Redaksi
Komandan Pasmar 3 Ikuti Rakor Program Nasional Makan Bergizi Gratis Di Provinsi Papua Barat Daya

Kota Sorong – Dalam rangka penyelenggaraan Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Provinsi Papua Barat Daya, Komandan Pasmar 3 Brigjen TNI (Mar) Andi Rahmat M., didampingi Komandan Batalyon Perbekalan (Danyon Bekpal) 3 Marinir Letkol Mar Satya Darma Pardede mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung di Ballroom 2, Rylich Panorama Hotel, Jl. Sam Ratulangi, No.55, Klasuur, Distrik Sorong, Kota Sorong, Papua Barat Daya. Selasa (14/01/25).
Rakor yang dipimpin langsung oleh Pj Gubernur Papua Barat Daya Dr. Drs Muhammad Musa’ad, M.Si., dan diikuti secara Video Conference (Vicon) oleh Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran sekaligus Direktur Wilayah I Direktorat Badan Gizi Nasional Kolonel Czi. Wahyu Widisetyanta, S.Si., M.Si serta diikuti juga oleh Kepala Subdirektorat Dana Otonomi Khusus (DODK) di Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kemenkeu RI Bapak Ardimansyah.
Dalam sambutan Pj Gubernur Papua Barat Daya menyampaikan bahwa program Nasional MBG ini merupakan program yang diselenggarakan oleh Pemerintah pusat dalam hal ini Presiden RI Prabowo Subianto yang bertujuan untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak Indonesia dalam mewujudkan generasi emas 2045 menuju Indonesia maju.
“Untuk itu Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya akan mendukung penuh program Makan Bergizi Gratis ini sebagai bentuk implementasi Asta Cita Bapak Presiden dan Wakil Presiden RI dalam memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui perbaikan gizi masyarakat dengan bersinergi bersama TNI, Polri dan Stakeholder yang ada di Provinsi Papua Barat Daya,” tegas Muhammad Musa’ad.
Pada kesempatan tersebut Komandan Pasmar 3 juga memberikan saran dan masukan terkait program Nasional MGB di wilayah Provinsi Papua Barat Daya yang akan siap mendukung dalam terlaksananya program tersebut dalam hal ini TNI Angkatan Laut di wilayah Sorong seperti Koarmada III, Pasmar 3 dan Lantamal XIV Sorong yang juga lebih dulu melaksanakan program MGB tersebut.
Mengakhiri Rakor tersebut seluruh pejabat yang hadir melaksanakan penandatanganan Berita acara kesepakatan dalam rangka pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MGB) dilanjutkan dengan sesi foto bersama.
(Tim/Red)
Redaksi
APH Seolah Tak Bertaring, Toko Miras Anugrah di Tulungagung Diduga Bebas Layani COD

TULUNGAGUNG — Peredaran minuman keras (miras) di wilayah Tulungagung diduga semakin bebas dan terang-terangan. Penjualan dilakukan dengan sistem cash on delivery (COD), di mana pesanan diantar langsung ke lokasi konsumen tanpa memandang usia pembeli.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebuah toko bernama Anugrah diduga melayani pemesanan miras secara fleksibel melalui nomor admin +62 823-3229-XXXX/ 081330067XXX yang aktif setiap hari. Baik kalangan dewasa maupun yang diduga masih di bawah umur disebut tetap dilayani selama melakukan pemesanan.
Salah seorang warga mengaku pernah memesan miras melalui layanan COD dari toko tersebut dan barang dikirim langsung ke lokasi yang diminta. Sistem transaksi dilakukan melalui komunikasi dengan admin yang mengendalikan nomor pemesanan.
“Kalau pesan tetap dilayani dan diantar sampai tempat, dan itu sudah berlangsung sejak dulu” ujar warga yang enggan disebutkan namanya, Senin(25/5).
Warga lainnya mengaku khawatir dengan pola penjualan seperti itu karena dinilai mempermudah akses miras di tengah masyarakat, terutama bagi remaja. Selain sulit diawasi, layanan COD membuat transaksi berlangsung tertutup dan berpindah-pindah lokasi.
Diketahui, nomor admin toko Anugrah disebut aktif melayani pemesanan mulai pagi hari hingga sekitar pukul 20.00 WIB.
Aktivitas tersebut memicu keresahan warga yang berharap ada perhatian serius dari aparat penegak hukum (APH) maupun pemerintah daerah terkait pengawasan peredaran minuman keras ilegal.
Masyarakat meminta adanya penertiban terhadap praktik penjualan miras sistem COD yang dinilai semakin marak dan berpotensi merusak generasi muda di Tulungagung. (DON/Red)
Editor: Joko Prasetyo
Redaksi
Hari Arafah, Saat Menyuburkan Hati dan Menguatkan Ketahanan Bangsa

Jakarta — Di tengah tekanan ekonomi global, gejolak nilai tukar, serta beratnya tantangan kehidupan yang dirasakan masyarakat, momentum Hari Arafah menjadi pengingat penting bahwa ketahanan bangsa tidak hanya dibangun dari kekuatan ekonomi, tetapi juga dari kekuatan moral, spiritual, dan solidaritas sosial.
Pada perdagangan awal pekan, Senin (25/5/2026), nilai tukar rupiah tercatat bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.680 hingga Rp17.705 per dolar Amerika Serikat, mencerminkan dinamika ekonomi global yang masih penuh tekanan. Di tengah situasi seperti ini, masyarakat kerap dihadapkan pada kecemasan akan daya beli, kebutuhan hidup, hingga ketidakpastian masa depan.
Dalam konteks itulah, Hari Arafah yang diperkirakan jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026, hadir bukan sekadar sebagai momentum keagamaan, tetapi juga ruang refleksi bagi masyarakat untuk memperkuat ketenangan batin, kebersamaan sosial, dan optimisme menghadapi tantangan zaman.
Hari Arafah merupakan salah satu hari istimewa dalam ajaran Islam. Saat jutaan jemaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah, umat Muslim di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, dianjurkan menghidupkan hari tersebut dengan memperbanyak ibadah seperti puasa sunnah, doa, zikir, istighfar, dan sedekah.
Bagi masyarakat Nusantara yang menjunjung tinggi nilai religiusitas dan gotong royong, Hari Arafah memiliki makna yang lebih luas dari sekadar ritual personal. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah tekanan hidup, manusia tidak boleh kehilangan arah, empati, dan kepedulian terhadap sesama.
Sebagaimana hujan yang menyuburkan tanah yang kering, nilai-nilai spiritual diyakini mampu menenangkan hati yang lelah akibat tekanan ekonomi, persoalan keluarga, maupun dinamika sosial yang terus berubah.
Dalam kehidupan berbangsa, ilmu, iman, dan akhlak merupakan fondasi penting. Sebab, kekuatan masyarakat tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari karakter moral, ketahanan mental, serta kemampuan untuk tetap saling menopang di masa sulit.
Salah satu amalan utama yang dianjurkan bagi umat Muslim yang tidak sedang berhaji adalah Puasa Arafah. Dalam hadis riwayat Muslim, puasa sunnah ini memiliki keutamaan sebagai penghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Selain itu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa, memohon keselamatan keluarga, kesehatan, kelapangan rezeki, ketenangan jiwa, hingga kebaikan bagi bangsa dan negara.
Di tengah tantangan global yang terus bergerak, Hari Arafah menjadi pengingat sederhana bahwa membangun bangsa tidak cukup hanya dengan memperkuat angka-angka ekonomi, tetapi juga dengan menjaga hati, memperkuat solidaritas, dan meneguhkan nilai kemanusiaan.
Karena bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu bertahan secara ekonomi, tetapi juga bangsa yang tetap memiliki harapan, empati, dan keteguhan moral. (By/Red)
Redaksi
Menguji Ketahanan Pangan: Tidak Cukup Bertumpu pada Sawah

Jakarta— Ketahanan pangan kembali menjadi agenda strategis pemerintah di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, serta ketidakpastian rantai pasok dunia. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, penguatan sektor pangan ditempatkan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional, bukan hanya untuk menjamin pasokan domestik, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah ekonomi, dan memperkuat fondasi kemandirian nasional.
Namun, pertanyaannya: apakah ketahanan pangan cukup hanya bertumpu pada sawah?
Pendekatan yang kini mulai dibangun pemerintah menunjukkan arah yang lebih luas. Ketahanan pangan tidak lagi dipahami semata sebagai urusan produksi beras, melainkan penguatan ekosistem pangan nasional secara terintegrasi, mulai dari pertanian, peternakan, hingga sektor kelautan dan perikanan.
Hal itu tercermin dari langkah Presiden Prabowo saat menghadiri panen raya udang di kawasan tambak modern Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) seluas 65 hektare di Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah.
Dalam kesempatan itu, Presiden menegaskan bahwa proyek-proyek produktif akan menjadi prioritas pemerintah dalam bulan-bulan mendatang.
“Produktif artinya harus menciptakan lapangan kerja untuk rakyat, menghasilkan nilai tambah untuk devisa negara sekaligus meningkatkan penghasilan rakyat,” tegas Prabowo.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan pangan tidak lagi semata dipandang sebagai agenda konsumsi, melainkan bagian dari strategi ekonomi nasional.
Tambak budidaya udang di Kebumen menjadi salah satu contoh konkret. Kawasan tersebut disebut mampu menyerap 650 tenaga kerja lokal serta menghasilkan hingga 40 ton udang per hektare, dengan nilai ekonomi tinggi karena harga komoditas yang mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram.
Artinya, sektor pangan, khususnya perikanan modern, dapat menjadi mesin pencipta lapangan kerja sekaligus sumber devisa baru.
Lebih jauh, Presiden juga menyoroti persoalan klasik kebocoran kekayaan nasional.
“Indonesia sungguh sangat kaya, tetapi terlalu banyak kekayaan kita bocor. Kebocoran ini harus kita hentikan. Kekayaan bangsa harus dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan segelintir saja,” ujarnya.
Pesan ini memperlihatkan bahwa penguatan sektor produktif, termasuk pangan, tidak hanya bicara produksi, tetapi juga menyangkut tata kelola ekonomi nasional yang lebih adil.
Di titik inilah definisi ketahanan pangan menjadi lebih relevan.
Selama ini, narasi ketahanan pangan terlalu sering identik dengan beras. Padahal kebutuhan pangan masyarakat jauh lebih kompleks. Ketahanan pangan bukan hanya soal karbohidrat, tetapi juga kecukupan protein, diversifikasi sumber pangan, serta kemampuan negara mengelola seluruh potensi sumber dayanya.
Sebagai negara maritim, Indonesia justru memiliki keunggulan besar yang selama ini belum dimaksimalkan secara optimal.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dietriech G Bengen, menilai sektor kelautan dapat menjadi salah satu fondasi penting ketahanan pangan nasional.
Dalam situasi ketidakstabilan ekonomi yang kerap diiringi lonjakan harga pangan, subsektor perikanan dinilai mampu menjadi penyangga pasokan protein melalui penguatan akuakultur maupun perikanan tangkap yang dikelola secara berkelanjutan.
Tak hanya menopang kebutuhan domestik, sektor ini juga menyimpan nilai ekonomi tinggi. Komoditas seperti udang, tuna, rumput laut, hingga kepiting telah lama menjadi produk unggulan Indonesia di pasar global.
Namun demikian, optimisme tersebut tidak boleh menutup realitas bahwa sektor pertanian tetap menghadapi tantangan serius.
Indonesia memang pernah mencatat tonggak sejarah penting pada 1984 ketika berhasil mencapai swasembada beras. Produksi nasional kala itu mampu memenuhi kebutuhan konsumsi domestik. Tetapi keberhasilan tersebut tidak berlangsung permanen.
Alih fungsi lahan pertanian, pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, stagnasi produktivitas, hingga ketergantungan pada impor menunjukkan bahwa persoalan pangan nasional jauh lebih kompleks daripada sekadar meningkatkan angka produksi.
Di tingkat petani, tantangan paling nyata justru terletak pada biaya produksi yang terus meningkat.
Untuk menanam padi di lahan seluas 1 hektare, biaya realistis saat ini berkisar antara Rp10 juta hingga Rp18 juta per musim tanam. Angka itu mencakup kebutuhan benih, pengolahan lahan, pupuk, pestisida, biaya tanam, hingga panen.
Dalam kondisi ideal, hasil panen 6 hingga 8 ton per hektare memang memungkinkan. Namun di banyak daerah, capaian 4 hingga 6 ton justru lebih realistis.
Dengan asumsi harga gabah berada di kisaran Rp5.500 hingga Rp6.500 per kilogram, keuntungan petani kerap tergerus setelah dikurangi biaya produksi, terutama saat dihadapkan pada pupuk langka, cuaca ekstrem, atau serangan hama.
Artinya, menggantungkan ketahanan pangan hanya pada sawah justru berisiko menciptakan kerentanan baru.
Di sisi lain, sektor kelautan pun bukan tanpa tantangan. Praktik penangkapan ikan ilegal, keterbatasan pelabuhan perikanan, minimnya cold storage, persoalan distribusi logistik, hingga ancaman perubahan iklim dan kerusakan ekosistem laut masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Karena itu, strategi ketahanan pangan nasional membutuhkan pendekatan yang benar-benar terintegrasi.
Pertanian rakyat harus diperkuat. Sistem irigasi perlu dibenahi. Akses pupuk wajib dijamin. Harga panen harus tetap sehat bagi petani. Pada saat yang sama, potensi kelautan dan perikanan harus dioptimalkan secara modern, berkelanjutan, dan berbasis nilai tambah.
Ketahanan pangan pada akhirnya bukan sekadar soal memperbesar produksi.
Ia adalah soal keberlanjutan, pemerataan akses, kesejahteraan produsen pangan, penciptaan lapangan kerja, serta kemampuan negara mengelola seluruh sumber dayanya secara adil dan efisien.
Jika sawah adalah fondasi ketahanan pangan nasional, maka laut adalah kekuatan besar yang selama terlalu lama menunggu untuk dimaksimalkan. (By/Red)
Redaksi2 minggu agoPenipuan Berkedok Investasi MLM di Hong Kong, Puluhan PMI Terjerat Utang Miliaran Rupiah
Redaksi4 hari agoGelombang Protes Hantam SPPG Karangwaru Tulungagung, Menu MBG Dinilai Tak Manusiawi
Redaksi4 hari agoMBG di Karangwaru Bobrok: Menu Tak Layak Diduga Akibat Permainan Mitra dan Kontrol Mandul
Nasional3 minggu agoPSHT “Kepung” DPRD dan KONI Blitar, Ultimatum Keras Dilayangkan: Massa Ancam Turun 10 Kali Lipat
Jawa Timur2 minggu agoUstadz Abdul Adzim Wafat di Usia Muda, Pesantren Zawiyah Dzikir Jama’i Kehilangan Sosok Pengabdi Sunyi
Redaksi2 minggu ago560 Hektare Terlantar, Pokmas Tani Mandiri Desak Negara Cabut HGU Eks PT Indoco
Nasional2 minggu agoNegara Hukum Indonesia Bukan Negara Undang-Undang
Redaksi1 minggu agoWibawa Pemkab Tulungagung Dipertanyakan, Bangunan Disanksi Satpol PP Kembali Berdiri di Lahan LP2B







