Connect with us

Ekonomi

Bank Indonesia Pastikan Kedaulatan Rupiah di Ujung Timur Nusantara

Published

on

Sorong, — Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Papua Barat dan Papua Barat Daya melepas Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2025 bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut. Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional untuk menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia dengan memastikan tersedianya uang rupiah yang layak edar hingga ke wilayah-wilayah paling terpencil di timur nusantara.

Pelepasan ekspedisi dilakukan di Dermaga TNI AL Lantamal XIV Sorong, menggunakan kapal KRI Balongan-908. Tim ekspedisi terdiri dari 14 personel, termasuk 12 “pejuang rupiah” yang berasal dari berbagai daerah seperti Papua Barat, Jawa Barat, Gorontalo, dan Malang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua Barat dan Papua Barat Daya, Setian, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk komitmen negara menghadapi tantangan geografis di kawasan kepulauan, yang selama ini menyulitkan distribusi uang secara merata.

“Sejak 2018, kami telah melakukan Ekspedisi Rupiah Berdaulat untuk menjangkau pulau-pulau 3T. Tahun ini, ekspedisi membawa uang senilai Rp10 miliar untuk menggantikan uang yang rusak atau tidak layak edar dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mencintai dan merawat rupiah,” ungkap Setian.

Selain distribusi uang, ekspedisi ini juga membawa misi edukasi melalui program “Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah” (CBP Rupiah). Tim Bank Indonesia akan mengajak masyarakat di pulau-pulau tujuan untuk memahami nilai strategis rupiah sebagai simbol negara dan alat pemersatu bangsa.

Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Faris Budiawan, menekankan bahwa ekspedisi ini bukan hanya teknis penggantian uang, tapi juga langkah strategis menjaga eksistensi rupiah sebagai satu-satunya alat transaksi sah di seluruh Indonesia.

“Kita tidak ingin ada wilayah perbatasan yang menggunakan mata uang asing untuk bertransaksi. Rupiah adalah simbol negara. Dengan menjaga peredarannya, kita menjaga keutuhan NKRI,” ujar Paris.

Bank Indonesia mengungkap bahwa beberapa daerah perbatasan sempat mengalami kondisi di mana transaksi ekonomi dilakukan dengan mata uang asing karena akses terhadap rupiah terbatas. Oleh karena itu, ekspedisi ini menjadi prioritas nasional, khususnya untuk wilayah seperti Kaimana, Fakfak, Raja Ampat, hingga Manokwari.

Kegiatan ini di hadiri juga oleh Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, yang menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya terhadap Bank Indonesia dan TNI AL. Beliau menyebut bahwa kolaborasi ini adalah wujud nyata dari hadirnya negara hingga ke titik terluar wilayah Indonesia.

“Semua warga negara berhak mendapat akses yang sama terhadap rupiah. Terima kasih Bank Indonesia dan TNI AL yang telah mewujudkan misi mulia ini,” ungkapnya.

Ekspedisi yang akan berlangsung sejak 8 juli, hingga 15 Juli 2025 ini adalah wujud sinergi antar lembaga negara dalam menjaga stabilitas moneter, memperluas inklusi keuangan, serta memperkuat nasionalisme masyarakat di wilayah 3T.

(Timo)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekonomi

Rupiah Kembali ke Rp17.900, IHSG Rebound Usai Intervensi Bank Indonesia

Published

on

JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah mengalami tekanan cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona hijau.

Kondisi tersebut dinilai sebagai respons positif pasar terhadap langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), rupiah tercatat bergerak menguat ke kisaran Rp17.900 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga mendekati level psikologis Rp18.000 bahkan sempat menyentuh di atas Rp18.100 di pasar referensi.

Penguatan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena menunjukkan mulai meredanya tekanan terhadap mata uang domestik.

Di saat yang sama, IHSG juga menunjukkan tren pemulihan atau rebound setelah beberapa sesi sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam. Investor mulai kembali melakukan akumulasi saham, terutama pada sektor perbankan dan komoditas yang dinilai memiliki fundamental kuat di tengah volatilitas global.

Pemulihan pasar ini tidak terlepas dari langkah cepat Bank Indonesia yang secara mengejutkan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui rapat di luar jadwal reguler pada 9 Juni 2026.

Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Selain menaikkan suku bunga acuan, BI juga memperkuat strategi stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan pembelian surat berharga negara (SBN). Otoritas moneter juga memperluas instrumen investasi berbasis rupiah guna menjaga likuiditas pasar dan menahan arus modal keluar (capital outflow) yang sempat meningkat akibat penguatan dolar AS secara global.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dan cadangan devisa nasional berada pada level yang memadai untuk menjaga stabilitas pasar.

Menurutnya, langkah responsif diperlukan karena tekanan eksternal beberapa waktu terakhir berkembang lebih cepat dari perkiraan.

Pengamat pasar modal menilai kebijakan BI mulai memberikan dampak psikologis positif terhadap investor. Penguatan rupiah dan pergerakan IHSG yang kembali menghijau dinilai menjadi indikasi awal bahwa kepercayaan pasar mulai pulih setelah sempat dibayangi kekhawatiran terhadap pelemahan mata uang dan tingginya ketidakpastian global.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan nasional, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), ketegangan geopolitik, hingga perlambatan ekonomi global.

Di tengah dinamika tersebut, stabilisasi rupiah kembali di bawah level Rp18.000 dan rebound IHSG memberi optimisme baru bahwa pasar keuangan Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah tekanan global.

Pemerintah dan Bank Indonesia kini dihadapkan pada tantangan menjaga momentum pemulihan agar kepercayaan investor terus terjaga dalam jangka menengah. (By/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Ekonomi

Rupiah Tembus Rp18.042 per Dolar AS, Level Psikologis Rp18.000 Resmi Terlewati

Published

on

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) resmi menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Berdasarkan data Google Finance, kurs USD/IDR tercatat berada di level Rp18.042 per dolar AS pada pukul 04.35 UTC, menandai tekanan lanjutan terhadap mata uang Garuda di tengah penguatan dolar global.

Tembusnya level Rp18.000 menjadi sorotan pelaku pasar karena angka tersebut selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting dalam perdagangan valuta asing.

Kenaikan nilai dolar AS terhadap rupiah mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal sekaligus tingginya permintaan mata uang Negeri Paman Sam di pasar.

Pergerakan rupiah kali ini dinilai tidak berdiri sendiri. Sejumlah analis pasar uang menilai penguatan dolar AS masih dipicu meningkatnya minat investor terhadap aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Perlambatan ekonomi di sejumlah negara, tensi geopolitik, serta ketidakjelasan arah pemulihan ekonomi dunia membuat investor cenderung memilih aset berbasis dolar.

Selain faktor global, pelaku pasar juga masih mencermati kebijakan Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga acuan.

Ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan pada level tinggi membuat dolar tetap menjadi instrumen investasi yang menarik karena menawarkan imbal hasil kompetitif dibanding negara berkembang.

Kondisi tersebut berpotensi memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat aliran modal asing bergerak menuju aset dolar, mata uang domestik seperti rupiah biasanya mengalami tekanan.

Di dalam negeri, permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri perusahaan, hingga transaksi perdagangan internasional juga dinilai turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Ketidakseimbangan antara permintaan valuta asing dan pasokan devisa membuat pergerakan kurs menjadi lebih volatil.

Meski pelemahan rupiah sering dipandang sebagai sentimen negatif, dampaknya tidak selalu merugikan seluruh sektor ekonomi.

Pelaku usaha berbasis ekspor justru berpotensi memperoleh keuntungan karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.

Sebaliknya, industri yang bergantung pada bahan baku impor diperkirakan menghadapi kenaikan biaya produksi. Jika tekanan kurs berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak pada harga barang konsumsi, elektronik, hingga biaya logistik.

Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau volatilitas pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing, penguatan likuiditas, serta kebijakan moneter untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

Ke depan, arah pergerakan rupiah diprediksi masih akan sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi global, kebijakan The Fed, serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal yang terus berubah.(JK/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Ekonomi

Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.928 pada Perdagangan 3 Juni 2026

Published

on

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tekanan pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.

Berdasarkan data kurs USD/IDR, posisi rupiah berada di level Rp17.928,9 per dolar AS, menandai pelemahan yang masih berlanjut di tengah dinamika pasar keuangan global.

Data perdagangan menunjukkan nilai tukar rupiah mengalami perubahan harian sebesar 0,5 persen, sementara dalam periode bulanan tercatat kenaikan tekanan hingga 3,08 persen.

Secara tahunan, pelemahan rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam mencapai hampir 9,99 persen, mencerminkan tekanan yang cukup signifikan dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa mata uang Garuda masih menghadapi tantangan besar di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan indeks dolar AS, hingga sentimen pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika, Federal Reserve (The Fed).

Pelemahan rupiah umumnya dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, maupun keluarnya aliran modal asing dari pasar domestik.

Meski demikian, pelaku pasar masih menanti langkah lanjutan dari otoritas moneter, khususnya Bank Indonesia (BI), dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah fluktuasi pasar global.

Sejumlah pengamat memperkirakan intervensi pasar dan penguatan instrumen moneter tetap menjadi opsi untuk menahan tekanan yang lebih dalam terhadap rupiah.

Sementara itu, proyeksi kuartal kedua (Q2) memperkirakan kurs USD/IDR berada di kisaran Rp17.801,3 per dolar AS, meski pergerakan aktual tetap sangat dipengaruhi kondisi geopolitik global, inflasi AS, serta arus investasi asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Melemahnya rupiah berpotensi memberikan dampak pada harga barang impor, biaya produksi industri, hingga inflasi domestik.

Namun di sisi lain, kondisi tersebut dapat memberi keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor karena produk Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif di pasar internasional.(JK/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Trending