Nasional
Ratusan Kyai di Tulungagung Dukung Kemenangan Prabowo – Gibran Menang 1 Putaran

Tulungagung, 90detik.com- Ratusan kyai se- Tulungagung mendeklarasikan dukungan mereka untuk kemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka, Jumat(9/2).
Deklarasi ini dilangsungkan di Pesantren Nurul Ulum, Desa Bendiljati Kulon, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.
Kyai Imam Hambali, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum, menyatakan bahwa tujuan dari deklarasi ini adalah untuk memberikan dukungan pada Prabowo – Gibran sebagai pemimpin yang diharapkan dapat memberikan kebaikan dan kemajuan bagi masyarakat Indonesia.
“Pasangan ini memiliki visi dan misi yang sejalan dengan nilai-nilai keagamaan dan keadilan sosial”, jelasnya.
Selain itu, Gus Thoha Maksum, Pengasuh Pondok Pampang, juga berpendapat bahwa Prabowo – Gibran akan mampu memenangkan pemilu dalam satu putaran.
Menurutnya, pasangan ini memiliki popularitas yang cukup tinggi di Tulungagung dan masyarakat sangat antusias untuk mendukung mereka.
Dalam sambutannya, para kyai juga menyampaikan harapan agar pasangan ini dapat mengatasi berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakat, seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial.
“Kami berharap bahwa Prabowo – Gibran akan mampu menjalankan kepemimpinan yang adil, bijaksana, dan mengutamakan kepentingan rakyat”, ujarnya, Sabtu(10/2).
Deklarasi ini menunjukkan kesatuan dan kekompakan kyai se Tulungagung dalam mendukung pasangan Prabowo – Gibran.
“Kami berkomitmen untuk berjuang bersama demi kemenangan pasangan ini dan berharap agar Indonesia bisa lebih sejahtera di masa mendatang”, harapnya. (Red)
Jawa Timur
“Satu Juta Outlet Bebek Purnama” Sebuah Legenda Kuliner yang Tumbuh Lewat Kepercayaan

Pasuruan— Di Jawa Timur, ada satu candaan yang hampir dipahami semua pecinta kuliner: Bebek Purnama punya satu juta outlet.
Tentu saja jumlah tersebut bukan angka sebenarnya. Istilah “Satu Juta Outlet” hanyalah hiperbola yang lahir dari kekaguman masyarakat terhadap begitu banyaknya warung bebek goreng yang menggunakan nama Purnama dan tersebar di hampir setiap sudut kota, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Mojokerto, hingga Malang.
Fenomena ini menjadi unik karena di tengah menjamurnya warung dengan nama serupa, masyarakat justru kerap menemukan berbagai tulisan yang membingungkan sekaligus mengundang senyum. Ada yang memasang spanduk “Cabang Purnama”, ada yang menulis “Purnama Asli”, bahkan tidak sedikit yang mencantumkan kalimat “Tidak Buka Cabang”.
Dari situlah muncul pertanyaan yang terus hidup di tengah masyarakat: sebenarnya yang asli yang mana?
Namun di balik pertanyaan tersebut, tersimpan sebuah kisah panjang mengenai sejarah kuliner rakyat, jaringan perantau, serta budaya berbagi yang menjadikan Bebek Purnama lebih dari sekadar warung makan.
Berawal dari Sebuah Nama di Kawasan Dinoyo.
Menurut cerita yang berkembang di kalangan pelaku usaha kuliner Surabaya, nama Purnama berasal dari kawasan sekitar Bioskop Purnama yang dahulu berdiri di wilayah Dinoyo, Surabaya.
Di kawasan itulah para pelopor usaha bebek goreng mulai dikenal masyarakat sekitar pada era 1990-an. Nama lokasi tersebut kemudian melekat pada usaha kuliner yang mereka jalankan hingga akhirnya berkembang menjadi identitas yang dikenal luas oleh masyarakat Jawa Timur.
Seiring waktu, nama Purnama tidak lagi sekadar menunjukkan lokasi asal berjualan. Nama tersebut berubah menjadi simbol kuliner yang identik dengan bebek goreng berbumbu kuat, sambal pedas, dan taburan serundeng kelapa yang melimpah.
Bagi sebagian warga Surabaya, Bebek Purnama bahkan menjadi bagian dari memori kolektif kota. Ia hadir bukan hanya sebagai tempat makan, melainkan juga sebagai bagian dari cerita malam, tongkrongan keluarga, hingga perjalanan kuliner lintas generasi.
Tumbuh Tanpa Sistem Waralaba.
Berbeda dengan banyak merek kuliner modern yang berkembang melalui sistem franchise, Bebek Purnama justru tumbuh melalui pola yang jauh lebih sederhana.
Banyak penjual memperoleh keterampilan memasak dari keluarga, kerabat, teman, atau sesama perantau Madura yang telah lebih dahulu menjalankan usaha serupa. Setelah menguasai resep dan teknik memasak, mereka kemudian membuka usaha sendiri dengan tetap membawa nama Purnama sebagai identitas dagang.
Pola inilah yang membuat penyebarannya berlangsung sangat cepat.
Tanpa kantor pusat, tanpa biaya lisensi, tanpa kontrak kemitraan yang rumit, jaringan warung Bebek Purnama terus berkembang mengikuti arus hubungan sosial masyarakat.
Dalam praktiknya, yang diwariskan bukan hanya resep, tetapi juga pengalaman usaha, jaringan pemasok, hingga cara bertahan menghadapi persaingan.
Budaya Berbagi yang Menjadi Kekuatan.
Salah satu faktor yang kerap disebut dalam berbagai cerita mengenai Bebek Purnama adalah sikap terbuka para pelopor usaha yang tidak terlalu ketat menjaga resep maupun teknik memasak.
Alih-alih merahasiakan ilmu dagang, banyak di antara mereka justru mengajarkan cara memasak kepada orang-orang yang ingin memulai usaha sendiri.
Dari satu warung lahir beberapa warung baru. Dari satu keluarga berkembang menjadi jaringan usaha yang lebih luas.
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana budaya berbagi pengetahuan dapat menciptakan efek ekonomi yang besar bagi masyarakat.
Di tengah dunia bisnis yang sering kali menempatkan rahasia dagang sebagai aset utama, Bebek Purnama berkembang dengan pendekatan yang berbeda: kepercayaan sosial.
Perkembangan Bebek Purnama juga tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat Madura yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dalam perkembangan kuliner Jawa Timur.
Tradisi merantau yang kuat membuat banyak keluarga Madura membangun usaha makanan di berbagai daerah. Dari sate, soto, nasi campur, hingga bebek goreng, jaringan usaha tersebut tumbuh melalui hubungan kekeluargaan dan solidaritas komunitas.
Dalam kasus Bebek Purnama, pola penyebarannya diyakini mengikuti jalur sosial yang serupa.
Melalui hubungan antarkerabat dan sesama perantau, resep serta keterampilan memasak diwariskan secara turun-temurun. Akibatnya, banyak warung memiliki karakter rasa yang mirip meskipun berdiri secara mandiri.
Lebih dari Sekadar Kuliner.
Pengamat budaya dan geopolitik Nusantara dan salah satu pelanggan, Bayu Sasongko, pada 31/5/2026 menilai fenomena Bebek Purnama merupakan contoh menarik bagaimana identitas budaya lokal dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi rakyat.
Menurutnya, sebelum konsep franchise modern dikenal luas, masyarakat Nusantara sebenarnya telah lama mengenal pola pengembangan usaha berbasis komunitas.
“Bebek Purnama menunjukkan bahwa masyarakat memiliki tradisi kewirausahaan yang dibangun melalui kepercayaan, jaringan sosial, dan semangat berbagi ilmu. Model seperti ini sudah hidup jauh sebelum sistem waralaba modern berkembang,” ujarnya.
Bayu menilai keberhasilan Bebek Purnama bertahan selama puluhan tahun membuktikan bahwa modal sosial sering kali lebih kuat daripada modal finansial.
“Ketika masyarakat saling percaya dan saling mendukung, sebuah usaha dapat berkembang secara organik tanpa harus memiliki struktur perusahaan besar. Dalam konteks ini, Bebek Purnama adalah contoh nyata ekonomi kerakyatan yang tumbuh dari bawah,” katanya.
Simbol Budaya Jawa Timur.
Menurut Bayu, pada titik tertentu nama Purnama telah melampaui fungsi awalnya sebagai identitas usaha.
Ia berubah menjadi simbol budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Ketika sebuah nama usaha mulai menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, menjadi bahan candaan, dan dikenal lintas generasi, maka nama itu telah memasuki wilayah budaya. Purnama bukan lagi sekadar warung makan, tetapi bagian dari identitas kuliner Jawa Timur,” ujarnya.
Fenomena banyaknya spanduk yang sama-sama mengklaim sebagai “asli” justru menunjukkan kuatnya pengaruh nama tersebut dalam imajinasi masyarakat.
Alih-alih memunculkan konflik identitas, kondisi tersebut berkembang menjadi humor kolektif yang diterima publik sebagai bagian dari cerita panjang Bebek Purnama.
Warisan Kuliner yang Terus Hidup.
Di tengah berkembangnya restoran modern, layanan pesan antar digital, dan perubahan gaya hidup masyarakat, Bebek Purnama tetap bertahan sebagai salah satu ikon kuliner Jawa Timur.
Warung-warungnya masih ramai dikunjungi pelanggan yang mencari cita rasa khas yang telah mereka kenal selama bertahun-tahun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan sebuah kuliner tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada cerita yang menyertainya.
Di balik sepiring bebek goreng terdapat kisah tentang perantauan, kerja keras, solidaritas komunitas, dan budaya berbagi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Barangkali karena itulah istilah “Satu Juta Outlet Bebek Purnama” terus hidup di tengah masyarakat.
Bukan karena jumlahnya benar-benar mencapai satu juta, melainkan karena pengaruhnya telah menyebar begitu luas hingga terasa hadir di hampir setiap sudut Jawa Timur.
Dan selama masih ada warung tenda yang mengepul di malam hari, selama masih ada pelanggan yang mencari sambal pedas dan serundeng khasnya, legenda Bebek Purnama tampaknya akan terus menjadi bagian dari sejarah kuliner Nusantara. (By/Red)
Nasional
Mas Bowo Ganteng: Jejak Digital yang Muncul Sebelum Viralnya Mas Bahlil Ganteng

Jakarta— Fenomena budaya digital sering kali berkembang melalui proses yang tidak linear. Sebuah istilah, gambar, meme, atau unggahan sederhana dapat menjadi benih awal yang kemudian berkembang menjadi tren besar di ruang publik. Dalam konteks ini, temuan mengenai gambar bertuliskan “Bowo Ganteng” menjadi menarik untuk dicermati.
Berdasarkan penelusuran metadata digital, gambar tersebut tercatat dibuat pada 18 Mei 2026 pukul 12.41.25 WIB, atau sekitar enam hari sebelum lagu “Mas Bahlil Ganteng” (MBG) mulai viral secara nasional pada 24 Mei 2026. Secara kronologis, data ini menunjukkan bahwa frasa “Bowo Ganteng” telah hadir lebih dahulu dalam ruang digital sebelum ledakan popularitas MBG terjadi.
Kemunculan tersebut memunculkan pertanyaan menarik mengenai pola penyebaran budaya internet. Format penyebutan “Ganteng” yang sederhana, mudah diingat, dan memiliki daya tarik visual ternyata telah muncul dalam bentuk gambar sebelum kemudian dikenal luas melalui lagu, video pendek, serta berbagai konten media sosial.
Dalam gambar yang ditemukan, frasa “Bowo Ganteng” ditampilkan sebagai identitas utama dengan format yang ringkas dan langsung. Pola semacam ini memiliki karakteristik khas budaya digital masa kini: mudah direplikasi, mudah dimodifikasi, dan berpotensi berkembang menjadi meme atau simbol populer di berbagai platform.
Dari perspektif kajian budaya digital, fenomena tersebut bukanlah hal yang asing. Banyak tren internet lahir dari unggahan sederhana yang pada awalnya tidak mendapat perhatian luas, tetapi kemudian menemukan momentum ketika diadopsi oleh komunitas yang lebih besar. Dalam proses itu, sebuah konsep dapat mengalami transformasi bentuk, media, maupun makna.
Menanggapi fenomena tersebut, Yono, pengamat digitalisasi politik Indonesia, pada 1 Juni 2026 menilai bahwa viralitas lagu “Mas Bahlil Ganteng” menunjukkan perubahan lanskap komunikasi politik di era kecerdasan buatan dan media sosial.
Menurutnya, saat ini publik tidak lagi memandang lagu-lagu viral sebagai produk yang hanya bisa dibuat oleh industri kreatif besar atau tim kampanye profesional. Teknologi kecerdasan buatan telah mengubah cara masyarakat memproduksi konten.
“Orang sekarang cukup bermodal ide, telepon genggam, dan akses ke platform AI. Bahkan dengan bantuan ChatGPT atau aplikasi musik berbasis AI, seseorang bisa membuat lagu iseng yang kemudian berkembang menjadi fenomena nasional,” ujar Yono.
Ia menilai bahwa munculnya kabar mengenai keinginan tokoh politik untuk bertemu pembuat lagu viral justru memunculkan beragam respons dari masyarakat. Sebagian publik menganggap fenomena tersebut sebagai bagian dari dinamika budaya internet yang tumbuh secara organik, sehingga tidak perlu selalu ditarik ke ranah politik formal.
“Di media sosial, publik lebih menghargai spontanitas dibandingkan formalitas. Ketika sebuah lagu atau meme sudah menjadi milik publik, perhatian masyarakat sering kali bergeser dari siapa pembuatnya menjadi bagaimana konten itu hidup dan berkembang di tengah komunitas digital,” jelasnya.
Yono juga menambahkan bahwa masyarakat internet Indonesia semakin kritis dalam membaca fenomena viral. Identitas pembuat konten, afiliasi organisasi, maupun latar belakang politik tidak selalu menjadi faktor utama dalam menentukan penerimaan publik.
“Yang membuat sebuah konten bertahan bukan jabatan, bukan struktur organisasi, melainkan kemampuan konten itu untuk menghibur, mengundang partisipasi, dan menciptakan percakapan. Itulah logika budaya digital hari ini,” katanya.
Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti langsung yang menunjukkan adanya hubungan kausal antara gambar “Bowo Ganteng” dan viralnya lagu “Mas Bahlil Ganteng”.
Oleh karena itu, setiap kesimpulan mengenai keterkaitan keduanya perlu ditempatkan dalam kerangka analisis yang hati-hati dan berbasis fakta.
Yang dapat dipastikan adalah bahwa secara kronologis, jejak digital “Bowo Ganteng” muncul lebih dahulu dibandingkan fenomena viral MBG. Fakta waktu tersebut menjadikan gambar ini layak dicatat sebagai bagian dari dinamika budaya internet Indonesia yang berkembang sangat cepat sepanjang Mei 2026.
Di era digital, sejarah sebuah tren tidak selalu dimulai dari karya besar atau kampanye terencana. Terkadang, ia berawal dari sebuah gambar sederhana, unggahan ringan, atau bahkan konten yang dibuat secara iseng. Namun dari ruang-ruang kecil itulah sering lahir gelombang budaya populer yang kemudian menyebar luas dan menjadi perbincangan nasional.
Dalam konteks itulah, “Bowo Ganteng” dapat dipandang sebagai salah satu jejak digital menarik yang muncul sebelum fenomena MBG meledak di ruang publik Indonesia. (By/Red)
Jawa Timur
Polres Blitar Dampingi Warga Wujudkan Swasembada Pangan dan Memanfaatkan Lahan

BLITAR – Komitmen mendukung program ketahanan pangan nasional terus ditunjukkan jajaran Polres Blitar Polda Jatim dengan melakukan pendampingan warga tani, serta warga dalam memanfaatkan lahan untuk mewujudkan swasembada pangan.
Kali ini, Polsek Wlingi melalui fungsi Bhabinkamtibmas turun langsung melakukan pendampingan pengelolaan lahan Tanaman Sayur di Desa Tembalang , Kecamatan Wlingi, pada Minggu (31/5).
Pendampingan dilakukan sebagai bentuk keseriusan Polres Blitar Polda Jatim dalam memastikan sektor pertanian memanfaatkan lahan tetap produktif dan mampu menopang kebutuhan masyarakat.
Kapolres Blitar, AKBP Rivanda menegaskan bahwa pihaknya terus mengawal perkembangan swasembada pangan dan pemanfaatan lahan di seluruh wilayah Kabupaten Blitar.
Selain itu melalui satuan Bag Sdm Polres Blitar juga aktif koordinasi dan berkolaborasi lintas sektor yang menjadi kunci untuk meningkatkan hasil panen para Warga masyarakat.
“Kami terus berdiskusi dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian maupun kelompok tani agar tanaman sayur kebutuhan sehari-hari mampu menghasilkan panen yang lebih maksimal,” ujar AKBP Rivanda.
Ia menambahkan, kehadiran Polres Blitar Polda Jatim di tengah aktivitas masyarakat bukan sekadar simbol pengawasan, namun juga bentuk dukungan nyata terhadap para warga agar semakin semangat mengelola lahannya.
“Program pendampingan tersebut juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, mulai dari cuaca hingga fluktuasi harga hasil panen,”paparnya.
Polres Blitar terus melakukan terobosan menggandeng warga tani untuk turut mensukseskan ketahanan pangan nasional.(Jef/ Hms)
Editor: Joko Prasetyo
Redaksi1 minggu agoMBG di Karangwaru Bobrok: Menu Tak Layak Diduga Akibat Permainan Mitra dan Kontrol Mandul
Redaksi1 minggu agoGelombang Protes Hantam SPPG Karangwaru Tulungagung, Menu MBG Dinilai Tak Manusiawi
Redaksi1 minggu agoKPK Cium Dugaan Setoran Uang ke Bupati Nonaktif Tulungagung, Plt Bupati dan Belasan Pejabat Diperiksa
Redaksi2 minggu agoWibawa Pemkab Tulungagung Dipertanyakan, Bangunan Disanksi Satpol PP Kembali Berdiri di Lahan LP2B
Jawa Timur1 minggu agoSantri Putri Tuban Tembus Dunia Lewat Novel Bahasa Inggris, Karya Keenam Tsalis Dipuji Guru Besar UINSA
Redaksi2 minggu agoPengumuman Mendadak, Peserta Seleksi Manajer Koperasi Desa Merah Putih Keluhkan Jadwal Ujian dan Lokasi Tes yang Jauh
Redaksi5 hari ago372 SPPG di Jatim Disetop Mendadak, 10 Titik di Tulungagung Kena Suspensi: Temuan “Perbaikan Major” Gegerkan Program MBG
Nasional2 minggu agoTak Hanya Kepala BPBD, KPK Juga Panggil 8 Direktur Perusahaan sebagai Saksi Kasus Bupati Tulungagung










