Redaksi
Karcis Tanpa Diberi Restribusi, Inspektorat Tulungagung Sebut; Pungli

TULUNGAGUNG— Ketua Laskar Merah Putih (LMP) Macab Tulungagung, Hendri Dwiyanto, mengunjungi Kantor Inspektorat Tulungagung untuk menindaklanjuti informasi dari Polres Tulungagung terkait laporan yang telah dilimpahkan ke Inspektorat.
Hendri diterima langsung oleh Kepala Inspektorat Tulungagung, Tranggono Dibyo Harsono, Rabu (14/8).
Permasalahan yang LMP soroti adalah dugaan pungli parkir di Dinas Perhubungan Kabupaten Tulungagung.
Kasus ini sudah dilaporkan LMP ke Polres Tulungagung dan dilimpahkan ke Inspektorat Kabupaten Tulungagung.
“Kami menanyakan parkir di Tulungagung yang diminta uang parkir tapi tidak diberi karcis retribusi parkir,” jelas Hendri.
Dirinya, sempat bertanya kepada juru parkir yang mengatakan bahwa setiap hari harus setor ke Dinas Perhubungan sebesar 40-60 ribu rupiah pernah hari.
Dirinya, sempat menunjukan rekaman tersebut pada Kepala Inspektorat Tulungagung.

Caption Foto: Ketua Laskar Merah Putih (LMP) Macab Tulungagung saat melakukan klarifikasi dikantor Inspektorat Tulungagung, Jawa Timur.
Menanggapi hal itu, Tranggono akan mengkaji lebih lanjut aduan LMP tersebut.
Tranggono menyatakan bahwa Inspektorat telah menindaklanjuti laporan tersebut, namun tim masih berada dalam program diklat (pendidikan dan pelatihan).
Setelah diklat selesai, Inspektorat akan segera mengambil tindakan lebih lanjut, mengingat sesuai dengan aturan yang ada, batas waktu maksimal untuk menyelesaikan laporan adalah 60 hari setelah surat masuk.
“Pasti akan kita lanjuti,” ujarnya.
Saat ditanya, apakah pembayaran karcis tanpa diberi retribusi masuk kategori pungli (pungutan liar)?
Dirinya mengiyakan pertanyaan awak media tersebut.
“Pungli,” ucapnya.
Meski demikian pihaknya masih tetap mempelajari dugaan tersebut.
Sebab untuk memutuskan hal tersebut pungli atau tidak, butuh penyelidikan lebih lanjut. (DON/Red)
Editor: Joko Prasetyo
Redaksi
Wabup Tulungagung Dikucilkan dari Proses Mutasi ASN: Saya Tak Diajak, Ada Yang Tak Wajar dan Bernuansa Nepotisme

TULUNGAGUNG – Sebuah gelombang kejutan mengguncang internal pemerintah Kabupaten Tulungagung. Terkait mutasi terhadap 141 Aparatur Sipil Negara (ASN).
Wakil Bupati Tulungagung, Ahmad Baharuddin, secara terbuka mengaku tidak dilibatkan sama sekali dalam proses mutasi dan rotasi massal jabatan eselon III dan IV yang digelar pada Selasa (30/12) lalu. Acara bertempat di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso.
Namun, menurut Baharuddin, ada sejumlah “keanehan” yang tak bisa diabaikan. Selain itu juga mengisyaratkan ada “tangan-tangan” yang bekerja di luar prosedur normal.
“Saya sebagai Wakil Bupati justru tak dilibatkan dalam proses ini. Ini kan kebijakan strategis, seharusnya ada koordinasi,” ujarnya pada tayangan di salah satu media sosial.
Yang lebih menyita perhatian, pihaknya menyoroti dua kasus mutasi yang dinilainya tidak masuk akal. Pertama, ada seorang ASN yang dilantik hanya dua hari menjelang masa pensiunnya.
“Untuk apa dimutasi kalau tinggal dua hari pensiun? Ini mubazir dan berpotensi mengganggu sistem,” tegasnya.
Kedua, ada ASN lain yang seharusnya tidak perlu digeser karena masih menjabat dalam posisi fungsional dan hanya tersisa dua tahun sebelum pensiun.
“Ini jelas tidak prosedural. Mutasi seharusnya untuk pengembangan karier dan kebutuhan instansi, bukan untuk kepentingan sesaat,” tambahnya.
Tembakan paling tajam dilontarkan Baharuddin ketika menyebut adanya indikasi nepotisme yang kuat dalam pengangkatan salah satu pejabat.
Ia mengungkapkan, posisi Wakil Direktur RSUD dr Iskak yang baru dilantik ternyata masih memiliki hubungan saudara dengan Bupati Tulungagung.
“Kalau sudah ada hubungan keluarga, lalu diangkat dalam jabatan strategis seperti itu, masyarakat pasti bertanya. Ini prinsip meritokrasi dipertaruhkan,” tukasnya.
Pernyataannya ini berpotensi memicu badai politik di tingkat lokal, mengingat isu kolusi dan nepotisme selalu sensitif di telinga publik.
Merespons temuan ini, pengamat kebijakan publik dan juga sebagai ketua LSM Wahyudi, menyatakan bahwa ketidakterlibatan Wakil Bupati adalah lampu merah bagi tata kelola pemerintahan.
“Ini bisa jadi indikasi lemahnya koordinasi dan transparansi. Bisa memicu konflik vertikal di internal pemerintah daerah,” paparnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak BKPSDM Tulungagung belum memberikan tanggapan resmi. Namun, kabar ini sudah menyebar cepat di kalangan ASN dan masyarakat, menimbulkan tanya besar, Ada apa sebenarnya di balik mutasi massal ini?
Publik kini menunggu reaksi dari Bupati Tulungagung. Terkait penjelasan yang masuk akal, atau ini akan menjadi awal dari sebuah skandal yang lebih besar. (DON/Red)
Editor: Joko Prasetyo
Redaksi
Jaga Kualitas SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar Kedungwaru, Anggota DPR RI Apresiasi Keberanian dan Niat Khidmat SPPG

TULUNGAGUNG— Anggota Komisi IX DPR RI, H. Nurhadi, menghadiri tasyakuran satu tahun perjalanan SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar Kedungwaru, Tulungagung, pada Ahad, 4 Januari 2026.
Acara yang berlangsung sederhana di Gedung Dakwah Abi KHM Ihya Ulumiddin tersebut menjadi momentum refleksi atas kiprah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan konsisten selama satu tahun penuh.
Dalam amanahnya, Nurhadi menyampaikan apresiasi atas keberanian SPPG Khusus Al Azhaar yang menjadi salah satu gelombang pertama pelaksana dapur MBG di tengah keraguan banyak pihak pada awal program.
“Saat kunjungan saya pada Juli 2025, Mbah Yai Imam mengisahkan bahwa di awal program harus menanggung seluruh dana operasional. Namun beliau tetap menjalankan hingga akhirnya muncul kebijaksanaan baru,” ungkap Nurhadi.
Politisi Partai NasDem asal Udanawu, Blitar, itu menegaskan bahwa pelaksanaan dapur MBG harus dilandasi dengan niat berkhidmat, bukan semata orientasi teknis.
Menurutnya, SPPG Khusus Al Azhaar telah membuktikan komitmen tersebut dengan menjaga kualitas menu bagi para penerima manfaat.
“Para penerima manfaat selalu menanti kiriman MBG dari SPPG Kedungwaru Tulungagung,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, relawan SPPG Ibu Yeni Selamet menyampaikan rasa syukur dapat terlibat langsung dalam pengabdian melalui dapur MBG.
“Saya selalu memberi doa setiap pemorsian asupan menu MBG,” tuturnya.
Sementara itu, Kholiq, relawan bagian memasak nasi, berbagi kisah pengabdian yang menuntut kedisiplinan tinggi.
“Saya harus datang pukul 01.00 saat semua orang masih istirahat. Tetangga sering bertanya, bekerja apa kok berangkat tengah malam? Ini pengabdian untuk generasi sehat,” ujarnya di hadapan sekitar 150 undangan.
Kepala SPPG Khusus Al Azhaar, Yanita, menjelaskan bahwa undangan tasyakuran terdiri dari 50 warga sekitar, 47 relawan, 12 perwakilan penerima manfaat, 15 anggota Dewan Syuro Yayasan LPI Al Azhaar, serta perwakilan Koramil dan Polsek Kedungwaru.
“Semua hadir dengan penuh kebersamaan dan dukungan. Saya sampaikan terima kasih,” ucap Yanita.
Dukungan juga datang dari Koramil Kedungwaru. Perwakilannya, Edy Mulyono, menegaskan bahwa program dapur MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Rakyat langsung menerima manfaat dari program MBG,” jelasnya.
Pengasuh Pesantren Al Azhaar Kedungwaru, Abah Imam, menyampaikan terima kasih atas dukungan warga Desa Kedungwaru dan Rejoagung yang selama ini membersamai SPPG.
Ia berharap pada tahun kedua, SPPG Khusus Al Azhaar dapat menghadirkan program-program baru yang lebih menyentuh kebutuhan masyarakat sekitar.
“Semoga di tahun kedua SPPG Khusus Al Azhaar Kedungwaru dapat membuat program untuk warga sekitar. Mohon doa agar program untuk masyarakat dapat terwujud,” harapnya.
Acara tasyakuran ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. H. Nurhadi menyerahkan potongan pertama kepada perwakilan Koramil Kedungwaru, sementara KH. Imam Mawardi Ridlwan menyerahkan potongan tumpeng kepada Anggota Komisi IX DPR RI.
Doa penutup dipimpin oleh Kyai Burhan dari Pesantren Al Azhaar Pagerwojo Tulungagung, menandai berakhirnya acara yang berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. (DON/Red)
Redaksi
Milad Perdana SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar Tulungagung, Setahun Berkhidmad dengan Kesederhanaan

TULUNGAGUNG — Genap satu tahun berkhidmad, SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar Tulungagung menggelar tasyakuran milad perdana pada Minggu 4 Januari 2026.
Acara sederhana tersebut menjadi wujud rasa syukur atas perjalanan satu tahun pengabdian yang dijalani dengan niat tulus dan penuh keikhlasan.
Pengasuh Pesantren Al Azhaar Tulungagung, KH. Imam Mawardi Ridlwan, menjelaskan bahwa dapur SPPG secara operasional mulai berjalan pada 6 Januari 2025.
Namun, tasyakuran awal pendirian dapur dilaksanakan pada 4 Januari 2025, sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari milad.
“Semoga berkah. Tasyakuran ini sederhana, hanya untuk bersyukur agar perjalanan ke depan diberi kemudahan dan keberkahan,” tutur KH. Imam Mawardi Ridlwan yang akrab disapa Abah Imam.
Peringatan satu tahun SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar ditandai dengan tumpengan dan tahlil yang dipimpin bersama para relawan dan warga sekitar.
Kasatpel SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar, Yanita, menyampaikan bahwa tasyakuran ini digelar secara terbatas tanpa undangan resmi.
“Yang kami undang hanya rekan relawan dan tetangga sekitar dapur. Kami mohon doa di usia satu tahun ini. Ini milad perdana, semoga membawa berkah,” ujar Yanita.
Suasana acara berlangsung hangat dan guyub. Tanpa kemewahan, para tamu duduk lesehan, bersholawat, bertahlil, mendengarkan sambutan, dan berdoa bersama. Kesederhanaan justru menjadi kekuatan yang merekatkan kebersamaan.
Abah Imam mengenang awal perjalanan dapur MBG yang dikelola pesantren.
“Pada 4 Januari 2025 kita menggelar tasyakuran kecil. Dua hari kemudian, 6 Januari, dapur MBG mulai running untuk berkhidmad,” kenangnya.
Dapur MBG bukan sekadar tempat memasak, melainkan simbol pengabdian. Asap yang mengepul dari tungku menjadi tanda kerja tulus yang terus berjalan demi kemaslahatan bersama.
Tasyakuran tersebut turut dihadiri perwakilan Koramil dan Polsek Kedungwaru sebagai sahabat dan mitra pesantren, serta para relawan dan tetangga sekitar.
Dalam sambutannya, perwakilan Koramil Kedungwaru, Edy Mulyono, menyampaikan apresiasi atas peran Pesantren Al Azhaar.
“Pesantren ini telah berkhidmad dengan baik. Semoga apa yang dilakukan membawa keberkahan,” jelasnya.
Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, juga menyempatkan hadir dan mengenang awal dukungannya terhadap dapur SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar Kedungwaru.
“Tak terasa sudah setahun Al Azhaar Kedungwaru berkhidmad. Ini peran yang sangat baik dan tulus. Dapur Al Azhaar termasuk dapur yang sejak awal rela menalangi dana,” ungkap Nurhadi.
Kini, setelah satu tahun berjalan, dapur SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar tetap beroperasi. Relawan terus setia, warga sekitar tetap mendukung, dan rasa syukur semakin mendalam.
Milad perdana ini bukan sekadar peringatan waktu, melainkan pengingat bahwa sesuatu yang dimulai dengan niat tulus, meski sederhana, dapat bertahan dan terus tumbuh. (DON/Red)
Redaksi6 hari ago141 Pejabat Pemkab Tulungagung Dilantik, Bupati; Jangan Menjadikan Jabatan Untuk Mencari Kenyamanan
Jawa Timur2 minggu agoGerakan Ayah Mengambil Rapor Disorot, Sekolah di Tulungagung Hadapi Realita Lapangan
Redaksi2 minggu agoDiduga Abaikan Putusan MK, Mobil Konsumen Ditarik Paksa Berujung Laporan Ke Polisi
Redaksi1 minggu agoTeror Dugaan Pungli di Taman Pinka Tulungagung: Pedagang Dipalak Oknum Mantan Pedagang, Bayar atau Terusir
Redaksi7 hari agoTema: “Temu Kangen”, Ratusan Honda Jazz GE8 Pererat Silaturahmi Komunitas Otomotif Jatim
Jawa Timur2 minggu agoParkir Berlangganan Mulai 2026, Ancaman Pungli Mengintai: Bebas Parkir atau Beban Baru?
Redaksi2 minggu agoKasus Tiang ISP Ilegal Menjamur, PUPR dan Satpol PP Tulungagung Disorot Tajam, Dugaan Pungli Menguat
Redaksi1 minggu agoDorong Kerukunan Antar Organisasi, Tugu Lawang Nusantara Gelar Sosialisasi Stabilitas Nasional












