Connect with us

Nasional

Dapur Ramah Anak, Ikhtiar Cinta untuk Generasi Masa Depan

Published

on

Jakarta — Di tengah kepulan uap nasi dan denting sendok yang beradu dengan wajan, sebuah ruang kecil bernama dapur memainkan peran yang jauh lebih besar dari sekadar tempat memasak. Ia adalah ruang pendidikan, ruang perlindungan, dan ruang kasih sayang terutama bagi anak-anak, ibu hamil, dan generasi muda yang tengah tumbuh.

Dalam konteks inilah, Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang dikelola oleh Mitra BGN (Badan Gizi Nasional), menjelma menjadi garda terdepan dalam memenuhi hak anak atas asupan bergizi. Disewa secara resmi oleh BGN, dapur ini menyajikan makanan harian bagi balita, anak sekolah dari berbagai jenjang, serta ibu hamil dalam rangka program pemenuhan gizi berkelanjutan.

Kini, dapur tersebut tengah menapaki satu visi luhur: menjadi dapur ramah anak.

Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa.

Konsep “dapur ramah anak” bukan berarti membiarkan anak-anak bebas berkeliaran di dapur yang steril. Lebih dalam dari itu, konsep ini mengusung filosofi bahwa setiap sajian yang keluar dari dapur harus berpihak pada anak, memahami mereka, dan menyayangi mereka.

“Anak bukan versi kecil dari orang dewasa. Kebutuhan gizinya berbeda, ritme makannya unik, dan selera mereka berkembang sesuai usia,” ujar Imam Mawardi Ridlwan, Dewan Pembina Yayasan Bhakti Relawan Advokat Pejuang Islam, yang turut menggagas inisiatif ini.

Oleh karena itu, dapur SPPG dituntut untuk menyajikan makanan berdasarkan prinsip berikut:

• Tahapan Usia: Balita membutuhkan tekstur lembut dan zat besi tinggi; anak sekolah memerlukan energi kompleks dan protein.
• Dukungan Perkembangan Otak dan Emosi: Omega-3 dari ikan, vitamin B dari telur, serta antioksidan dari buah-buahan menjadi fondasi penting.
• Keamanan Pangan: Makanan ultra-proses, pewarna buatan, dan gula berlebih wajib dihindari.

Dapur Sebagai Ruang Dzikir dan Cinta.

Lebih dari sekadar fasilitas produksi makanan, dapur SPPG juga difungsikan sebagai ruang spiritual. Setiap aktivitas diawali dengan doa, dipandu dengan dzikir, dan diakhiri dengan syukur. Hubungan antarrelawan dibangun atas dasar cinta dan saling menghargai.

“Output dapur bukan sekadar makanan, tapi asupan bernilai positif yang lahir dari cinta dan kebersamaan,” imbuh Imam Mawardi.

Menu Variatif dan Pengelolaan Terstruktur.

Dalam program sinergi antara MBG, SPPG, dan BGN, struktur distribusi makanan dibagi ke dalam enam kelompok penerima manfaat:

1. Balita
2. Anak PAUD, TK, dan SD kelas kecil
3. SD kelas besar
4. SMP
5. SMA
6. Ibu hamil

Beberapa prinsip yang diterapkan untuk memastikan kualitas layanan gizi meliputi:

• Penggunaan beras premium agar nasi yang disajikan empuk dan nyaman dikunyah.
• Waktu memasak ideal dimulai pukul 01.30 atau 02.00 agar makanan tidak terlalu lama dari waktu distribusi.
• Menu yang kreatif dan penuh warna, menghindari tampilan monoton. Anak-anak perlu rasa dan kejutan sehat di piring mereka.
• Kerja sama harmonis antara Kasatpel (Kepala Satuan Pelayanan) dan yayasan mitra, demi manajemen yang sehat dan efisien.
• Pengawasan ketat untuk menghindari keracunan, termasuk pelarangan keras orang luar masuk ke dapur.
• Larangan merokok bagi relawan saat bertugas, sebagai bentuk disiplin dan perlindungan terhadap lingkungan dapur.

Mewujudkan Dapur sebagai Doa yang Dihidangkan.

Mewujudkan dapur SPPG yang ramah anak bukanlah sekadar program sesaat. Ia adalah ikhtiar berkelanjutan, bentuk cinta konkret, dan doa yang hadir dalam wujud sepiring nasi, semangkuk sayur, dan seiris buah segar.

Di tengah kompleksitas masalah gizi anak di Indonesia, inisiatif ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar bisa dimulai dari dapur kecil asal dikelola dengan niat tulus dan strategi yang tepat.

“Dapur ini adalah doa yang dihidangkan. Untuk masa depan anak-anak kita. Anak bangsa,” tutup Imam Mawardi dengan penuh harap. (DON/Red)

Oleh: Imam Mawardi Ridwan, Dewan Pembina Yayasan Bhakti relawan Advokat Pejuang Islam.

Jawa Timur

Polres Blitar Bongkar Peredaran Narkoba, Sita 230,23 gram Sabu dan 14.447 Butir Pil LL

Published

on

BLITAR— Komitmen memberantas Narkoba terus dibuktikan oleh Polres Blitar Polda Jawa Timur (Jatim).

Kali ini, Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Blitar Polda Jatim kembali berhasil mengungkap kasus peredaran narkotika jenis sabu selama pelaksanaan Operasi Pekat Semeru 2026.

Kapolres Blitar AKBP Rivanda., S.I.K. melalui Kasatresnarkoba Polres Blitar AKP Yussi Purwanto, S.H menjelaskan dari pengungkapan ini terdapat 2 kasus merupakan target operasi (TO) dan 4 Kasus Non TO.

Sehingga total kasus yang berhasil diungkap oleh Satresnarkoba Polres Blitar selama periode Januari hingga 10 Maret 2026 bertambah menjadi 25 kasus.

“Untuk periode Januari hingga awal Maret 2026 ini total menjadi 25 kasus terdiri dari 10 kasus sabu dan 15 kasus okerbaya jenis double L yang berhasil kita ungkap,” jelas AKP Yussi, Rabu (11/3/26).

Dari 25 kasus tersebut, lanjut AKP Yussi, Polisi mengamankan 29 tersangka menyita barang bukti sabu 230,23 gram, Okerbaya 14.447 butir LL.

AKP Yussi Purwanto, S.H menjelaskan bahwa semua pengungkapan ini berawal dari informasi masyarakat terkait dugaan adanya aktivitas transaksi narkotika di wilayah Kabupaten Blitar.

“Setelah dilakukan penyelidikan, kami berhasil mengamankan para tersangka beserta barang bukti sabu ,” kata AKP Yussi Purwanto.

Ia juga mengatakan saat ini masih mendalami pemeriksaan tersangka untuk mengungkap jaringan di atasnya termasuk pemasok yang saat ini masih dalam pencarian.

“Polres Blitar berkomitmen terus melakukan pengembangan guna memutus mata rantai peredaran narkoba di wilayah Kabupaten Blitar,” tegasnya.

Ia menghimbau kepada masyarakat untuk tidak taku melaporkan ke Polisi jika melihat atau mencurugai adanya peredaran narkoba khususnya di Kabupaten Blitar.

“Jangan takut melapor, karena indentitas pelapor kami lindungi,” pungkasnya. (Jk/Red)

Continue Reading

Jawa Timur

Ramadan Penuh Berkah, Hexa Tulungagung Bagikan Ratusan Paket Sembako untuk Warga

Published

on

TULUNGAGUNG — Menjelang penghujung bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Hexa Luxury Pool, Lounge & Karaoke kembali menggelar aksi sosial dengan membagikan ratusan paket sembako kepada masyarakat sekitar.

Kegiatan yang berlangsung di area Hexa, tepatnya di sebelah barat Jembatan Lembu Peteng, Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, disambut antusias oleh warga.

Sejak pagi, masyarakat telah berkumpul untuk menerima bantuan yang disiapkan oleh manajemen Hexa.

Sekitar seratus paket sembako dibagikan kepada warga Kelurahan Kutoanyar dan sekitarnya yang membutuhkan. Paket bantuan tersebut berisi berbagai kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, mie instan, serta bahan pangan lainnya.

Board of Directors (BOD) Hexa Luxury Pool, Lounge & Karaoke, Bayu Krisna, mengatakan kegiatan berbagi ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus ungkapan terima kasih kepada masyarakat yang selama ini mendukung keberadaan Hexa.

Warga Kutoanyar saat antri mengambil sembako di Hexa Tulungagung. Foto: (dok/istimewa)

“Momentum Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berbagi. Kami ingin menghadirkan kebahagiaan bagi warga sekitar dan berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan kebutuhan mereka,” ujar Bayu Krisna saat ditemui di lokasi, Rabu (11/3/2026).

Dirinya menjelaskan, kegiatan sosial tersebut telah menjadi agenda rutin perusahaan dan tahun ini merupakan pelaksanaan yang keempat kalinya. Program ini menjadi bagian dari komitmen sosial Hexa untuk terus hadir dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Menurutnya, manajemen Hexa berharap kegiatan berbagi ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat.

“Bagi kami, ini bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi komitmen untuk tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin keberadaan Hexa juga memberikan dampak positif bagi warga sekitar,” jelasnya.

Selain menggelar kegiatan sosial, pihak manajemen juga memanfaatkan momentum Ramadan sebagai waktu untuk melakukan berbagai pembenahan internal. Mulai dari peningkatan kebersihan area hingga peningkatan kualitas pelayanan kepada para pengunjung.

Dengan semangat berbagi dan kebersamaan di bulan suci Ramadan, Hexa Luxury Pool, Lounge & Karaoke berharap dapat terus menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat serta memberikan kontribusi nyata bagi warga Tulungagung. (Abd/Red)

Continue Reading

Jawa Timur

Diduga Ilegal Tambang Pasir di Sumenur, Bikin Warga Cemas Debit Air Sumber Umbul Terancam

Published

on

BLITAR – Di tengah instruksi tegas Presiden Prabowo Subianto untuk membasmi pertambangan liar, praktik penambangan pasir tanpa izin di lingkungan Sumenur, Dusun Karangrejo, Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, justru makin berani beroperasi.

Aktivitas yang memanfaatkan kelengangan malam ini tidak hanya mengancam stabilitas lingkungan, tetapi juga memicu kelangkaan solar subsidi di tingkat akar rumput.

Alat berat yang digunakan dilokasi pertambangan,(dok/tim Pjr).

Warga setempat menggambarkan operasi tambang ini layaknya “kucing-kucingan” dengan aparat. Jika siang sunyi senyap, malam hari berubah menjadi riuh rendah oleh suara alat berat yang diduga menggali pasir secara ilegal.

Menguras Air dan Menggerus Lingkungan

Yang paling dikhawatirkan warga bukan sekadar kebisingan. Letak penambangan yang berada di dekat Sumber Umbul sumber mata air vital bagi warga kini menjadi momok tersendiri.

“Kami takut debit air mulai berkurang. Ini sumber kehidupan kami. Kalau lingkungan rusak dan mata air kering, siapa yang bertanggung jawab?” ujar seorang warga yang meminta namanya disembunyikan, kepada awak media, pada Senin (10/3).

Dugaan perusakan lingkungan ini kian menguat seiring hancurnya infrastruktur jalan desa akibat lalu-lalang truk bermuatan berat. Jalan yang dulu mulus, kini berlubang dan becek, menyulitkan warga yang hanya menggunakan kendaraan ringan.

Solar Subsidi: Siapa yang Menyedot?

Tak hanya soal pasir dan lingkungan, warga juga menyoroti sumber bahan bakar alat berat tersebut. Dalam satu malam, satu unit alat berat diperkirakan bisa menghabiskan 200 liter solar. Jika tiga unit beroperasi, total konsumsi mencapai 600 liter per malam, atau 18.000 liter per bulan.

Pertanyaannya, dari mana mereka mendapatkan solar sebanyak itu? Di saat petani dan nelayan di Blitar kesulitan mendapat solar subsidi akibat pembatasan kuota, warga curiga tambang ilegal ini justru menyedot BBM bersubsidi yang bukan haknya.

“Kalau mereka pakai solar subsidi, ini namanya merampok hak rakyat. Negara dirugikan, lingkungan hancur, BBM langka,” tegas warga tersebut.

Terlepas dari dalih ekonomi, aktivitas ini tetaplah pelanggaran hukum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba, siapa pun yang menambang tanpa izin terancam pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda hingga Rp100 miliar.

Tak hanya penambang, pihak yang membeli, menampung, atau mengangkut hasil tambang ilegal juga bisa dijerat. Sementara itu, jika terbukti menggunakan solar subsidi untuk keperluan industri, pelaku bisa dijerat UU Migas Nomor 22 Tahun 2001.

Warga berharap kasus ini tak hanya berakhir di pemberitaan. Mereka mendesak Menteri Pertahanan, Kapolri, dan Panglima TNI untuk segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi tambang yang diduga kuat beroperasi setiap malam.

“Kami minta ada tindakan nyata. Jangan sampai aparat hanya tegas di atas kertas, tapi lupa bahwa ada ‘kucing’ yang sibuk ‘berkutik’ di malam hari. Apalagi jika ada oknum yang membekingi, ini harus dibongkar tuntas,” tutup warga dengan nada geram.

Sementara, hingga berita ini dipublikasikan, pihak yang berwenang belum memberikan konfirmasi lebih lanjut. (*/Tim)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Trending