Connect with us

Redaksi

Akar Sejarah: Dari Kalangbret ke Kamulan

Published

on

TULUNGAGUNG— Pondok Pesantren Hidayatut Thullab (Pondok Tengah) dan Darissulaimaniyah (Pondok Lor/Utara) di Desa Kamulan, Trenggalek, merupakan representasi penting dari jaringan ulama Mataraman yang terbentuk melalui migrasi bangsawan-santri sejak akhir abad ke-18.

Dalam konteks ini, sosok Sunan Wilis tidak dapat dipisahkan dari simpul sejarah yang lebih luas termasuk keterkaitannya dengan Kalangbret di Tulungagung.

Tulisan ini berupaya menelusuri keterhubungan tersebut melalui pendekatan historiografi lokal, yang memadukan tradisi lisan, genealogi keluarga, serta pembacaan kontekstual atas dinamika politik Jawa pasca-runtuhnya hegemoni Mataram Islam dan dampak Perang Jawa (1825–1830).

Jejak historis Sunan Wilis bermula dari figur Ki Bagus Mukmin, seorang bangsawan Mataram yang dalam tradisi lokal diyakini memiliki hubungan kekerabatan dengan lingkar dalam keraton pada masa Pakubuwana II atau III. Ki Bagus Mukmin dimakamkan di Kalangbret, Tulungagung sebuah situs yang hingga kini menjadi penanda penting jaringan awal dakwah Islam di kawasan Mataraman.

Dari Kalangbret inilah garis genealogis dan spiritual berlanjut kepada putranya, Kyai Ahmad Yunus atau Sunan Wilis. Jika Kalangbret dapat dipahami sebagai titik asal genealogis, maka Kamulan adalah titik ekspansi dakwah.

Sekitar tahun 1790 M, Sunan Wilis membuka hutan (babat alas) di wilayah Kamulan dan mendirikan Pondok Pesantren Hidayatut Thullab. Peristiwa ini bukan sekadar pembukaan lahan fisik, tetapi juga pembentukan ruang sosial baru: dari wilayah yang sebelumnya bercorak kekuasaan lama menjadi pusat spiritual dan pendidikan Islam.

Keterkaitan Sunan Wilis dengan Kalangbret tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga simbolik. Kalangbret menjadi representasi kesinambungan antara tradisi aristokrasi Mataram dan transformasinya ke dalam bentuk otoritas religius.

Dalam konteks ini, Kalangbret dapat dipandang sebagai “rahim sejarah” yang melahirkan jaringan ulama baru di wilayah selatan Jawa Timur. Dari sana, muncul figur-figur yang tidak lagi berperan sebagai elite politik, tetapi sebagai elite religius mengalihkan basis legitimasi dari kekuasaan ke ilmu dan dakwah.

Relasi Kalangbret dengan Kamulan semakin jelas ketika ditarik dalam jaringan yang lebih luas bersama Srigading, Bolorejo. Di wilayah ini dikenal sosok Syekh Basyaruddin, ulama karismatik yang diyakini memiliki hubungan dengan Ki Bagus Mukmin.

Keterhubungan antara tiga titik Kalangbret, Srigading, dan Kamulan membentuk apa yang dapat disebut sebagai “segitiga dakwah Mataraman”. Jaringan ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam di wilayah ini tidak berlangsung secara sporadis, melainkan melalui pola yang terstruktur: berbasis keluarga, sanad keilmuan, dan patronase ulama.

Dalam kerangka ini, Sunan Wilis bukanlah figur yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari mata rantai panjang transmisi keilmuan dan spiritual.

Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro menjadi momentum penting dalam memperkuat jaringan pesantren di Jawa Timur. Kekalahan perang tersebut memicu migrasi besar-besaran para pengikut Diponegoro, termasuk kalangan ulama dan santri.

Kamulan menjadi salah satu titik tujuan migrasi tersebut. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Kyai Aliyil Murtadho (Mbah Dongali) dan Kyai Abdul Salam (Mbah Dulsalam), yang merupakan menantu Sunan Wilis, menandai fase konsolidasi pesantren.

Jika fase awal Kamulan adalah fase babat alas, maka pasca-Perang Jawa adalah fase institusionalisasi di mana pesantren mulai berkembang sebagai pusat pendidikan dengan sistem pengajaran kitab kuning yang lebih terstruktur.

Dari rahim sejarah yang sama, kemudian lahir dua entitas pesantren: Pondok Tengah (Hidayatut Thullab) dan Pondok Lor (Darissulaimaniyah). Keduanya menunjukkan bahwa satu akar genealogis dapat melahirkan diferensiasi institusional tanpa memutus sanad keilmuan.

Fenomena ini menegaskan bahwa tradisi pesantren memiliki mekanisme internal untuk berkembang, beradaptasi, dan tetap menjaga kesinambungan nilai.

Pesantren sebagai Reproduksi Elite Religius.

Kasus Kamulan memperlihatkan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga ruang reproduksi elite religius. Transformasi dari bangsawan Mataram menjadi kiai pesantren menunjukkan adanya pergeseran basis legitimasi: dari politik ke spiritual.

Dalam konteks ini, hubungan Sunan Wilis dengan Kalangbret menjadi kunci untuk memahami bagaimana identitas aristokrasi tidak hilang, melainkan bertransformasi dalam bentuk baru yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Hubungan antara Sunan Wilis dan Kalangbret bukan sekadar cerita asal-usul, melainkan cerminan dari dinamika besar sejarah Jawa: migrasi, transformasi, dan adaptasi.

Dari Kalangbret ke Kamulan, dari bangsawan ke ulama, dari pusat kekuasaan ke pusat keilmuan semuanya menunjukkan satu benang merah: keberlanjutan tradisi dalam bentuk yang terus berubah.

Di situlah letak kekuatan pesantren. Ia tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga menafsirkan ulang warisan sejarah untuk menjawab tantangan masa depan. (DON/Red)

Oleh: Ahmad Dardiri Syafi’i.

Redaksi

Kebakaran Apartemen di Tai Po Picu Evakuasi 140 Penghuni, Belum Ada Laporan PMI Indonesia Terdampak

Published

on

Hong Kong — Kebakaran yang terjadi di sebuah unit apartemen kawasan Serenity Park pada Selasa pagi memicu kepanikan dan evakuasi besar-besaran terhadap sekitar 140 penghuni gedung. Insiden ini kembali membangkitkan trauma publik atas tragedi kebakaran besar di Wang Fuk Court pada akhir 2025 yang banyak menimpa pekerja migran Indonesia (PMI).

Menurut laporan media lokal Hong Kong, api pertama kali terlihat muncul dari salah satu unit apartemen pada pagi hari. Petugas pemadam kebakaran segera dikerahkan ke lokasi dan bergerak cepat mengendalikan kobaran api. Kebakaran berhasil dipadamkan sekitar 16 menit setelah tim penyelamat tiba di tempat kejadian.

Sedikitnya dua penghuni dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup asap tebal dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Dugaan awal penyebab kebakaran mengarah pada korsleting listrik di dalam unit apartemen yang terbakar. Hingga kini, otoritas Hong Kong masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan sumber api dan kemungkinan adanya pelanggaran standar keselamatan bangunan.

Meski proses evakuasi berlangsung cukup besar, sampai berita ini diturunkan belum ada laporan resmi mengenai warga negara Indonesia atau PMI yang menjadi korban maupun terdampak langsung dalam insiden tersebut.

Kondisi itu sedikit memberi kelegaan bagi komunitas migran Indonesia di Hong Kong. Pasalnya, publik masih mengingat kuat tragedi kebakaran di Wang Fuk Court yang sebelumnya menelan korban di kalangan PMI Indonesia.

Dalam tragedi tersebut, sejumlah PMI dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya kehilangan tempat tinggal dan harus menjalani evakuasi darurat. Peristiwa itu sempat mengguncang komunitas Indonesia di Hong Kong sekaligus memicu sorotan tajam terhadap kondisi hunian pekerja migran di apartemen padat penduduk.

Kebakaran terbaru di Serenity Park kembali menjadi alarm serius mengenai pentingnya standar keselamatan bangunan, kelayakan instalasi listrik, serta kesiapan prosedur evakuasi di kawasan hunian vertikal Hong Kong, terutama di distrik padat seperti Tai Po.

Hingga saat ini, pihak berwenang Hong Kong masih mengumpulkan keterangan saksi dan melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran. (Dar/Red)

Continue Reading

Redaksi

Tiga TKI Raih Penghargaan Bergengsi dari Presiden Taiwan

Published

on

Taipei — Kabar membanggakan datang dari Taiwan. Tiga Pekerja Migran Indonesia (PMI) berhasil meraih penghargaan bergengsi “Pekerja Migran Teladan Nasional 2026” yang diserahkan langsung oleh Presiden Taiwan, Lai Ching-te, dalam upacara resmi di Kantor Kepresidenan Taiwan, Taipei.

Penghargaan tersebut diberikan bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional sebagai bentuk apresiasi pemerintah Taiwan terhadap dedikasi, loyalitas, dan kontribusi pekerja migran dalam menopang sektor industri serta layanan sosial negara itu.

Dalam pidatonya, Presiden Lai menyampaikan penghormatan tinggi kepada seluruh pekerja migran penerima penghargaan, termasuk PMI asal Indonesia.

“Kalian telah meninggalkan kampung halaman untuk bekerja keras di Taiwan, bukan hanya demi pengembangan karier pribadi, tetapi juga telah membantu Taiwan. Terima kasih untuk kalian. Taiwan sangat menghargai kontribusi kalian,” ujar Presiden Lai sebagaimana dikutip dari media lokal 中央社 CNA.

Presiden Lai menegaskan bahwa pekerja migran telah menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas industri manufaktur dan sektor perawatan sosial di Taiwan. Ia berharap para penerima penghargaan terus berkarya dan menjadi inspirasi bagi pekerja migran lainnya.

Momen penghargaan ini langsung mendapat perhatian luas di kalangan diaspora Indonesia di Taiwan. Video dan foto prosesi penghargaan ramai dibagikan di TikTok, Facebook, hingga grup WhatsApp komunitas PMI. Banyak yang menyebut penghargaan tersebut sebagai bukti nyata bahwa pekerja Indonesia mampu bersaing dan memperoleh pengakuan internasional melalui kerja keras dan disiplin.

Beberapa penerima penghargaan diketahui telah bekerja di Taiwan lebih dari satu dekade, mulai dari sektor manufaktur, perawatan lansia, hingga industri teknologi. Mereka dinilai memiliki etos kerja tinggi, minim pelanggaran, serta aktif membantu sesama PMI di lingkungan kerja masing-masing.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Lai juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga para pekerja migran yang selama ini memberikan dukungan dari tanah air.

“Terima kasih atas pengertian dan dukungan keluarga, sehingga para penerima penghargaan dapat memberikan yang terbaik di tempat kerja. Kehormatan nasional ini juga merupakan milik kalian,” terangnya.

Penghargaan ini menjadi angin segar di tengah berbagai persoalan yang kerap membayangi pekerja migran Indonesia di luar negeri. Di saat isu eksploitasi, kekerasan, dan diskriminasi masih sering mencuat, prestasi tiga PMI ini menunjukkan wajah lain pekerja migran Indonesia: profesional, tangguh, dan dihormati dunia internasional.

Di media sosial komunitas PMI Taiwan, sejumlah unggahan bahkan menyebut:

“PMI bukan pekerja kelas dua. Hari ini dunia melihat dedikasi dan pengorbanan mereka.”

Penghargaan tersebut sekaligus memperkuat posisi PMI Indonesia sebagai salah satu komunitas pekerja migran terbesar dan paling dipercaya di Taiwan. Bagi banyak pekerja migran, pengakuan langsung dari Presiden Taiwan bukan sekadar seremoni, melainkan simbol bahwa kerja keras mereka akhirnya benar-benar terlihat dan dihargai. (Dar/Red)

Continue Reading

Redaksi

Ketum GKN: Efisiensi Anggaran Harus Menyasar Pemborosan Birokrasi, Bukan Mengorbankan Kepentingan Rakyat

Published

on

Jakarta— Ketua Umum Gerakan Kebangkitan Nusantara (GKN), Soegiarto Santoso, SE, menegaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran negara untuk tahun 2026–2027 harus dilaksanakan secara cermat, terukur, dan berkeadilan, dengan menjadikan pemborosan birokrasi sebagai sasaran utama, bukan justru mengurangi ruang perlindungan negara terhadap rakyat.

Menurut Soegiarto, efisiensi anggaran merupakan langkah yang sah dan bahkan diperlukan dalam tata kelola pemerintahan modern. Namun, kebijakan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai pemotongan serampangan yang justru melemahkan sektor-sektor yang menjadi penyangga kesejahteraan masyarakat.

“Efisiensi harus dimulai dari pusat kekuasaan administratif, dari belanja-belanja yang selama ini tidak memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat. Jangan sampai rakyat diminta berhemat, sementara pemborosan birokrasi tetap dibiarkan hidup,” tegas Soegiarto, Kamis(14/5/2026)

Ia menilai masih terdapat ruang besar untuk melakukan penataan ulang terhadap belanja negara, khususnya pada pengeluaran yang bersifat seremonial, perjalanan dinas yang tidak mendesak, pengadaan non-prioritas, renovasi fasilitas yang tidak mendukung pelayanan publik, hingga pola belanja operasional yang tidak efisien.

Dalam pandangan GKN, hasil efisiensi seharusnya dialihkan untuk memperkuat program-program strategis yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, seperti penguatan ekonomi UMKM, ketahanan pangan nasional, dukungan terhadap petani dan nelayan, peningkatan layanan kesehatan, penguatan kualitas pendidikan, pengembangan kebudayaan nasional, serta peningkatan kapasitas generasi muda melalui pendidikan vokasi dan pelatihan produktif.

Soegiarto juga menekankan pentingnya transparansi sebagai fondasi utama efisiensi anggaran yang kredibel.

“Efisiensi tanpa transparansi hanya akan menjadi jargon administratif. Negara harus membangun sistem keterbukaan anggaran yang memungkinkan publik mengetahui bagaimana uang negara digunakan, sejauh mana efektivitasnya, dan apakah benar memberi manfaat bagi rakyat,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan APBN harus berpijak pada prinsip akuntabilitas publik, karena anggaran negara pada hakikatnya merupakan instrumen pengabdian negara kepada rakyat, bukan sekadar instrumen administratif birokrasi.

Lebih lanjut, GKN mendorong pemerintah untuk memperkuat kebijakan efisiensi melalui kerangka regulasi yang jelas, pengawasan yang konsisten, serta penegakan disiplin birokrasi terhadap setiap bentuk pemborosan anggaran.

“Yang harus dipangkas adalah inefisiensi, bukan masa depan rakyat. Negara yang kuat bukan negara yang sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi negara yang mampu menempatkan setiap rupiah anggaran secara tepat, produktif, dan berpihak pada kepentingan nasional,” kata Soegiarto.

Ia menegaskan bahwa GKN memandang efisiensi anggaran bukan semata agenda fiskal, melainkan bagian dari etika pemerintahan yang sehat.

“Kesederhanaan birokrasi harus menjadi teladan. Penghematan harus dimulai dari elite pemerintahan, sehingga rakyat melihat bahwa pengorbanan dilakukan secara adil dan kepemimpinan dijalankan dengan keteladanan,” tambahnya.

Didampingi Sekretaris Jenderal GKN, Endri Hendra Permana, Soegiarto menegaskan bahwa GKN akan terus mengawal kebijakan publik dengan sikap independen, nasionalis, dan konstruktif demi memastikan setiap kebijakan negara benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat dan masa depan bangsa. (By/Red)

Continue Reading

Trending