Connect with us

Nasional

Prajurit Pasmar 3 Sumbang Medali Pada Kasuari Trail Run TWA Sorong 2024

Published

on

 

Kota Sorong PBD, 90detik.com – Prajurit Pasmar 3 berhasil meraih medali perunggu pada kejuaraan Kasuari Trail Run tahun 2024 bertempat di Taman Wisata Alam (TWA) Sorong, Km.14, Kota Sorong, Papua Barat Daya. Minggu (22/09/24).

Atlet lari Pasmar 3 atas nama Prada Mar Hermawan asal satuan Batalyon Perbekalan dan Peralatan (Yon Bekpal) 3 Marinir berhasil meraih juara 3 pada kategori 10 km. Sedangkan juara 1 diraih oleh Kls Briyan dari Satkopaska Koarmada III dan juara 2 Pratu Samsudin asal Yonzipur 20/PPA Sorong.

Lari Trail yang dilepas oleh Kadispora Provinsi Papua Barat Daya Yusti Lamatengo, S.I.P., M.S.I., dengan tema KASUARI “Kami Siap Untuk Jaga Alam Lestari” ini mengajak seluruh komunitas runners baik dari umum, pelajar hingga TNI-Polri yang berada di wilayah Kota Sorong untuk berolahraga sembari menikmati flora dan fauna serta melestarikan keindahan alam yang dimiliki Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Papua Barat Daya.

Di tempat terpisah Komandan Pasmar 3 Brigjen TNI (Mar) Sugianto, S.Sos., M.M., M.Tr.Opsla., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat serta rasa bangga atas keberhasilan prajurit Pasmar 3 yang telah menorehkan prestasi di ajang Kasuari Trail Run tahun 2024.

“Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi prajurit muda lainnya untuk lebih giat dalam berlatih meraih prestasi yang lebih baik di event-event mendatang,” ujarnya.

(Tim/Red)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawa Timur

Presiden Prabowo Dijadwalkan Resmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk

Published

on

Nganjuk— Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dipastikan akan menghadiri peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026).

Kepastian kehadiran Presiden disampaikan langsung oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Andi Gani Nena Wea, kepada wartawan pada Jumat (15/5/2026). Ia menyebut pihaknya telah menerima konfirmasi resmi terkait kehadiran Presiden sejak dua hari lalu.

“Sudah, sudah confirm Presiden Prabowo hadir meresmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah,” ujar Andi Gani.

Berdasarkan agenda yang telah disiapkan, Presiden Prabowo dijadwalkan tiba di lokasi sekitar pukul 08.45 WIB dan acara peresmian akan dimulai pukul 09.00 WIB. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, hanya akan ada dua sambutan utama, yakni dari Andi Gani dan Presiden Prabowo.

Usai memberikan sambutan, Presiden akan melakukan prosesi peresmian dengan menekan tombol simbolis sebagai tanda dibukanya Museum dan Rumah Singgah Marsinah. Setelah itu, Andi Gani akan mendampingi Presiden meninjau langsung area museum.

“Setelah tekan tombol, saya akan ajak beliau langsung meninjau museum,” kata Andi Gani.

Museum tersebut dibangun untuk merekam perjalanan hidup serta perjuangan Marsinah sebagai simbol perjuangan buruh di Indonesia, mulai dari masa kecil hingga akhir hayatnya. Sementara di bagian belakang museum disiapkan rumah singgah yang diperuntukkan bagi para peziarah yang datang dari luar daerah.

“Ada rumah singgah di belakang yang kami siapkan untuk para peziarah yang tidak mendapat penginapan dan ini gratis. Maksimal hanya satu malam,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa museum nantinya akan dibuka untuk masyarakat umum tujuh hari setelah peresmian, dengan jam operasional mulai pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB. Pengelolaan museum akan berada di bawah Yayasan KSPSI yang saat ini tengah menyiapkan struktur kepengurusan resmi.

Dalam acara peresmian tersebut, diperkirakan sekitar 7.000 buruh dari sejumlah wilayah di Jawa Timur akan hadir, mulai dari Surabaya, Mojokerto, Jombang, hingga Nganjuk. Selain itu, sejumlah tokoh buruh internasional juga dijadwalkan menghadiri kegiatan, termasuk Sekretaris Jenderal ITUC-Asia Pacific, Shoya Yoshida.

Andi Gani menilai peresmian museum oleh Presiden menjadi momen penting dalam sejarah perjuangan buruh nasional. Menurutnya, kehadiran Presiden secara langsung di Nganjuk menunjukkan penghormatan negara terhadap perjuangan Marsinah yang kini telah dianugerahi gelar pahlawan nasional.

“Tentu kita harus bersyukur, simbol sejarah perjuangan buruh, Ibu Marsinah, mendapatkan gelar terhormat pahlawan nasional,” tuturnya.

Selain agenda peresmian museum, Andi Gani mengaku berencana mengajak Presiden Prabowo untuk berziarah ke makam Marsinah yang berada tidak jauh dari lokasi museum. Ia juga berharap Presiden dapat melihat langsung produk UMKM binaan aktivis buruh yang telah menembus pasar ekspor.

“Saya rencananya akan mengajak beliau ziarah ke makam Ibu Marsinah dan melihat UMKM binaan aktivis buruh yang produknya sudah diekspor ke beberapa negara,” katanya. (DON/Red)

Continue Reading

Jawa Timur

Panen Raya di Tuban, Presiden Prabowo Apresiasi Peran Polri Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

Published

on

TUBAN— Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto memberikan apresiasi tinggi kepada Polri saat menghadiri kegiatan Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II, Groundbreaking Gudang Pangan, serta Launching SPPG Polri Tahun 2026 di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Presiden secara khusus menyoroti kontribusi Polri dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, peran Polri di lapangan menunjukkan hasil nyata yang patut diapresiasi.

“Saya melihat peran Polri luar biasa. Karena leadership, kepemimpinan kalau bagus, harus kita akui bagus,” kata Prabowo.

Ia menilai keberhasilan organisasi tidak lepas dari kualitas kepemimpinan yang ada di dalamnya.

Bahkan, Presiden menyebut berbagai capaian Polri dalam sektor pangan menjadi bukti nyata kerja dan inovasi institusi tersebut.

Presiden juga mengaku terkesan dengan berbagai inovasi yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari pemanfaatan limbah tongkol jagung menjadi briket energi alternatif hingga pengembangan pupuk dari bahan batubara berkualitas rendah.

“Menurut saya inovasi-inovasi semacam itu menjadi jawaban di tengah tantangan krisis energi dan kebutuhan peningkatan produktivitas pertanian nasional,” ujar Prabowo.

Prabowo juga menyinggung bahwa Polri selama ini kerap menerima kritik dari masyarakat. Namun ia menilai jawaban terbaik terhadap kritik tersebut adalah pembuktian melalui kerja nyata.

“Kalian sering dicaci maki, sedikit-sedikit reformasi. Sekarang bisa membuktikan,”ungkap Prabowo.

Menutup sambutannya, Presiden menyampaikan apresiasi terhadap berbagai langkah strategis yang dilakukan Polri, termasuk pembangunan gudang pangan dan peluncuran SPPG baru yang dinilai akan memberikan dampak besar bagi masyarakat.

“Kepolisian Indonesia, terima kasih. Prestasimu, groundbreaking 10 gudang tanaman pangan ditambah yang sudah dibangun, luar biasa. Launching operasional 166 SPPG baru juga sangat penting,” pungkas Prabowo. (DON/Red)

Continue Reading

Nasional

Menjaga Nyala di Tengah Ujian: 12 Tahun Perjalanan Atika Maulida S.Ag.M.M Merawat Ruang Tumbuh bagi Perempuan

Published

on

YOGYAKARTA — Di usia ketika banyak orang masih sibuk mencari arah hidup, Atika Maulida, S.Ag., M.M. justru memilih membangun ruang bagi orang lain untuk bertumbuh.

Keputusan itu diambil 12 tahun lalu, ketika ia masih seorang mahasiswi berusia 21 tahun di Yogyakarta. Dari diskusi-diskusi kecil, percakapan sederhana, dan keresahan tentang terbatasnya ruang pengembangan bagi perempuan muda, lahirlah sebuah gerakan komunitas yang kemudian dikenal sebagai Hijabie Community.

Apa yang dimulai dari semangat idealisme anak muda itu ternyata berkembang menjadi perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Atika tidak hanya menghadapi tantangan khas organisasi komunitas, seperti keterbatasan sumber daya, dinamika internal, hingga perubahan komitmen anggota, tetapi juga ujian personal yang mengubah hidupnya secara mendasar.

Namun justru dari titik-titik itulah kisah kepemimpinannya menemukan makna.
“Jogja mengajarkan saya tentang kesabaran, tapi organisasi mengajarkan saya tentang ketangguhan. Ada masa ketika saya merasa struktur yang kami bangun sedang goyah. Banyak hal terasa berat. Tapi saya selalu bertanya pada diri sendiri: kalau saya berhenti, bagaimana dengan mereka yang sudah mulai berani bermimpi karena komunitas ini?” ujar Atika (15/5/2026).

Bagi banyak organisasi komunitas, bertahan lebih dari satu dekade adalah pencapaian tersendiri. Tidak sedikit gerakan sosial yang lahir dengan semangat besar, tetapi berhenti ketika berhadapan dengan realitas operasional, dinamika kepemimpinan, atau menurunnya energi kolektif. Atika memahami fase-fase itu bukan sebagai teori, melainkan pengalaman nyata.

Membangun komunitas dari nol berarti memulai tanpa kemewahan sistem yang mapan. Tidak ada jaminan dukungan yang konsisten, tidak ada kepastian sumber daya, dan tidak selalu ada orang yang bertahan ketika masa sulit datang. Dalam ruang-ruang seperti itulah daya tahan seorang pemimpin diuji.

Namun ujian terbesar dalam perjalanan Atika tidak datang dari organisasi. Pada usia 28 tahun, ia menghadapi perubahan besar dalam kehidupan pribadinya ketika harus menjalani peran sebagai orang tua tunggal. Di saat tanggung jawab personal bertambah besar, komitmennya terhadap ruang pemberdayaan perempuan justru tidak berhenti.

Menjalani dua peran besar sekaligus, sebagai ibu dan pemimpin komunitas, bukan perjalanan yang ringan. Ada tuntutan emosional, tekanan waktu, dan kebutuhan untuk tetap hadir dalam dua dunia yang sama-sama membutuhkan keteguhan. Alih-alih menjadikan situasi itu sebagai alasan untuk mundur, Atika justru melihatnya sebagai fase redefinisi.

“Menjadi single parent di usia 28 tahun bukan akhir dari peran publik saya. Justru itu menjadi babak baru. Saya belajar bahwa kemandirian perempuan bukan slogan kosong. Kita bisa menjadi ibu yang penuh kasih, sekaligus tetap memiliki keberanian untuk memimpin,” katanya.

Pengalaman personal itu memperluas cara pandangnya tentang pemberdayaan perempuan. Bagi Atika, pemberdayaan bukan semata-mata tentang seminar, slogan, atau kampanye simbolik. Pemberdayaan adalah tentang kemampuan seseorang untuk tetap menjaga martabat, mengambil keputusan, dan melanjutkan langkah meski hidup sedang tidak berada dalam kondisi ideal. Dalam konteks itulah perjalanan Atika menjadi relevan lebih luas.

Di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat, tekanan ekonomi, dan tantangan kehidupan urban yang makin kompleks, banyak perempuan menghadapi tuntutan berlapis: menjaga keluarga, membangun karier, mengelola tekanan sosial, sekaligus tetap bertahan secara emosional.

Kisah seperti ini menjadi penting bukan karena menghadirkan figur yang sempurna, melainkan karena menunjukkan bahwa ketangguhan sering kali lahir dari proses yang tidak mudah.

Kini, di usia 33 tahun, Atika masih melanjutkan perjalanan yang ia mulai sejak bangku kuliah. Dua belas tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk menguji apakah sebuah idealisme benar-benar memiliki akar. Dalam rentang itu, banyak hal berubah, fase kehidupan, relasi personal, dinamika organisasi, bahkan cara masyarakat memandang gerakan komunitas. Namun satu hal yang tetap dijaga Atika adalah keyakinan bahwa perempuan membutuhkan ruang untuk tumbuh tanpa rasa takut untuk gagal.

Kepemimpinan seperti ini tidak selalu hadir dalam sorotan besar. Kadang ia justru hidup dalam kerja-kerja yang tenang, konsisten, dan berlangsung jauh dari panggung utama. Dan mungkin di situlah makna sebenarnya dari daya tahan.

Bahwa bertahan bukan soal terlihat paling kuat. Melainkan tentang tetap memilih melanjutkan langkah ketika hidup justru memberi banyak alasan untuk berhenti. (By/Red)

Continue Reading

Trending