Ekonomi & Bisnis
Cilik – cilik Jago Berdagang; Suasana Expo Entrepreneurship Santri

TULUNGAGUNG, 90detik.com- Suasana Expo Entrepreneurship Santri di sepanjang jalan Pahlawan Gang Tiga pada Sabtu (17/08/2024) begitu ramai dengan tenda-tenda jualan.
Terdapat 41 tenda yang dikelola oleh santri dan 6 tenda oleh warga.
Semua tenda dipenuhi dengan beragam barang dagangan hasil karya santri.
Ketua Koperasi Hasbana450 selaku penanggung jawab Expo Entrepreneurship Santri (EESan), Arief, menjelaskan bahwa kegiatan EESan menjadi ajang bagi santri dan para guru untuk bersinergi dalam berwirausaha.
Mereka diharapkan dapat menghasilkan karya yang kemudian dijual di stand EESan.
“Semoga setiap tahun kami dapat melaksanakan EESan,” tambah ketua panitia EESan.
Setelah upacara pada Sabtu (17/08/2024), para santri segera bergegas menuju lokasi EESan untuk melakukan transaksi dagang.
Salah satu pengunjung, Prayit, menyambut Bazar Pesantren Al Azhaar Tulungagung dengan senang dan memberikan apresiasi.
“Sebuah bazar seperti ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Kedungwaru khususnya. Memberikan kesempatan pada masyarakat untuk membuka stand adalah hal yang positif. Semoga acara ini dapat diadakan lagi tahun depan,” ujarnya.
Ditempat lain, pengasuh Pesantren Al Azhaar Tulungagung menyatakan bahwa para santri diberikan kesempatan untuk berwirausaha.
“Para santri memiliki potensi dan kemampuan untuk menjadi pengusaha. Momentum EESan adalah cara untuk memberikan pendidikan kepada mereka agar memiliki kemampuan berdagang,” ungkap Abah Imam.
Acara EESan Pesantren Al Azhaar Tulungagung berlangsung mulai jam 09.00 hingga 22.00.
Antusiasme masyarakat terlihat dari partisipasi mereka dalam menghadiri EESan.
Kepala Bidang Pengembangan Pesantren Al Azhaar, Aries Kurniawan, menyebutkan bahwa Pesantren membagikan kupon kepada masyarakat, yaitu 500 kupon untuk bakso dan 600 kupon untuk sayuran.
“Agar suasana semakin akrab, Pesantren Al Azhaar memberikan kupon yang dapat ditukarkan dengan bakso dan sayuran,” tutupnya. (DON/Red)
Ekonomi & Bisnis
Fredi Moses Ulemlem: Jangan Terjebak Kuota Tenaga Kerja, Maluku Harus Siapkan SDM Hadapi Blok Masela

AMBON — Rencana dimulainya pengembangan Proyek Blok Masela dinilai menjadi momentum yang akan menentukan arah pembangunan ekonomi Maluku dalam beberapa dekade ke depan.
Namun, peluang tersebut hanya akan memberikan manfaat nyata apabila pemerintah daerah mampu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang memenuhi standar industri minyak dan gas.
Tokoh Maluku, Fredi Moses Ulemlem, mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat tidak menghabiskan energi pada perdebatan mengenai besaran kuota tenaga kerja lokal semata. Menurut dia, persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan putra-putri Maluku memiliki kompetensi yang dibutuhkan sehingga mampu bersaing dan terserap dalam proyek strategis nasional tersebut.
“Jangan terjebak pada perdebatan soal berapa persen tenaga kerja lokal yang diterima di Blok Masela. Yang harus menjadi perhatian utama adalah bagaimana masyarakat Maluku dipersiapkan agar memenuhi seluruh kualifikasi yang dibutuhkan industri migas,” kata Fredi, pada Kamis (2/7).
Menurut Fredi, tanpa investasi yang serius pada pembangunan SDM, tuntutan agar tenaga kerja lokal diprioritaskan hanya akan menjadi slogan yang sulit diwujudkan.
Industri migas memiliki standar kompetensi yang ketat dan tidak dapat dipenuhi hanya dengan pendekatan administratif atau pertimbangan domisili.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja pada proyek Blok Masela mencakup berbagai bidang keahlian dengan persyaratan yang tinggi.
Selain pendidikan minimal sarjana (S1) di bidang teknik maupun sains, banyak posisi mensyaratkan pengalaman kerja di sektor minyak dan gas, khususnya fasilitas LNG, kemampuan berbahasa Inggris, penguasaan standar internasional keselamatan kerja, kepatuhan lingkungan, manajemen kontrak, hingga pengalaman pada proyek FPSO maupun FLNG untuk jabatan tertentu.
Karena itu, Fredi menilai pemerintah Provinsi Maluku bersama sebelas pemerintah kabupaten dan kota harus mulai menyusun strategi jangka panjang untuk membangun SDM lokal. Menurut dia, keterbatasan ekonomi masyarakat tidak boleh menjadi penghalang bagi generasi muda Maluku untuk memperoleh pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Kalau masyarakat tidak mampu membiayai pendidikan dan pelatihan, maka negara melalui pemerintah daerah wajib hadir. Pemerintah harus memfasilitasi pendidikan vokasi, pelatihan, sertifikasi profesi, penguasaan bahasa Inggris, hingga kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga pelatihan. Jangan membiarkan masyarakat berjuang sendiri,” ujarnya.
Lebih jauh, Fredi menilai pemerintah daerah tidak cukup hanya berperan sebagai fasilitator pelatihan. Pemerintah juga harus membangun kepastian hukum yang menjamin keterlibatan tenaga kerja lokal melalui regulasi daerah.
Ia mendorong Pemerintah Provinsi Maluku bersama DPRD menyusun Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur secara jelas komposisi tenaga kerja lokal dan tenaga kerja dari luar daerah pada proyek-proyek strategis di Maluku.
Regulasi tersebut, menurut dia, akan memberikan kepastian bagi investor sekaligus menjadi instrumen perlindungan terhadap kepentingan masyarakat lokal.
“Harus ada aturan yang memberikan kepastian mengenai persentase minimal tenaga kerja lokal yang wajib diserap. Dengan demikian, masyarakat memiliki kepastian memperoleh kesempatan, sementara perusahaan juga memiliki pedoman yang jelas dalam proses rekrutmen,” katanya.
Menurut Fredi, keberhasilan Blok Masela tidak semestinya hanya diukur dari besarnya investasi atau peningkatan produksi gas nasional, tetapi juga dari sejauh mana proyek tersebut mampu meningkatkan kualitas SDM, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan perekonomian masyarakat Maluku secara berkelanjutan.
“Blok Masela jangan hanya menjadi sumber kekayaan alam yang dinikmati oleh pihak luar. Proyek ini harus menjadi momentum lahirnya generasi profesional Maluku yang mampu menjadi pelaku utama pembangunan di tanahnya sendiri. Kalau SDM dipersiapkan sejak sekarang, manfaat ekonominya akan dirasakan jauh melampaui usia proyek itu sendiri,” ujar Fredi.(By/Red)
Ekonomi & Bisnis
Kilas Balik Kayu Seram di Balik Kekayaan Rp 800 Triliun Prajogo Pangestu, Maluku Diminta Jemput Bola Investasi Hilirisasi Gas

AMBON – Majalah Forbes mencatat kekayaan Prajogo Pangestu pada tahun 2026 mencapai Rp800 triliun, menjadikannya manusia terkaya nomor satu di Indonesia.
Namun di balik akumulasi modal yang maha dahsyat tersebut, terdapat kisah panjang yang berawal dari hutan Pulau Seram, Maluku.
Sekretaris Hena Hetu Seram Bagian Barat (SBB) yang akrab disapa Bung Verry atau Veja, menyampaikan kepada sejumlah awak media di Ambon melalui pesan WhatsApp, bahwa perjalanan bisnis Prajogo tidak lahir begitu saja.
“Kisahnya dimulai dari pertemuan dengan Burhan Uray (Bong Sun On), seorang pengusaha kayu asal Serawak, Malaysia. Saat bergabung di PT Djajanti Group yang berbasis di hutan Pulau Seram, ia lalu mengambil lompatan besar dengan membeli CV Pacific Lumber Coy yang hampir bangkrut dan mengubahnya menjadi PT Barito Pacific Timber,” ujar Veja.
Menurutnya, pada puncak kejayaan di era 1980-an hingga 1990-an, Barito Pacific Timber bukan sekadar pemain, melainkan penguasa hutan Nusantara. Prajogo berhasil memperoleh Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seluas lebih dari 6 juta hektar di berbagai daerah, termasuk eksploitasi besar-besaran di Pulau Seram.
“Kayu Seram mengalir deras ke pabrik-pabrik plywood. Getah dan serat kayu hutan Maluku menjadi salah satu roda penggerak mesin uang Prajogo yang pertama. Di sinilah dulu darah kekayaannya bersumber, jauh sebelum ia beralih ke petrokimia pada 2007,” tegas Veja.
Dari uang kayu itulah, Prajogo membangun imperium. Pada 2007, ia mengakuisisi 70 persen saham Chandra Asri, perusahaan petrokimia raksasa. Kemudian pada 2011, Chandra Asri melebur dengan Tri Polyta Indonesia menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.
Tidak berhenti di situ, ia merambah energi baru terbarukan melalui Barito Renewables Energy (BREN) dan pertambangan melalui Petrindo Jaya Kreasi (CUAN). Hanya dalam beberapa tahun, kekayaannya meledak hingga ratusan triliun.
Veja menyoroti bahwa siklus ekstraksi sumber daya alam dari daerah, akumulasi modal di pusat, lalu transformasi ke industri bernilai tambah tinggi di Jawa, membuat daerah hanya menjadi penonton.
“Pulau Seram dan Maluku umumnya hanya menjadi pemasok bahan mentah. Sementara pabrik petrokimia terbesar berdiri megah di Merak dan Cilegon, Maluku yang dulu kayunya menjadi fondasi awal sumber kekayaan tetap bergulat dengan angka kemiskinan di atas rata-rata nasional,” jelasnya.
Berita Baik dari Blok Masela
Veja menyampaikan bahwa ada kabar baik yang harus dibaca cerdas oleh pemerintah daerah. PT Petrosea Tbk (PTRO), emiten milik Prajogo Pangestu, baru saja menandatangani kontrak proyek di Blok Masela.
Konsorsium yang beranggotakan Petrosea dengan porsi 36 persen PT Enviromate Technology International, dan PT Nindya Karya (Persero) akan mengerjakan konstruksi perimeter LNG di Lapangan Abadi.
“Pertanyaannya sekarang, apakah kehadiran Prajogo Pangestu di Masela hanya akan berhenti sebagai pembangun jalan dan pagar perimeter, lalu uangnya kembali mengalir ke Jakarta? Atau akankah beliau mengembalikan hutang sejarahnya dengan membangun pabrik petrokimia langsung di tanah Maluku?” ujar Veja.
Ia menambahkan, Blok Masela memiliki cadangan gas raksasa yang berpotensi menghasilkan 9,5 juta metrik ton LNG per tahun dan 35.000 barel kondensat per hari.
Angka-angka ini merupakan peluang besar bagi industri petrokimia. Prajogo pun dinilai sudah memiliki rantai pasok hilirisasi gas yang matang melalui Chandra Asri.
“Mengapa pabriknya tidak dibangun di Pulau Seram? Mengapa tidak membangun kilang metanol, amoniak, atau polypropylene di dekat sumber gas? Dengan begitu, nilai tambah tidak lagi dinikmati sendirian oleh Cilegon, tetapi juga oleh anak-anak muda Maluku yang saat ini menganggur,” tegasnya.
Empat Langkah Strategis Menarik Investasi Prajogo
Pemerintah Provinsi Maluku didorong untuk bergerak taktis, bukan hanya seremoni, dan tidak menunggu belas kasih.
Berikut empat langkah yang harus dilakukan untuk menarik Prajogo Pangestu berinvestasi penuh di Seram Bagian Barat:
1. Pendekatan Personal dan Institusional
Ingatkan bahwa kekayaan Prajogo dimulai dari kayu, dan kayu itu berasal dari Maluku. Jangan gunakan nada menuntut, gunakan nada kemitraan strategis.
“Katakan: ‘Pak Prajogo, dulu Kayu Seram mengantar bapak ke puncak, sekarang Gas Masela akan mengantar warisan bapak ke level berikutnya, dengan meninggalkan pabrik di Seram’.”
2. Siapkan Kawasan Industri Terintegrasi
Kawasan di Seram Bagian Barat yang dekat dengan infrastruktur gas harus disiapkan. Tidak perlu lahan luas kosong melompong, tetapi pastikan ketersediaan listrik, air, dan akses jalan.
3. Tawarkan Skema KPBU yang Bersih
Tawarkan sistem Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) yang cepat, transparan, dan bebas pungli.
4. Manfaatkan Kehadiran PT Petrosea
PT Petrosea saat ini sudah ada di Masela mengerjakan proyek Rp989 miliar. Gunakan momen ini untuk negosiasi hilir. Undang petinggi Barito Pacific dan Chandra Asri melihat langsung potensi lahan di Seram.
Jangan biarkan mereka pulang tanpa komitmen memorandum of understanding (MoU) pengembangan kawasan industri petrokimia.
Veja juga mengingatkan bahwa status Maluku sebagai daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) harus dimanfaatkan. Berikan tax holiday, kemudahan izin, dan jaminan keamanan investasi jangka panjang.
Jangan sampai investor besar seperti Prajogo memilih daerah lain karena birokrasi yang berbelit.
“Tuan Prajogo Pangestu bukanlah orang jahat. Ia adalah pengusaha paling visioner yang dimiliki Indonesia. Tapi sejarah tetaplah sejarah. Kayu Seram pernah menjadi darah segar yang menghidupkan mesin bisnisnya. Sekarang, saatnya Seram mendapatkan transfusi darah baru dari pabrik petrokimia yang dibangun oleh tangan yang sama,” ujar Veja.
Ia menutup pernyataannya dengan seruan: “Rakyat Maluku tidak ingin menggoyang masa lalu, mereka ingin masa depan. Mereka tidak ingin Prajogo hanya lewat sebagai kontraktor, tetapi sebagai mitra pembangunan. Pemerintah Provinsi Maluku, jangan tidur, jemput bola“.
“Kepada Tuan Prajogo, kembalilah ke Maluku. Bukan untuk menebang, tetapi untuk membangun. Seram menanti seperti orang tua menantikan kepulangan sang anak yang telah sukses di perantauan,“tutupnya. (Red/By)
Ekonomi & Bisnis
Telkom Regional 5 Dorong Wirausaha Parfum Lokal Lewat Program Indibiz Insight di Makassar

Makassar, — Telkom Regional 5 kembali membuktikan komitmennya dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia Timur melalui pelatihan bisnis bertema Parfumpreneur: Peluang Emas di Bisnis Parfum, yang diselenggarakan dalam rangkaian program Just on Indibiz Insight. Kegiatan inspiratif ini berlangsung di Business Solution Space (BSS) Telkom Regional 5 Makassar dan mendapat sambutan antusias dari peserta, terutama pelaku usaha lokal dan komunitas wirausaha.
Pelatihan ini dirancang khusus untuk membekali masyarakat umum, terutama pelaku UMKM dan komunitas kreatif, dengan pengetahuan praktis serta keterampilan dasar dalam merintis usaha parfum yang bernilai jual tinggi. Program ini menjadi wujud nyata dari upaya Telkom untuk mendorong tumbuhnya pelaku bisnis baru yang berdaya saing dan mampu menciptakan produk lokal unggulan.
Acara dibuka oleh Ismi Nur Adha Shabir, Leader Digital Marketing Operation Telkom Regional 5, yang menyampaikan pengenalan program Indibiz dan peran strategis Telkom dalam mendukung transformasi digital UMKM. Dalam sambutannya, Ismi menjelaskan bahwa Indibiz Insight adalah platform edukasi bisnis yang digagas untuk memperkuat kolaborasi antara Telkom dengan komunitas lokal dan pelaku usaha mikro di wilayah Indonesia Timur.
“Kami percaya bahwa pelaku UKM dan komunitas memiliki potensi besar untuk berkembang jika diberi ruang, pengetahuan, dan akses yang tepat. Indibiz hadir sebagai jembatan kolaborasi untuk membuka peluang bisnis di berbagai sektor, termasuk industri parfum yang saat ini sedang naik daun,” ujar Ismi.
Sebagai pembicara utama, hadir Raoda A, Co-founder O & Co. Class, yang telah berpengalaman dalam membangun bisnis parfum dari nol. Dalam sesinya, Raoda mengupas tuntas potensi industri parfum lokal, memperkenalkan peserta pada jenis-jenis komposisi dasar dalam pembuatan parfum, serta memberikan pelatihan langsung teknik peracikan aroma.
Para peserta tidak hanya mendapatkan materi teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik dasar peracikan parfum. Hal ini membuat pelatihan menjadi lebih interaktif dan aplikatif, sehingga peserta dapat langsung merasakan pengalaman merancang produk parfum dengan identitas khas.
Salah satu peserta, Putri Arsidah, anggota Komunitas Enthusiast Parfum, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kesempatan berharga yang diberikan oleh Telkom melalui Indibiz.
“Terima kasih kepada Telkom dan Indibiz yang telah memberikan ruang belajar yang inspiratif. Kegiatannya sangat menarik dan membuka wawasan kami tentang peluang usaha di industri parfum,” ujarnya.
Dengan mengedepankan semangat kolaborasi dan pemberdayaan komunitas, Telkom Regional 5 terus berinovasi dalam menghadirkan program-program yang tidak hanya mendukung transformasi digital, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis kreativitas.
Program Just on Indibiz Insight ini menjadi langkah nyata Telkom untuk memperluas jaringan wirausaha baru yang siap bersaing di pasar nasional maupun internasional, sembari menciptakan ekosistem bisnis digital yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan Indonesia Timur.
(Leo)
Nasional2 minggu agoHarga Telur Jebol di Bawah Rp20 Ribu, Peternak Blitar di Ambang Gulung Tikar
Nasional1 minggu agoWarga Tulungagung Laporkan Dugaan Penipuan Proyek SPPG MBG, Nama Plt Bupati Disebut dalam Pengaduan
Nasional3 minggu agoKisruh TORA Ngepoh Memanas, Ketua Pokmas Mergo Mulyo Laporkan Dugaan Fitnah ke Polda Jatim
Nasional2 minggu agoHimpunan Aktivis Malang Laporkan Dugaan Korupsi Rp12,5 Miliar di Perumda Tugu Tirta ke KPK
Nasional2 minggu ago9.000 Jamaah Padati GWD Banyuwangi, Dzikir Jama’i Nasional Persyadha Sambut Tahun Baru Islam 1448 H
Nasional4 hari agoHeboh, Dugaan Massa Dibayar Rp50 Ribu, Polemik MBG di Tulungagung Makin Panas
Jawa Timur2 minggu agoHaflah Takhrij SSA Laren, Bukti Pendidikan Karakter Masih Jadi Pilar Utama
Nasional3 minggu agoLima Perusahaan Perkebunan Dilaporkan, Akankah Pemkab Tulungagung Berani Membuka Fakta ?












