Jakarta
Kelas Menengah Indonesia: Hidup Makin Mahal, Naik Kelas Makin Sulit

Jakarta— Dalam dua dekade terakhir, kelas menengah Indonesia pernah dipandang sebagai simbol keberhasilan pembangunan nasional. Mereka menjadi wajah optimisme ekonomi: memiliki pekerjaan tetap, mampu mencicil rumah, menyekolahkan anak lebih tinggi dari generasi sebelumnya, memiliki kendaraan pribadi, hingga menikmati gaya hidup urban modern, Jumat(8/5).
Namun hari ini, optimisme itu mulai mengalami erosi perlahan.
Di banyak kota besar, terutama Jakarta dan kawasan penyangga urban, semakin banyak keluarga kelas menengah merasa hidup mereka tidak benar-benar bergerak maju. Penghasilan memang masih ada, tetapi biaya hidup meningkat jauh lebih cepat dibanding kemampuan pendapatan untuk mengejarnya.
Harga kebutuhan pokok terus naik. Biaya pendidikan semakin mahal. Sewa rumah dan cicilan membesar. Tarif layanan kesehatan meningkat. Bahkan kebutuhan sederhana seperti transportasi, listrik, hingga makan harian kini semakin menggerus ruang aman finansial rumah tangga.
Secara visual, ekonomi mungkin masih tampak bergerak normal. Pusat perbelanjaan tetap ramai. Kafe penuh. Arus konsumsi digital terus berjalan. Namun di balik wajah urban itu, banyak keluarga mulai melakukan penyesuaian diam-diam: menunda membeli rumah, mengurangi rekreasi, membatasi pengeluaran anak, menahan belanja tersier, hingga hidup semakin dekat pada pola “gaji habis untuk bertahan”.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup. Ini adalah tanda tekanan struktural terhadap kelas menengah Indonesia.
Dalam berbagai kajian ekonomi-politik, kelas menengah selalu menjadi kelompok penting dalam menjaga stabilitas negara. Mereka bukan hanya konsumen pasar, tetapi penyangga sosial-ekonomi nasional: pembayar pajak terbesar, penggerak konsumsi domestik, pencipta usaha kecil-menengah, sekaligus penghubung utama antara negara dan masyarakat.
Karena itu, ketika kelas menengah mulai melemah, yang terancam bukan hanya daya beli, tetapi juga stabilitas sosial jangka panjang.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya kelompok “kelas menengah rentan”, yaitu masyarakat yang secara pendapatan masih berada di atas garis kemiskinan, tetapi sangat mudah turun kelas ketika terkena guncangan ekonomi.
Artinya, banyak keluarga terlihat aman secara statistik, tetapi sebenarnya hidup dalam situasi rapuh. Satu PHK, satu anggota keluarga sakit, atau satu krisis ekonomi kecil saja dapat langsung mengguncang stabilitas rumah tangga mereka.
Kondisi ini semakin terasa di tengah perubahan struktur ekonomi nasional.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang tetap berjalan, tetapi tidak seluruhnya menghasilkan rasa aman sosial. Banyak lapangan kerja baru tumbuh di sektor informal, pekerjaan kontrak, ekonomi fleksibel, dan platform digital yang menawarkan fleksibilitas, tetapi minim kepastian jangka panjang.
Generasi muda lulusan perguruan tinggi menghadapi realitas berbeda dibanding satu dekade lalu. Gelar akademik tidak lagi otomatis menjamin mobilitas sosial. Banyak anak muda bekerja lintas proyek, berpindah pekerjaan dalam waktu singkat, atau masuk ekosistem digital dengan pendapatan yang fluktuatif.
Secara makro, ekonomi terlihat tumbuh. Namun secara sosial, rasa aman justru menurun.
Di sinilah paradoks pembangunan modern mulai terlihat: pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan meningkatnya kualitas hidup.
Dalam kajian tentang kelas menengah Indonesia, Nancy K. Suhut menjelaskan bahwa kelas menengah memiliki posisi strategis sebagai penyangga pembangunan dan stabilitas sosial-politik. Namun kelompok ini juga sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi, inflasi, dan kebijakan negara.
Apa yang terjadi hari ini seolah membenarkan tesis tersebut.
Kelas menengah Indonesia mulai menghadapi situasi ketika biaya mempertahankan status sosial menjadi semakin mahal. Mereka bekerja lebih keras, tetapi ruang untuk naik kelas semakin sempit.
Persoalan ini bukan hanya ekonomi, melainkan menyentuh dimensi psikologis dan sosial yang lebih dalam.
Dulu, masyarakat percaya bahwa kerja keras dapat mengubah masa depan. Hari ini, banyak orang mulai merasa kerja keras hanya cukup untuk mencegah dirinya jatuh miskin.
Mobilitas sosial yang dahulu terasa terbuka, kini mulai terasa tersumbat.
Dalam perspektif politik ekonomi, situasi seperti ini sangat penting dibaca secara serius. Di banyak negara, melemahnya kelas menengah sering menjadi tanda munculnya keresahan sosial yang lebih luas atas ketidakpercayaan terhadap institusi, meningkatnya frustrasi publik, hingga lahirnya polarisasi sosial-politik.
Karena ketika masyarakat merasa masa depan semakin sulit dijangkau, optimisme kolektif perlahan ikut terkikis.
Fenomena itu mulai tampak dalam kehidupan sehari-hari terhadap kecemasan terhadap lapangan kerja, tekanan biaya pendidikan, harga perumahan yang tidak terjangkau, hingga meningkatnya rasa lelah sosial di ruang urban.
Ironisnya, di saat yang sama media sosial justru menampilkan ilusi kemapanan tanpa henti.
Gaya hidup modern terlihat semakin dekat dan mudah dijangkau. Orang tampak sukses di layar digital. Namun di dunia nyata, banyak yang sebenarnya hidup dari gaji ke gaji, terjebak cicilan, dan kehilangan tabungan darurat.
Inilah paradoks digital kelas menengah modern, terlihat mapan di ruang visual, tetapi rapuh secara finansial.
Karena itu, persoalan kelas menengah tidak bisa hanya dibaca lewat angka pertumbuhan ekonomi nasional. Ada dimensi sosial, psikologis, bahkan politik yang bergerak di dalamnya.
Jika kelas menengah terus mengalami tekanan, dampaknya tidak hanya pada penurunan konsumsi domestik. Negara juga berisiko kehilangan kelompok produktif yang selama ini menjadi fondasi stabilitas ekonomi nasional.
Maka tantangan pemerintah hari ini bukan semata menjaga angka pertumbuhan tetap tinggi, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar menciptakan rasa aman sosial.
Lapangan kerja formal yang kuat, upah layak, akses pendidikan terjangkau, transportasi publik yang efisien, perlindungan kesehatan, stabilitas harga kebutuhan pokok, dan kebijakan perumahan yang realistis jauh lebih penting bagi masyarakat dibanding sekadar statistik makro yang terlihat impresif di atas kertas.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya soal seberapa tinggi ekonomi tumbuh, tetapi apakah masyarakat benar-benar merasa hidupnya bergerak maju.
Dan bagi banyak kelas menengah Indonesia hari ini, pertanyaan itu mulai terasa semakin sulit dijawab. (By/Red)
Oleh: Yuwono Setyo Widagdo, S.Sos., MH.
Jakarta
Terima Sertifikat IBDP SMA KTB, Kapolri: Cetak Generasi Muda untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

Jakarta— Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menerima sertifikat International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP) untuk SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) di Gedung Utama Mabes Polri, Jakarta Selatan.
Sertifikat itu diserahkan langsung oleh Umeet Shah selaku Chief Finance Officer of International Baccalaureate Organization (IBO). Dalam kesempatan yang sama, dikukuhkan pula Pengurus Eksekutif Lembaga Perguruan Kemala Taruna Bhayangkara (LP-KTB).
“Alhamdulillah hari ini kita telah meresmikan kegiatan pengukuhan pengurus eksekutif Lembaga Perguruan Kemala Taruna Bhayangkara, sekaligus kita mendapatkan penyerahan sertifikat IBDP dari International Baccalaureate Organization untuk SMA KTB,” kata Sigit dalam jumpa pers, Kamis (11/6/2026).
Menurut Sigit, untuk mendapatkan sertifikat IBDP tersebut, Polri yang bersinergi dengan seluruh pihak telah menjalani proses yang begitu ketat. Sebab itu, Sigit mengapresiasi tim yang telah bekerja keras untuk meraih sertifikat tersebut.
“Tentunya saya berterima kasih atas kerja keras tim, dan saya juga berterima kasih kepada yang terhormat Bapak Umeet Shah yang telah mendukung penuh dan memberikan sertifikat IBDP, dimana prosesnya betul-betul dilaksanakan dengan ketat,” ujar Sigit.
Dengan adanya sertifikat tersebut, Sigit menegaskan, Polri bakal terus mendukung dan melaksanakan program Presiden Prabowo Subianto terkait membentuk sekolah unggulan, bagi seluruh generasi muda Indonesia.
“Yang kemudian kita persiapkan untuk menjadi generasi-generasi muda unggulan yang siap untuk kita berikan pilihan, apakah mereka nanti masuk ke sekolah-sekolah kedinasan yang ada di Indonesia maupun masuk ke sekolah-sekolah unggulan, universitas-universitas unggulan yang ada di internasional,” ucap Sigit.
Sigit pun berharap, SMA KTB bisa menjadi salah satu sekolah unggulan. “Dan tentunya target dan harapan kita kita bisa masuk sekolah unggulan internasional sepuluh besar ya, harapan kita seperti itu,” ucap Sigit.
Lebih dalam, Sigit menekankan, SMA KTB bisa menjadi sarana pendidikan yang mampu mencetak generasi pemimpin masa depan yang unggul demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Dan mudah-mudahan seluruh kerja keras yang dilakukan, baik mulai dari rekrutmen sampai dengan proses pendidikan yang sekarang sudah berlangsung, saat ini sudah berjalan dua gelombang, kita harapkan betul-betul bisa mencetak generasi muda, generasi muda
calon-calon pemimpin di masa yang akan datang untuk mewujudkan visi Indonesia
Emas 2045,” tutup Sigit. (By/Red)
Jakarta
Desk Ketenagakerjaan Polri Berhasil Mediasi Sengketa PT Kerta Gaya Pusaka, 131 Pekerja Terima Hak Senilai Rp10 Miliar

Jakarta— Desk Ketenagakerjaan Polri berhasil melaksanakan mediasi penyelesaian sengketa ketenagakerjaan antara manajemen PT Kerta Gaya Pusaka dan 131 pekerja.
Permasalahan tersebut bermula dari pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami para pekerja sejak tahun 2021. Hingga saat ini, para pekerja belum menerima kompensasi PHK maupun kekurangan upah yang menjadi hak mereka.
Melalui fasilitasi dan mediasi yang dilaksanakan pada Rabu (3/6/2026), yang dihadiri oleh Kepala Desk Ketenagakerjaan Polri Brigjen Pol. Mohammad Irhamni, Penasihat Kapolri Bidang Ketenagakerjaan Andi Gani Nena Wea, perwakilan pekerja, serta manajemen PT Kerta Gaya Pusaka, para pihak akhirnya mencapai kesepakatan.
Dalam hasil mediasi tersebut, manajemen PT Kerta Gaya Pusaka menyatakan kesediaannya untuk membayarkan kompensasi PHK dan kekurangan upah kepada 131 pekerja dengan total nilai mencapai Rp10 miliar.
Kepala Desk Ketenagakerjaan Polri Brigjen Pol. Mohammad Irhamni mengatakan keberhasilan penyelesaian kasus ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan perlindungan kepada pekerja sekaligus menjaga keberlangsungan hubungan industrial yang harmonis.
“Desk Ketenagakerjaan Polri hadir untuk memastikan setiap permasalahan ketenagakerjaan dapat diselesaikan secara adil, profesional, dan mengedepankan dialog. Penyelesaian kasus PT Kerta Gaya Pusaka ini menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif dan restorative justice mampu memberikan kepastian hukum sekaligus memenuhi hak-hak pekerja yang selama ini tertunda,” ujar Brigjen Pol. Mohammad Irhamni kepada Wartawan di Jakarta.
Ia menegaskan bahwa Polri akan terus mendukung terciptanya iklim ketenagakerjaan yang kondusif melalui upaya mediasi, perlindungan hukum, serta pengawasan terhadap pelaksanaan hak dan kewajiban para pihak dalam hubungan industrial.
Keberhasilan penyelesaian sengketa ini menjadi bagian dari komitmen Polri dalam mewujudkan perlindungan ketenagakerjaan bagi seluruh masyarakat, dengan mengedepankan penegakan hukum yang berorientasi pada penyelesaian masalah, keadilan restoratif, serta terciptanya hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan di Indonesia. (By/Red)
Jakarta
Dugaan Korupsi BGN Diusut, Pernyataan Presiden Mahasiswa UGM Mengenai MBG Dinilai Relevan

Jakarta— Praktisi hukum Ramadhan Reubun SH, menilai bahwa pernyataan Presiden Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) terkait potensi permasalahan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan publik setelah munculnya pengusutan dugaan korupsi di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurut Ramadhan Reubun, kritik yang sebelumnya disampaikan oleh Presiden Mahasiswa UGM merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial yang perlu diapresiasi dalam sistem demokrasi. Ia menilai bahwa berbagai masukan dari kalangan akademisi dan mahasiswa seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menjalankan program-program strategis nasional.
“Ketika ada dugaan penyimpangan yang sedang diusut oleh aparat penegak hukum, maka kritik dan peringatan yang pernah disampaikan oleh mahasiswa menjadi relevan untuk dikaji kembali. Ini menunjukkan pentingnya pengawasan publik terhadap penggunaan anggaran negara,” ujar Ramadhan Reubun.
Ia menegaskan bahwa proses hukum harus berjalan secara profesional, transparan, dan berdasarkan alat bukti yang kuat. Semua pihak, lanjutnya, harus menghormati asas praduga tak bersalah hingga adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Ramadhan juga berharap pengusutan dugaan korupsi di BGN dapat menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola Program MBG agar tujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat tetap tercapai tanpa adanya penyimpangan anggaran.
“Yang terpenting saat ini adalah memastikan proses hukum berjalan secara objektif dan program yang menyangkut kepentingan masyarakat luas tetap terlaksana dengan baik, transparan, dan akuntabel,” katanya.
Pengusutan dugaan korupsi di BGN sendiri telah menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi, aktivis mahasiswa, dan masyarakat sipil yang selama ini menaruh perhatian terhadap efektivitas serta akuntabilitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Ramadhan Reubun mendorong agar hasil penyelidikan dibuka secara transparan demi menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara dan program-program pelayanan masyarakat, selanjutnya Ia meminta kepada Kejaksaan Agung dan Presiden RI (Bapak Prabowo Subianto) untuk melakukan investigasi secara menyeluruh ke internal BGN agar dugaan Korupsi dibersihkan secara menyeluruh. (By/Red)
Jawa Timur2 minggu agoKemana Anggaran Program Gizi? Penerima Manfaat SPPG Bendosari 1 Hanya Dapat Dua Buah dan Puding
Nasional1 minggu agoKisruh TORA Ngepoh Memanas, Ketua Pokmas Mergo Mulyo Laporkan Dugaan Fitnah ke Polda Jatim
Nasional5 hari ago9.000 Jamaah Padati GWD Banyuwangi, Dzikir Jama’i Nasional Persyadha Sambut Tahun Baru Islam 1448 H
Nasional4 jam agoHarga Telur Jebol di Bawah Rp20 Ribu, Peternak Blitar di Ambang Gulung Tikar
Nasional2 minggu agoPasca OTT KPK, Ratusan Massa GEMPAR Tuntut Bersih-Bersih Birokrasi di Tulungagung
Jawa Timur1 minggu agoPolemik MBG dan Koperasi Merah Putih di Blitar, Ketua LASKAR : Program Nasional Dibenahi, Bukan Ditolak
Nasional2 minggu agoDesak Kapolri Copot Dirkrimsus Polda Maluku, Aktivis Soroti Mandeknya Dugaan Kasus Gratifikasi di MBD
Nasional1 minggu agoLima Perusahaan Perkebunan Dilaporkan, Akankah Pemkab Tulungagung Berani Membuka Fakta ?











