romantisme masa lalu dan bukan pula glorifikasi simbolik terhadap kejayaan Nusantara. Geopolitik Nusantara Modern adalah upaya membangun paradigma strategis Indonesia yang berakar pada realitas geopolitik kontemporer sekaligus bertumpu pada kesadaran peradaban bangsa sendiri.

Fondasi filosofisnya bertumpu pada konsep bayu, bumi, dan buana.

Bayu adalah kesadaran hidup bangsa: moralitas, arah sejarah, energi kebudayaan, dan karakter nasional yang menjaga bangsa agar tidak kehilangan jati dirinya di tengah arus globalisasi. Bangsa yang kehilangan bayu akan kehilangan orientasi sejarahnya sendiri.

Bumi adalah ruang kedaulatan nyata: tanah, laut, pangan, energi, industri, data nasional, sumber daya strategis, serta seluruh fondasi material yang menopang keberlangsungan negara. Dalam geopolitik modern, penguasaan bumi tidak lagi hanya berarti wilayah fisik, tetapi juga penguasaan teknologi, infrastruktur digital, energi masa depan, dan rantai pasok strategis dunia.

Sementara buana adalah arena besar geopolitik global tempat negara-negara bertarung memperebutkan pengaruh, teknologi, pasar, sumber daya, dan masa depan peradaban. Di dalam buana itulah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, perang data, perlombaan kecerdasan buatan, hingga perebutan dominasi Indo-Pasifik berlangsung secara terbuka.

Dalam perspektif ini, bangsa yang kehilangan kendali atas buminya akan kehilangan kedaulatannya. Bangsa yang gagal membaca buana akan mudah terseret menjadi objek dalam pertarungan global. Dan bangsa yang kehilangan bayu akan perlahan kehilangan arah masa depannya sendiri.

Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya menjadi negara berkembang yang mengejar pertumbuhan ekonomi statistik. Indonesia harus membangun dirinya sebagai negara-peradaban yang memiliki kemampuan menjaga keseimbangan antara teknologi, kekuasaan, kemanusiaan, dan keberlanjutan alam.

Untuk mencapai itu, terdapat beberapa agenda strategis yang tidak bisa lagi ditunda.

Pertama, membangun kedaulatan teknologi nasional. Penguasaan kecerdasan buatan, keamanan siber, pusat data nasional, semikonduktor, dan industri digital harus dipandang sebagai bagian dari pertahanan negara dan masa depan geopolitik Indonesia.

Kedua, mereformasi pendidikan menjadi pendidikan peradaban. Pendidikan nasional tidak cukup hanya menghasilkan tenaga kerja administratif, tetapi harus melahirkan manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, penguasaan sains dan teknologi, kesadaran sejarah, serta tanggung jawab kebangsaan.

Ketiga, membangun ekonomi strategis berbasis penguasaan rantai nilai global. Hilirisasi sumber daya alam harus disertai penguatan riset, inovasi, dan industrialisasi agar Indonesia tidak terus berada di posisi pinggiran dalam ekonomi dunia.

Keempat, memperkuat geopolitik kebudayaan sebagai soft power Indonesia. Kebudayaan tidak boleh dipahami hanya sebagai simbol folklor, tetapi sebagai sumber nilai, identitas, dan kekuatan strategis bangsa di tengah persaingan global.

Kelima, menjaga demokrasi dari dominasi oligarki dan manipulasi digital. Demokrasi yang sehat hanya dapat tumbuh jika ruang publik tetap kritis, rasional, dan tidak sepenuhnya dikendalikan oleh modal maupun propaganda algoritma.

Keenam, memperkuat orientasi maritim dan geopolitik Indo-Pasifik. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia harus memandang laut sebagai ruang strategis pemersatu ekonomi, pertahanan, dan pengaruh geopolitik nasional.

Namun seluruh strategi tersebut pada akhirnya bergantung pada satu hal paling mendasar: apakah Indonesia masih memiliki bayu kebangsaannya sendiri.

Sebab ancaman terbesar sebuah bangsa bukan hanya invasi militer atau tekanan ekonomi asing, melainkan hilangnya kemampuan memahami dirinya sendiri. Ketika bangsa kehilangan arah moral, kehilangan kesadaran sejarah, dan kehilangan keberanian menentukan jalan masa depannya sendiri, maka pada saat itulah kemerdekaan perlahan berubah hanya menjadi formalitas administratif di tengah dominasi sistem global.

Pada akhirnya, pertarungan terbesar abad ini bukan sekadar tentang siapa yang paling kaya atau paling kuat, melainkan siapa yang mampu menjaga keseimbangan antara teknologi, kekuasaan, kemanusiaan, dan alam.

Di tengah dunia yang semakin cepat, bising, dan penuh perebutan pengaruh, mungkin di situlah Nusantara menemukan makna barunya: bukan sebagai nostalgia masa lalu, melainkan sebagai kesadaran strategis bahwa peradaban yang kehilangan jiwa, moralitas, dan keseimbangan dengan alam pada akhirnya akan runtuh oleh kemajuannya sendiri. (Red)

Oleh: Bayu Sasongko, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara

Nasional

SPPG Bago 04 Klarifikasi Polemik Menu MBG di SDN 1 Tamanan, Sebut Foto yang Beredar Tak Mewakili Menu Asli

Published

on

TULUNGAGUNG — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bago 04 memberikan klarifikasi terkait pemberitaan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Tamanan, Kabupaten Tulungagung, yang sebelumnya menjadi sorotan publik.

Dalam keterangan resminya, Kepala SPPG Bago 04, Ravi Febrian Trinugroho menyatakan bahwa foto menu makanan yang beredar di media tidak menggambarkan menu yang sebenarnya didistribusikan kepada peserta didik pada hari tersebut.

Pihaknya menjelaskan, berdasarkan data produksi dan distribusi yang dimiliki, komposisi makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat berbeda dengan isi makanan yang terlihat dalam foto yang beredar.

“Foto tersebut tidak dapat dijadikan sebagai representasi menu MBG yang didistribusikan oleh SPPG pada hari tersebut,” terangnya kepada 90detik.com Kamis(6/8).

Selain itu, Ravi menyebut makanan pada foto telah dipindahkan dari ompreng atau wadah resmi Program MBG ke wadah makan lain. Menurut mereka, kondisi tersebut membuat susunan makanan tidak lagi sama seperti saat diserahkan kepada siswa.

Ravi juga mengingatkan bahwa sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN) dan arahan Dinas Kesehatan, makanan Program Makan Bergizi Gratis dikonsumsi di lingkungan sekolah dan tidak diperkenankan dibawa pulang. Aturan tersebut diterapkan untuk menjaga keamanan pangan, mempertahankan kualitas makanan, serta memastikan makanan dikonsumsi dalam kondisi yang masih memenuhi standar keamanan pangan.

Lebih lanjut, pihak SPPG menjelaskan bahwa pemindahan makanan ke wadah lain berpotensi menyebabkan kontaminasi silang (cross contamination) antarbahan makanan sehingga dapat mengubah tampilan maupun kualitas penyajian.

Sebagai contoh, pada foto yang beredar terlihat buah kelengkeng ditempatkan dalam satu ruang yang sama dengan olahan tahu. Menurut SPPG, pada saat proses distribusi setiap komponen menu telah disusun secara terpisah sesuai standar penyajian, sehingga pencampuran tersebut tidak mencerminkan kondisi makanan saat diterima oleh siswa.

“Kondisi tersebut dapat mengubah tampilan, cita rasa, dan persepsi terhadap kualitas makanan, sehingga tidak mencerminkan kondisi asli menu pada saat diserahkan oleh SPPG kepada penerima manfaat,” jelasnya.

SPPG Bago 04 menegaskan pihaknya tetap berkomitmen menjalankan penyediaan makanan sesuai standar operasional yang ditetapkan Badan Gizi Nasional, mulai dari proses produksi, pengemasan hingga distribusi kepada peserta didik.

Di sisi lain, SPPG menyatakan terbuka terhadap berbagai masukan dan evaluasi dari masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan Program Makan Bergizi Gratis.

“Kami senantiasa terbuka terhadap evaluasi dan masukan yang konstruktif guna meningkatkan kualitas pelayanan Program Makan Bergizi Gratis,” tutupnya.

Melalui klarifikasi ini, SPPG Bago 04 berharap masyarakat memperoleh informasi yang utuh, berimbang, dan sesuai dengan kondisi sebenarnya terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di SDN 1 Tamanan. (DON/Red)

Continue Reading

Jawa Timur

Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar, Rijanto Ajak Warga Perkuat Gotong Royong Demi Blitar Berdaya dan Berjaya

Published

on

BLITAR – Bupati Blitar Rijanto menegaskan pembangunan Kabupaten Blitar tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik semata.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) harus berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur agar cita-cita mewujudkan Kabupaten Blitar yang berdaya, sejahtera, dan berjaya dapat tercapai.

Penegasan tersebut disampaikan Rijanto saat Prosesi Pisowanan Agung dalam rangka Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar yang digelar di Pendapa Ronggo Hadi Negoro (RHN), Rabu (5/8/2026).

Prosesi adat tahunan itu menjadi puncak peringatan hari jadi daerah sekaligus simbol rasa syukur masyarakat dan pemerintah atas perjalanan Kabupaten Blitar yang kini memasuki usia ke-702 tahun.

Bupati Blitar Rijanto, saat menyampaikan sambutan Pisowananan Agung Hari Jadi Ke 702, (dok/JK).

Mengusung tema “Manggih Raharja Blitar Kuncoro”, Pemerintah Kabupaten Blitar memaknai peringatan hari jadi tahun ini sebagai tekad untuk mewujudkan masyarakat yang semakin sejahtera serta daerah yang semakin maju dan dikenal luas.

“Berdaya berarti masyarakat memiliki kemampuan, kesempatan, dan kemandirian untuk berkembang. Sedangkan berjaya berarti hasil pembangunan benar-benar dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Karena itu pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas SDM harus berjalan beriringan,” ujarnya.

Menurutnya, tema tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan melalui semangat, kerja keras, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat yang dituangkan dalam pelaksanaan visi dan misi pembangunan daerah.

“Semuanya membutuhkan proses. Diawali dari semangat, cita-cita, dan idealisme yang diwujudkan dalam kerja keras serta gotong royong. Jika itu bisa terealisasi, kami berharap masyarakat Kabupaten Blitar semakin sejahtera, hidup nyaman, aman, dan tenteram,” katanya.

Rijanto mengungkapkan, berbagai indikator pembangunan Kabupaten Blitar menunjukkan tren positif sepanjang 2025 hingga 2026.

Angka kemiskinan berhasil ditekan menjadi 7,57 persen, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,06 persen, sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 74,43.

Di sektor infrastruktur, tingkat kemantapan jalan kabupaten juga mengalami peningkatan dari 79,70 persen menjadi 80,74 persen pada 2026.

Pemerintah Kabupaten Blitar telah melaksanakan pemeliharaan berkala jalan hotmix sepanjang 69,23 kilometer, peningkatan jalan beton 4,37 kilometer, pelebaran jalan 2,78 kilometer, serta pemeliharaan rutin pada 108 ruas jalan.

Selain itu, pembangunan Jalur Pantai Selatan (Pansela) di wilayah Kabupaten Blitar juga terus mengalami kemajuan. Dari total panjang 62,56 kilometer, ruas yang telah terbangun mencapai 38,63 kilometer atau sekitar 61,75 persen. Meski demikian, ia menegaskan berbagai capaian tersebut bukan alasan untuk berpuas diri.

“Prestasi yang kita raih merupakan kado bagi Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar. Namun saya mengajak seluruh masyarakat untuk tidak terlena karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama agar pembangunan benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Rijanto juga mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi dan semangat gotong royong untuk mendukung berbagai program strategis nasional, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta program ketahanan pangan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan dan persatuan menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak yang akan digelar pada 23 November 2026 di 30 desa yang tersebar di 17 kecamatan.

“Mari kita sukseskan Pilkades dengan menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, persatuan, dan semangat demokrasi yang bermartabat. Jangan sampai perbedaan pilihan memecah persaudaraan yang telah kita bangun bersama,” ujarnya.

Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar tidak hanya diisi Prosesi Pisowanan Agung, tetapi juga berbagai kegiatan seni dan hiburan untuk masyarakat di kawasan Alun-alun Kanigoro dan Kantor Bupati Blitar.

Rijanto menyebut salah satunya adalah pertunjukan Dramasoka, yang turut melibatkan dirinya bersama Wakil Bupati Blitar.

Selain itu, masyarakat juga akan disuguhi pagelaran Seni Tiban pada 6 dan 9 Agustus serta konser penyanyi Happy Asmara pada 7 Agustus, disertai sejumlah agenda hiburan lainnya.

Prosesi Pisowanan Agung turut dihadiri Wali Kota Blitar, mantan Bupati Blitar Herry Noegroho, jajaran Forkopimda, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala desa, lurah, serta tamu undangan lainnya.

Pada akhir acara, Pemerintah Kabupaten Blitar juga menyerahkan penghargaan kepada para pemenang Kirab Hurub Hambangun Praja sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan semangat gotong royong masyarakat dalam memeriahkan Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar.

Kecamatan Talun berhasil meraih Juara I, disusul Kecamatan Nglegok sebagai Juara II, dan Kecamatan Wonodadi sebagai Juara III.(JK/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Nasional

Darah Juara dari Tulungagung! Saat Brigjen Rubintoro Harumkan Polri, Sang Keponakan Taklukkan Piala Kapolri 2026 Meski Berdarah di Lapangan

Published

on

TULUNGAGUNG – Prestasi membanggakan kembali lahir dari Desa Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Setelah Brigjen Pol. Rubintoro Suhada, S.I.K., M.H., sukses mengukir karier gemilang hingga dipercaya menyandang pangkat Brigadir Jenderal Polisi di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), kini nama keluarganya kembali mencuri perhatian melalui prestasi di dunia olahraga.

Keponakan Brigjen Rubintoro, Nafla Berly Syakira Alhabsy, tampil sebagai salah satu talenta muda bulu tangkis Indonesia yang terus menunjukkan perkembangan luar biasa.

Atlet binaan PB Djarum itu sukses mempersembahkan gelar Juara Piala Kapolri 2026 nomor tunggal pemula putri, setelah sebelumnya juga menjuarai Thailand Junior International Series 2025.

Gelar juara Piala Kapolri diraih Nafla usai menumbangkan unggulan pertama, Mikha Ribka Kasalang, pada partai final yang mempertemukan dua atlet PB Djarum. Bermain penuh percaya diri, Nafla menuntaskan pertandingan dalam dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-12.

Keberhasilan tersebut menjadi lebih istimewa karena diraih dalam kondisi yang jauh dari ideal. Nafla harus bertanding dengan cedera pada lutut yang kembali mengeluarkan darah setelah ia terjatuh di tengah pertandingan. Namun rasa sakit tak mampu menghentikan tekadnya untuk membawa pulang gelar juara.

“Sebelum pertandingan lutut saya memang sedang terluka dan sempat berdarah lagi saat tadi terjatuh. Tetapi, saya mencoba untuk tetap tampil maksimal di final ini,” ujar Nafla seusai laga di GOR Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Pada gim pertama, Nafla sempat tertinggal dari lawannya. Namun perubahan strategi selepas interval membuat permainannya semakin stabil. Dengan tampil lebih tenang, disiplin, dan minim kesalahan, ia mampu membalikkan keadaan sebelum akhirnya mendominasi gim kedua.

“Pastinya senang sekali bisa juara di kategori pemula. Di game pertama saya sempat tertinggal, setelah interval saya coba lebih tenang, fokus, dan terus bermain safe. Pola ini saya terapkan sampai game kedua hingga akhirnya saya bisa menang,” terangnya kepada 90detik.com Rabu(5/8).

Kemenangan atas Mikha juga memperpanjang catatan positif Nafla. Sebelumnya, ia telah mengalahkan lawan yang sama pada ajang HYDROPLUS Sirkuit Nasional B Kalimantan Timur 2026.

Meski telah mengoleksi sejumlah gelar bergengsi, Nafla memilih tetap membumi. Baginya, kemenangan bukanlah garis akhir, melainkan awal untuk bekerja lebih keras menghadapi turnamen-turnamen berikutnya.

“Target ke depannya pasti ingin juara lagi di turnamen-turnamen berikutnya. Setelah ini harus terus berlatih, tidak boleh terlena hanya karena sudah juara,” tegasnya.

Kesuksesan Brigjen Pol. Rubintoro Suhada yang mengabdi hingga mencapai jajaran Perwira Tinggi Polri, serta prestasi Nafla Berly Syakira Alhabsy di level nasional maupun internasional, menjadi gambaran nyata bahwa putra-putri Tulungagung memiliki kemampuan bersaing di berbagai bidang.

Satu keluarga, dua jalur pengabdian berbeda. Yang satu mengharumkan nama bangsa melalui dedikasi di institusi kepolisian, sementara yang lain mengibarkan prestasi Indonesia lewat lapangan bulu tangkis.

Keduanya menjadi kebanggaan Tulungagung sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk terus bermimpi, bekerja keras, dan berprestasi tanpa mengenal kata menyerah. (DON/Red)

Continue Reading

Trending