Nasional
Guru Dipukul, Aktivis Desak Polisi Bertindak: “Jangan Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah!”

Trenggalek — Kasus dugaan pemukulan terhadap guru SMP Negeri 1 Trenggalek memicu gelombang kemarahan publik setelah diketahui bahwa pelaku penganiayaan diduga merupakan suami salah satu anggota DPRD Kabupaten Trenggalek.
Aktivis Pendidikan dan Pergerakan, Paijo Parikesit, mendesak Kepolisian Resor Trenggalek segera menetapkan tersangka tanpa pandang bulu. Insiden terjadi pada Jumat (31/10).
Korban, Eko Prayitno, guru sekaligus alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Malang, dianiaya saat menegakkan disiplin di kelas.
Ia menyita ponsel salah satu siswa yang ketahuan menggunakan perangkat itu di tengah proses belajar.
Tindakan edukatif tersebut justru berujung petaka ketika keluarga siswa mendatangi sekolah dan melakukan penyerangan disertai ancaman pembakaran rumah serta fasilitas sekolah.
Akibat serangan itu, Eko mengalami luka fisik dan trauma mendalam.
Dalam pernyataannya, Paijo Parikesit menilai insiden ini sebagai bentuk penghinaan terhadap profesi pendidik dan integritas moral bangsa.
“Kami tidak bisa menerima tindakan biadab terhadap seorang guru yang hanya menjalankan tugasnya. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi pelecehan terhadap profesi guru. Kalau polisi Trenggalek tidak segera menetapkan tersangka, kami akan gelar aksi besar di beberapa titik Polres se-Indonesia,” tegasnya dalam keterangan tertulis, Selasa(4/11).
Dia menuntut Kapolres Trenggalek bertindak profesional tanpa intervensi politik.
“Jangan ada kesan hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Kasus ini harus menjadi bukti bahwa keadilan masih hidup di Trenggalek,” tambahnya.
Selain mendesak penegakan hukum, Paijo juga menyoroti lemahnya perlindungan bagi tenaga pendidik.
“Guru bukan musuh masyarakat. Mereka garda depan moral bangsa. Kekerasan terhadap guru berarti kekerasan terhadap masa depan anak-anak kita,” ujarnya.

Paijo Parikesit, Aktivis Pendidikan dan Pergerakan. Foto: (dok/DON).
Dukungan terhadap korban juga datang dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Trenggalek.
Organisasi ini mengecam keras tindakan pelaku dan menegaskan bahwa penyitaan ponsel merupakan bagian dari kebijakan disiplin sekolah. Ketua PGRI Trenggalek, Drs. Catur Winarno, MM pun ikut angkat bicara.
“Kami berdiri di belakang guru Eko. Ia bertindak profesional sesuai aturan sekolah. Kami menuntut pelaku segera ditangkap dan diproses hukum,” tegas Ketua PGRI Trenggalek.
Sementara itu, Kapolres Trenggalek – Kepala Kepolisian Resor Trenggalek AKBP Ridwan Maliki, S.H., S.I.K., M.I.K., membenarkan bahwa laporan telah diterima dan penyelidikan sedang berjalan.
“Beberapa saksi sudah diperiksa dan barang bukti dikumpulkan. Kami akan menindaklanjuti kasus ini sesuai prosedur hukum,” ujarnya singkat.
Namun, hingga empat hari pascakejadian, belum ada penetapan tersangka. Kondisi ini memicu kritik tajam dari kalangan aktivis dan akademisi.
Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Malang, Dr. Suyanto, menilai peristiwa ini memperlihatkan lemahnya sistem perlindungan hukum bagi guru di Indonesia.
“Negara harus hadir memastikan rasa aman bagi pendidik. Apalagi jika pelaku memiliki kekuasaan politik, penegakan hukum tidak boleh gentar,” tegasnya.
Paijo menegaskan pihaknya bersama jaringan pendidikan dan alumni PMII akan terus mengawal kasus ini sampai ke meja hukum.
“Empat hari berlalu tanpa penetapan tersangka adalah bentuk kelalaian aparat. Kasus ini harus diusut tuntas, dan pelaku wajib meminta maaf secara terbuka agar tidak ada lagi kekerasan terhadap guru di masa depan,” tutupnya dengan nada tegas.
Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap guru di Indonesia. Publik menanti langkah tegas Polres Trenggalek untuk membuktikan bahwa hukum tidak boleh tunduk pada kekuasaan. (DON/Red)
Nasional
“Nyepi Tenang” 2026: Perlawanan Sunyi di Tengah Dunia yang Bising

Bali— Pemerintah telah menetapkan jadwal Hari Raya Nyepi 2026 dalam kalender nasional. Masyarakat yang menantikan momen libur ini pun bisa mulai bersiap, mengingat perayaannya jatuh pada pertengahan Maret dan berdekatan dengan Hari Raya Idul fitri.
Berdasarkan kalender nasional, Hari Raya Nyepi 2026 diperingati pada Kamis, 19 Maret 2026. Pemerintah juga menetapkan Rabu, 18 Maret 2026 sebagai cuti bersama, sehingga masyarakat berkesempatan menikmati libur yang lebih panjang.
Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini kembali menghadirkan suasana hening total di Pulau Dewata. Momentum ini tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga refleksi mendalam melalui konsep “Nyepi Tenang”, ketenangan lahir dan batin untuk menemukan kembali jati diri.
Selama 24 jam, seluruh aktivitas di Bali dihentikan. Jalanan kosong, lampu dipadamkan, serta bandara dan pelabuhan tidak beroperasi. Dalam keheningan itu, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama: Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan.
Seorang perwakilan masyarakat Bali pada rabu 18/3/2026, I Nyoman Kenak, menyampaikan bahwa Nyepi sejatinya adalah ruang untuk menata ulang kehidupan.
“Nyepi bukan sekadar tidak beraktivitas. Ini adalah momentum untuk menenangkan pikiran dan membersihkan batin. Di situlah manusia bisa kembali jujur pada dirinya sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsep “Nyepi Tenang” menjadi esensi penting di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan bising.
“Ketika dunia semakin ramai, manusia justru membutuhkan ruang sunyi. Nyepi mengajarkan kita bahwa ketenangan adalah kekuatan untuk menjaga keseimbangan hidup,” tambahnya.
Dalam refleksi yang lebih dalam, nilai PINAN juga dapat dimaknai dalam Nyepi:
* P: Perenungan
* I: Introspeksi
* N: Niat baru
* A: Arah hidup
* N: Nurani
Melalui ketenangan, manusia diajak kembali pada nurani untuk mengevaluasi perjalanan hidup dan menentukan arah ke depan dengan lebih jernih.
Makna ini selaras dengan filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Nyepi menjadi ruang untuk memperbaiki ketiganya secara seimbang.
Sementara itu, seorang umat Hindu di Desa Adat Ubud, I Wayan Sutama, menilai Nyepi juga memiliki relevansi kuat dalam konteks kebangsaan, terutama karena berdekatan dengan Ramadan dan Idul Fitri.
“Nilai Nyepi itu universal, tentang menahan diri, tentang damai. Ini sejalan dengan semangat toleransi di Indonesia. Kita berbeda, tapi punya nilai yang sama: menjaga keseimbangan dan kedamaian,” katanya.
Dalam perspektif yang lebih luas, pengamat sosial dan budaya geopolitik Nusantara, Bayu Sasongko, melihat Nyepi sebagai praktik kearifan lokal yang memiliki makna strategis bagi Indonesia.
“Nyepi bukan hanya ritual keagamaan, tetapi bagian dari budaya geopolitik Nusantara. Ketika Bali berhenti total, itu menunjukkan kemampuan sebuah peradaban untuk mengendalikan diri, menjaga harmoni dengan alam, dan menempatkan manusia tidak sebagai pusat, tetapi bagian dari semesta,” ujarnya.
Menurutnya, nilai ini relevan dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan yang rentan terhadap krisis sosial, ekonomi, hingga lingkungan.
“Di tengah dunia yang kompetitif dan eksploitatif, Nyepi justru menawarkan model peradaban: berhenti sejenak untuk menjaga keseimbangan. Ini yang seharusnya menjadi kekuatan geopolitik Indonesia, budaya yang mampu mengendalikan diri, bukan hanya mengejar pertumbuhan,” tambahnya.
Rangkaian Nyepi diawali dengan Melasti, dilanjutkan Tawur Agung Kesanga, dan ditutup dengan Ngembak Geni sebagai simbol memulai kembali kehidupan dengan hati yang bersih.
Bagi wisatawan, Nyepi menjadi pengalaman unik, merasakan Bali dalam keheningan total. Namun bagi umat Hindu, lebih dari itu, Nyepi adalah perjalanan batin.
Pada akhirnya, “Nyepi Tenang” bukan hanya tentang sunyinya Bali, tetapi tentang keberanian manusia untuk diam, mendengar nurani, dan menemukan arah hidup yang lebih bermakna, sekaligus menjadi cermin bagaimana kearifan lokal Nusantara dapat memberi arah bagi dunia. (By/Red)
Jawa Timur
Haul Yai Tasir Mayong Digelar Tiap 3 Syawal, Merawat Sejarah dan Ikatan Keturunan di Lamongan

Lamongan — Suasana asri menyelimuti Dusun Mayong, Desa Sidomlangean, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan. Di kawasan yang masih kental dengan nuansa alam ini, tercatat sebagai tempat berkembangnya keturunan Yai Tasir yang hingga kini terus menjaga tradisi dan nilai-nilai leluhur.
Salah satu bentuk pelestarian tersebut adalah penyelenggaraan Haul Yai Tasir Mayong yang rutin digelar setiap tahun. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang doa bersama, tetapi juga sarana mempererat hubungan kekerabatan antar keturunan.
Salah satu cucu Yai Tasir, Mbah Guru Ridlwan, saat ditemui awak media 90detik.com, mengisahkan perjalanan hidup sang leluhur. Ia menjelaskan bahwa pada masa awal, wilayah tersebut masih berupa hutan belantara tanpa nama.
“Dulu daerah ini masih hutan. Yai Tasir hidup berpetualang di sini. Beliau kemudian ditolong oleh sepasang suami istri yang mengajak membuka lahan agar bisa bertahan hidup,” ungkapnya.
Dari kebersamaan itulah, mereka mulai membangun kehidupan sederhana dengan rumah bambu dan menggarap hutan. Seiring waktu, kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Dusun Mayong.
Lebih lanjut, Mbah Guru Ridlwan juga menyampaikan bahwa Yai Tasir dikenal sebagai sosok pejuang. Ia disebut pernah menjadi bagian dari pasukan Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan penjajah.
“Semangat perjuangan itu menjadi teladan bagi anak cucunya. Selain itu, ilmu agama yang beliau bawa terus memberi berkah dan manfaat hingga sekarang,” tambahnya.
Perjuangan Yai Tasir kemudian dilanjutkan oleh putra pertamanya, Mbah Yai Radin atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Yai Ishaq. Ia dikenal sebagai seorang modin yang berperan dalam mendirikan dan merawat langgar (musala) di wilayah tersebut.
Sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga silaturahmi antar keturunan, Haul Yai Tasir Mayong terus dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 3 Syawal.
“Tujuannya untuk merawat kekeluargaan dan mengenang jasa para leluhur,” tegas Mbah Guru Ridlwan.
Tahun ini, haul akan diselenggarakan pada Senin, 23 Maret 2026, bertempat di Pesantren Krapak Mayong, Desa Sidomlangean, Kecamatan Kedungpring, Lamongan.
Kegiatan haul akan diisi dengan berbagai rangkaian ibadah, seperti khotmil Al-Qur’an, pembacaan Yasin dan tahlil, doa bersama, serta ceramah agama.
Tradisi ini diharapkan terus menjadi pengikat spiritual dan sosial bagi generasi penerus, sekaligus menjaga warisan sejarah dan nilai-nilai perjuangan Yai Tasir Mayong. (DON/Red)
Jawa Timur
Gerak Cepat BPBD Blitar Longsor di Wlingi Lakukan Evakuasi Korban Kaji Cepat

BLITAR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar bergerak cepat menangani tanah longsor yang menerjang Dusun Genjong, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, pada Minggu (15/3) sore.
Pasca evakuasi korban, langkah antisipasi langsung dilakukan dengan pemasangan terpal di area tebing yang longsor.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, menyatakan pihaknya langsung menerjunkan tim ke lokasi begitu menerima laporan kejadian.
Langkah awal yang dilakukan adalah assessment atau kaji cepat dampak bencana sekaligus penanganan darurat di titik kejadian.
“Tim BPBD Kabupaten Blitar langsung melaksanakan assessment serta penanganan di lokasi. Sebagai langkah antisipasi awal, kami melakukan pemasangan terpal pada area tebing yang longsor guna meminimalisir dampak jika terjadi hujan susulan,” ujarnya melalui keterangan resminya pada Selasa (17/03).
Longsor terjadi sekitar pukul 15.30 WIB setelah hujan lebat mengguyur kawasan tersebut sejak pukul 14.00 WIB. Dapur rumah milik Bapak Jino yang berada di atas tebing ambrol, dan materialnya menimpa Suyoto (57) yang sedang ngarit (mencari rumput/red) di bawah tebing.
Korban berhasil dievakuasi dalam keadaan tertimbun pada pukul 16.00 WIB berkat pencarian warga dan tim di lokasi. Akibat kejadian ini, dapur rumah Jino rusak dan lima jiwa penghuni rumah, termasuk satu anak usia 4 tahun, terdampak langsung.
Selain pemasangan terpal, BPBD Kabupaten Blitar juga berkoordinasi dengan perangkat Desa Ngadirenggo, Babinsa, serta warga setempat untuk penanganan lebih lanjut. Hingga malam hari, cuaca di lokasi terpantau masih hujan ringan.
Masyarakat di sekitar lokasi kejadian diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, mengingat intensitas hujan yang masih berpotensi turun. Tim gabungan akan terus melakukan pemantauan di lokasi kejadian. (JK/Red)
Redaksi3 minggu agoProgram MBG di Tulungagung Tercoreng: Gagal Jaga Mutu, Roti Berjamur Dibagikan ke Siswa SDN 4 Kampungdalem
Redaksi2 minggu agoMenu MBG Tuai Sorotan, Belimbing Bonyok dan Tempe Gosong Disajikan untuk Anak Sekolah
Redaksi2 minggu agoOknum TNI Bobol Minimarket di Tulungagung, Dandim 0807 Sampaikan Permohonan Maaf Terbuka
Redaksi1 minggu agoPSHT Gelar Santunan 50 Anak Yatim di Desa Plosokandang Tulungagung, Disertai Buka Puasa Bersama
Redaksi2 minggu agoIroni MBG di Tulungagung: Anak PAUD Disuguhi Buah Busuk Berbelatung
Redaksi3 minggu agoSkandal Roti Berjamur di Program Makan Bergizi Gratis, Sultan Resto Diduga Terlibat
Redaksi2 minggu agoRibuan Takjil Dibagikan Komunitas King Bleyer Tulungagung di Cupit Urang Srikaton, Warga Antusias Menyerbu
Redaksi2 minggu agoMBG Tulungagung Kembali Disorot! Menu ‘Seupil Ayam dan Jeruk Asam’ di SDN 1 Tertek Viral, Wali Murid: Begini Kok Tidak Mau Disebut Korupsi?











