Connect with us

Nasional

Resmi Sandang Baret Ungu, Komandan Pasmar 3 Hadiri Upacara Pembaretan Siswa Dikmaba dan Dikmata Angkatan XLIII/2 Korps Marinir

Published

on

Kota Sorong PBD, 90detik.com – Komandan Pasmar 3 Brigjen TNI (Mar) Sugianto, S.Sos., M.M., M.Tr.Opsla., didampingi Ketua Korcab Jalasenastri Pasmar 3 Ny. Rita Sugianto, menghadiri upacara pembaretan Siswa Pendidikan Bintara dan Tamtama angkatan 43 gelombang 2 Korps Marinir di Pantai Baruna Kondang Iwak, Dusun Sumberpucung, Desa Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sabtu (14/09/2024).

Tradisi pembaretan merupakan momen bersejarah bagi para prajurit petarung Korps Marinir setelah menempuh Pendidikan Komando (Dikko) selama kurang lebih 90 hari. Prajurit Komando harus mampu melewati 5 tahapan latihan mulai dari tahap dasar Komando, kemampuan dan Ketahanan Laut, pertempuran hutan, teknik dan taktik perang gerilya serta tahap lintas Medan Banyuwangi menuju Pantai Baruna Kondang Iwak Malang Selatan.

Upacara penyematan tersebut dipimpin oleh Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP., dan diikuti 461 prajurit petarung Korps Marinir yang terdiri dari 119 siswa Dikmaba dan 342 siswa Dikmata angkatan 43 gelombang 2 Korps Marinir.

Dalam sambutannya Komandan Korps Marinir mengucapkan selamat atas keberhasilan para siswa yang telah mampu menempuh Pendidikan Komando dan bergabung di Korps Marinir TNI Angkatan Laut. “First Boots On The Ground” yaitu pasukan pertama menapakkan kaki di pantai musuh untuk melaksanakan serbuan amfibi.

“Banggalah kalian menjadi prajurit Korps Marinir, Korps kebanggaan bangsa dan negara yang selalu menjadi garda terdepan dalam membela serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ucap Dankormar.

Turut hadir Dankodiklatal Letjen TNI (Mar) Nur Alamsyah, S.E., M.M., M.Tr.(Han)., Danpasmar 1, Danpasmar 2, para pejabat utama Korps Marinir dan Ketua Gabungan Jalasenastri, beserta pejabat Forkopimda Kabupaten Malang.

(Tim/Red)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawa Timur

Wakil Bupati Blitar dan Bupati Kompak Dorong Stabilisasi Harga Telur ke Pusat 

Published

on

BLITAR — Ratusan peternak ayam petelur dari Blitar Raya, Kediri, Tulungagung, hingga Trenggalek menggelar aksi demonstrasi sekaligus pembagian satu juta telur gratis di depan Kantor Bupati Blitar, Kanigoro, pada Senin (1/6).

Di tengah aksi tersebut, Wakil Bupati Blitar Beky Herdihansyah secara tegas mendorong pemerintah pusat untuk turun tangan menstabilkan harga telur ayam ras yang terus merosot di tingkat peternak rakyat.

Wakil Bupati Blitar Beky Hardihansyah, saat menyampaikan keterangan pers, (dok/JK)

Saat ini, harga telur berada di kisaran Rp 21 ribu per kilogram, sementara biaya pakan ternak justru mengalami kenaikan signifikan. Kondisi ini dinilai semakin menekan peternak kecil yang terancam terus merugi.

Beky Herdihansyah yang juga dikenal sebagai pelaku usaha peternakan menyebutkan bahwa intervensi pemerintah sangat dibutuhkan agar peternak rakyat dapat bertahan.

Ia mengingatkan bahwa sebelumnya Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah mengajukan harga acuan di level Rp 24.500 hingga Rp 26.500 per kilogram.

“Ke depan kami berharap sistem distribusi bisa berjalan melalui Koperasi Desa Merah Putih agar harga lebih stabil dan tidak dimainkan spekulan,” ujar Beky di hadapan awak media.

Ia pun membandingkan kebijakan stabilisasi harga gabah yang dinilai berjalan dengan baik.

Menurutnya, pemerintah semestinya juga mampu menstabilkan harga telur. Pemerintah daerah, lanjutnya, akan terus berkomunikasi dan mengirimkan surat kepada pemerintah pusat terkait penataan harga telur.

Sementara itu, Bupati Blitar Rijanto yang turun langsung berdialog dengan massa aksi mengakui bahwa harga telur di level Rp21 ribu per kilogram merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan usaha peternak rakyat.

Rijanto memaparkan sejumlah solusi yang tengah disiapkan, antara lain memperluas penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia juga mengusulkan agar distribusi telur untuk kebutuhan MBG dilakukan melalui Koperasi Desa Merah Putih sehingga pasokan berasal langsung dari peternak rakyat.

“Kalau pengadaan telur dilakukan melalui koperasi desa, stabilitas harga akan lebih terjaga dan peternak rakyat bisa lebih terlindungi,” tegas Rijanto.

Selain menuntut penegakan Harga Acuan Pembelian (HAP), para peternak juga menyatakan penolakan terhadap investasi skala besar di sektor peternakan ayam petelur yang dinilai berpotensi menggerus keberlangsungan usaha peternak kecil.

Aksi sosial bertajuk Bagi-Bagi 1 Juta Telur yang berlangsung tertib ini mendapat pengawalan aparat keamanan. Di tengah terik matahari, ribuan warga tampak mengantre telur gratis di kawasan Kantor Bupati Blitar.

Di balik aksi sosial tersebut, para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar kandang-kandang peternak rakyat tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. (JK/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Nasional

Harga Telur Anjlok, Peternak Blitar Bagi 1 Juta Telur Gratis dan Tuntut Perlindungan

Published

on

BLITAR — Pemandangan tak biasa terlihat di depan Kantor Bupati Blitar, Kanigoro, pada Senin (1/6/2026). Di bawah terik matahari, ribuan warga rela mengantre panjang demi mendapatkan telur gratis. Dari kejauhan, suasana menyerupai pasar rakyat atau festival pangan murah.

Namun, di balik pembagian satu juta butir telur gratis, tersimpan suara protes yang lebih besar, jeritan peternak ayam petelur rakyat yang mengaku semakin terhimpit.

Aksi sosial bertajuk “Bagi-Bagi 1 Juta Telur” yang digelar peternak mikro kecil Blitar Raya itu bukan sekadar kegiatan berbagi kepada masyarakat.

Di saat warga pulang membawa telur, para peternak justru datang membawa keresahan tentang usaha mereka yang disebut sedang berada di ujung tanduk.

Ratusan peternak ayam petelur rakyat turun ke jalan dengan dua tuntutan utama, penegakan Harga Acuan Pembelian (HAP) telur ayam dan penolakan investasi skala besar di sektor peternakan ayam petelur.

“Kami tinggalkan kandang bukan untuk jalan-jalan. Kami datang karena dapur kami terancam berhenti mengepul,” teriak seorang orator dari atas mobil komando, disambut sorak peserta aksi.

Kabupaten Blitar selama ini dikenal sebagai salah satu sentra telur nasional. Dari ribuan kandang peternak rakyat di wilayah tersebut, jutaan butir telur dipasok ke berbagai daerah di Indonesia.

Namun di tengah kontribusi besar itu, peternak merasa perlindungan terhadap keberlangsungan usaha mereka masih jauh dari harapan. Mereka menyoroti lemahnya implementasi HAP yang ditetapkan pemerintah.

Harga telur di tingkat peternak saat ini disebut hanya berada di kisaran Rp 21.000 per kilogram, angka yang dinilai jauh dari titik aman produksi.

Bagi peternak, persoalannya bukan semata harga turun, melainkan biaya produksi yang justru terus merangkak naik.

Harga jagung, konsentrat, hingga bahan baku pakan disebut terus mengalami kenaikan, membuat keuntungan usaha semakin menipis.

“Katanya ada aturan untuk melindungi peternak, tapi di lapangan kami tetap rugi setiap hari. HAP harus ditegakkan, jangan hanya jadi tulisan,” ujar salah satu peserta aksi.

Koordinator Aksi saat menyampaikan keterangan pers, (dok/JK).

Tolak Investor Besar, Khawatir Peternak Rakyat Tersingkir

Tak hanya menyoal harga telur, aksi tersebut juga menjadi panggung penolakan terhadap masuknya investasi skala besar di sektor peternakan ayam petelur.

Peternak mikro kecil secara terbuka menyuarakan kekhawatiran atas ekspansi perusahaan besar yang dinilai berpotensi menggerus ruang hidup usaha rakyat.

Mereka menilai persaingan antara peternak rakyat dan korporasi besar tidak berada pada posisi yang setara. Ketimpangan modal, kapasitas produksi, hingga akses pasar disebut dapat mempercepat tumbangnya peternakan skala kecil.

“Kami bukan anti investasi. Tapi jangan sampai peternak kecil mati di kandang sendiri. Kalau merugikan peternak rakyat, kami tolak investasi besar,” ujar salah satu peternak dalam aksi tersebut.

Sementara, Suyanto, peternak mikro kecil asal Blitar, mengatakan kondisi saat ini menjadi salah satu fase paling berat yang pernah dialami peternak rakyat. Menurut dia, hasil penjualan telur kini tak lagi sebanding dengan biaya operasional harian.

“Kalau terus seperti ini, banyak peternak kecil bisa berhenti. Yang kecil makin habis,” katanya.

Pemkab Blitar Janji Cari Solusi

Aspirasi peternak mendapat respons langsung dari Bupati Blitar Rijanto bersama Wakil Bupati Blitar Beky Hardiansah yang menemui massa aksi di depan kantor bupati.

Dalam dialog terbuka, Rijanto mengakui harga telur di kisaran Rp 21.000 per kilogram menjadi persoalan serius yang perlu segera dicarikan jalan keluar agar tidak mengancam keberlangsungan usaha peternak rakyat.

Pemerintah Kabupaten Blitar, kata dia, tengah menyiapkan sejumlah langkah penanganan. Salah satunya memperluas penyerapan telur melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain itu, Pemkab juga berencana memanfaatkan jaringan Koperasi Merah Putih sebagai jalur distribusi telur rakyat agar pemasaran lebih luas dan harga lebih stabil.

Sementara terkait penolakan investasi skala besar, Rijanto menyatakan pemerintah daerah akan mengkaji ulang kebijakan perizinan usaha peternakan korporasi di wilayah Blitar.

Aksi berlangsung tertib di bawah pengawalan aparat keamanan. Namun pembagian satu juta butir telur gratis itu meninggalkan ironi yang sulit diabaikan, ketika peternak masih mampu berbagi kepada masyarakat.

Pada saat yang sama mereka sedang berjuang menyelamatkan kandang mereka sendiri dari ancaman gulung tikar. (JK/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Jawa Timur

“Satu Juta Outlet Bebek Purnama” Sebuah Legenda Kuliner yang Tumbuh Lewat Kepercayaan

Published

on

Pasuruan— Di Jawa Timur, ada satu candaan yang hampir dipahami semua pecinta kuliner: Bebek Purnama punya satu juta outlet.

Tentu saja jumlah tersebut bukan angka sebenarnya. Istilah “Satu Juta Outlet” hanyalah hiperbola yang lahir dari kekaguman masyarakat terhadap begitu banyaknya warung bebek goreng yang menggunakan nama Purnama dan tersebar di hampir setiap sudut kota, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Mojokerto, hingga Malang.

Fenomena ini menjadi unik karena di tengah menjamurnya warung dengan nama serupa, masyarakat justru kerap menemukan berbagai tulisan yang membingungkan sekaligus mengundang senyum. Ada yang memasang spanduk “Cabang Purnama”, ada yang menulis “Purnama Asli”, bahkan tidak sedikit yang mencantumkan kalimat “Tidak Buka Cabang”.

Dari situlah muncul pertanyaan yang terus hidup di tengah masyarakat: sebenarnya yang asli yang mana?

Namun di balik pertanyaan tersebut, tersimpan sebuah kisah panjang mengenai sejarah kuliner rakyat, jaringan perantau, serta budaya berbagi yang menjadikan Bebek Purnama lebih dari sekadar warung makan.

Berawal dari Sebuah Nama di Kawasan Dinoyo.

Menurut cerita yang berkembang di kalangan pelaku usaha kuliner Surabaya, nama Purnama berasal dari kawasan sekitar Bioskop Purnama yang dahulu berdiri di wilayah Dinoyo, Surabaya.

Di kawasan itulah para pelopor usaha bebek goreng mulai dikenal masyarakat sekitar pada era 1990-an. Nama lokasi tersebut kemudian melekat pada usaha kuliner yang mereka jalankan hingga akhirnya berkembang menjadi identitas yang dikenal luas oleh masyarakat Jawa Timur.

Seiring waktu, nama Purnama tidak lagi sekadar menunjukkan lokasi asal berjualan. Nama tersebut berubah menjadi simbol kuliner yang identik dengan bebek goreng berbumbu kuat, sambal pedas, dan taburan serundeng kelapa yang melimpah.

Bagi sebagian warga Surabaya, Bebek Purnama bahkan menjadi bagian dari memori kolektif kota. Ia hadir bukan hanya sebagai tempat makan, melainkan juga sebagai bagian dari cerita malam, tongkrongan keluarga, hingga perjalanan kuliner lintas generasi.

Tumbuh Tanpa Sistem Waralaba.

Berbeda dengan banyak merek kuliner modern yang berkembang melalui sistem franchise, Bebek Purnama justru tumbuh melalui pola yang jauh lebih sederhana.

Banyak penjual memperoleh keterampilan memasak dari keluarga, kerabat, teman, atau sesama perantau Madura yang telah lebih dahulu menjalankan usaha serupa. Setelah menguasai resep dan teknik memasak, mereka kemudian membuka usaha sendiri dengan tetap membawa nama Purnama sebagai identitas dagang.

Pola inilah yang membuat penyebarannya berlangsung sangat cepat.

Tanpa kantor pusat, tanpa biaya lisensi, tanpa kontrak kemitraan yang rumit, jaringan warung Bebek Purnama terus berkembang mengikuti arus hubungan sosial masyarakat.

Dalam praktiknya, yang diwariskan bukan hanya resep, tetapi juga pengalaman usaha, jaringan pemasok, hingga cara bertahan menghadapi persaingan.

Budaya Berbagi yang Menjadi Kekuatan.

Salah satu faktor yang kerap disebut dalam berbagai cerita mengenai Bebek Purnama adalah sikap terbuka para pelopor usaha yang tidak terlalu ketat menjaga resep maupun teknik memasak.

Alih-alih merahasiakan ilmu dagang, banyak di antara mereka justru mengajarkan cara memasak kepada orang-orang yang ingin memulai usaha sendiri.

Dari satu warung lahir beberapa warung baru. Dari satu keluarga berkembang menjadi jaringan usaha yang lebih luas.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana budaya berbagi pengetahuan dapat menciptakan efek ekonomi yang besar bagi masyarakat.

Di tengah dunia bisnis yang sering kali menempatkan rahasia dagang sebagai aset utama, Bebek Purnama berkembang dengan pendekatan yang berbeda: kepercayaan sosial.

Perkembangan Bebek Purnama juga tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat Madura yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dalam perkembangan kuliner Jawa Timur.

Tradisi merantau yang kuat membuat banyak keluarga Madura membangun usaha makanan di berbagai daerah. Dari sate, soto, nasi campur, hingga bebek goreng, jaringan usaha tersebut tumbuh melalui hubungan kekeluargaan dan solidaritas komunitas.

Dalam kasus Bebek Purnama, pola penyebarannya diyakini mengikuti jalur sosial yang serupa.

Melalui hubungan antarkerabat dan sesama perantau, resep serta keterampilan memasak diwariskan secara turun-temurun. Akibatnya, banyak warung memiliki karakter rasa yang mirip meskipun berdiri secara mandiri.

Lebih dari Sekadar Kuliner.

Pengamat budaya dan geopolitik Nusantara dan salah satu pelanggan, Bayu Sasongko, pada 31/5/2026 menilai fenomena Bebek Purnama merupakan contoh menarik bagaimana identitas budaya lokal dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi rakyat.

Menurutnya, sebelum konsep franchise modern dikenal luas, masyarakat Nusantara sebenarnya telah lama mengenal pola pengembangan usaha berbasis komunitas.

“Bebek Purnama menunjukkan bahwa masyarakat memiliki tradisi kewirausahaan yang dibangun melalui kepercayaan, jaringan sosial, dan semangat berbagi ilmu. Model seperti ini sudah hidup jauh sebelum sistem waralaba modern berkembang,” ujarnya.

Bayu menilai keberhasilan Bebek Purnama bertahan selama puluhan tahun membuktikan bahwa modal sosial sering kali lebih kuat daripada modal finansial.

“Ketika masyarakat saling percaya dan saling mendukung, sebuah usaha dapat berkembang secara organik tanpa harus memiliki struktur perusahaan besar. Dalam konteks ini, Bebek Purnama adalah contoh nyata ekonomi kerakyatan yang tumbuh dari bawah,” katanya.

Simbol Budaya Jawa Timur.

Menurut Bayu, pada titik tertentu nama Purnama telah melampaui fungsi awalnya sebagai identitas usaha.

Ia berubah menjadi simbol budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Ketika sebuah nama usaha mulai menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, menjadi bahan candaan, dan dikenal lintas generasi, maka nama itu telah memasuki wilayah budaya. Purnama bukan lagi sekadar warung makan, tetapi bagian dari identitas kuliner Jawa Timur,” ujarnya.

Fenomena banyaknya spanduk yang sama-sama mengklaim sebagai “asli” justru menunjukkan kuatnya pengaruh nama tersebut dalam imajinasi masyarakat.

Alih-alih memunculkan konflik identitas, kondisi tersebut berkembang menjadi humor kolektif yang diterima publik sebagai bagian dari cerita panjang Bebek Purnama.

Warisan Kuliner yang Terus Hidup.

Di tengah berkembangnya restoran modern, layanan pesan antar digital, dan perubahan gaya hidup masyarakat, Bebek Purnama tetap bertahan sebagai salah satu ikon kuliner Jawa Timur.

Warung-warungnya masih ramai dikunjungi pelanggan yang mencari cita rasa khas yang telah mereka kenal selama bertahun-tahun.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan sebuah kuliner tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada cerita yang menyertainya.

Di balik sepiring bebek goreng terdapat kisah tentang perantauan, kerja keras, solidaritas komunitas, dan budaya berbagi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Barangkali karena itulah istilah “Satu Juta Outlet Bebek Purnama” terus hidup di tengah masyarakat.

Bukan karena jumlahnya benar-benar mencapai satu juta, melainkan karena pengaruhnya telah menyebar begitu luas hingga terasa hadir di hampir setiap sudut Jawa Timur.

Dan selama masih ada warung tenda yang mengepul di malam hari, selama masih ada pelanggan yang mencari sambal pedas dan serundeng khasnya, legenda Bebek Purnama tampaknya akan terus menjadi bagian dari sejarah kuliner Nusantara. (By/Red)

Continue Reading

Trending