Connect with us

Redaksi

Pemenuhan Hak Masyarakat Adat Jadi Prioritas Pemerintahan Baru 2024-2029

Published

on

 

Teminabuan PBD (03/02/25) – Pemerintahan baru periode 2024-2029 menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, dengan fokus utama pada permasalahan sosial budaya yang dihadapi oleh masyarakat adat. Hal ini disampaikan oleh Yohan Bodory, Kepala Suku Imekko Kabupaten Sorong Selatan, yang menyatakan bahwa sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit dan sagu, telah menjadi masalah yang mendalam bagi masyarakat adat.

Kebun kelapa sawit, misalnya, telah mengakibatkan hilangnya tanah adat tanpa ada keuntungan bagi masyarakat setempat, dengan kebun plasma yang tidak pernah dirasakan oleh mereka. Sementara itu, harga sagu yang dihitung dengan tarif seribu rupiah per meter dianggap sebagai penghinaan bagi masyarakat yang bergantung pada hasil bumi tersebut.

“Kami tidak ingin meninggalkan kenangan air mata bagi generasi mendatang, tapi kami ingin meninggalkan mata air yang menjadi harapan mereka,” tegas Yohan Bodory.

Permasalahan ini menjadi perhatian utama di wilayah Imekko, terutama di Distrik Kais dan Distrik Metemani, di mana masyarakat adat sangat berharap pemerintahan baru dapat menyelesaikan ketidakadilan yang terjadi. Pemerintahan baru diharapkan dapat memberikan solusi konkret dan mengembalikan hak-hak masyarakat adat agar mereka bisa menikmati hasil dari tanah dan kebun mereka secara adil dan merata.

(Tim/Red)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Redaksi

Roti Berjamur, Pembina Yayasan Al Azhaar: Sudah Dibiayai Rp6 Juta Sehari, Jangan Rakus

Published

on

TULUNGAGUNG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan setelah ditemukan makanan tidak layak konsumsi dalam paket yang dibagikan kepada siswa sekolah dasar di Tulungagung. Temuan roti berjamur dalam paket snack tersebut memicu kritik keras dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Azhaar Indonesia, KH. Imam Mawardi Ridlwan.

Kasus ini mencuat setelah media 90detik.com melaporkan adanya roti berjamur yang diterima siswa di SDN 4 Kampungdalem pada Jumat pagi (6/3/2026). Makanan tersebut merupakan bagian dari paket snack program MBG yang seharusnya mendukung pemenuhan gizi anak-anak sekolah.

Menanggapi hal itu, Imam yang akrab disapa Abah Imam menyampaikan kritik tajam terhadap para mitra penyedia makanan dalam program tersebut. Dia menilai temuan roti berjamur menunjukkan adanya kelalaian serius bahkan potensi penyimpangan dalam pelaksanaan program di lapangan.

Menurutnya, para mitra MBG seharusnya menjalankan amanah pemerintah dengan penuh tanggung jawab dan tidak mengurangi kualitas makanan yang diberikan kepada para siswa.

“Mereka para mitra BGN sudah diberi dana sewa oleh BGN setiap hari Rp6 juta. Maka tidak baik masih mengkorupsi dana jatah para murid. Jangan rakus. Belanjakan yang amanah. Jujurlah sebagai mitra BGN,” tegas Imam Mawardi Ridlwan pada Jumat (6/3).

Pihaknya menegaskan, praktik menekan biaya hingga mengorbankan kualitas makanan sangat tidak dapat dibenarkan, apalagi program tersebut menyasar anak-anak sekolah yang membutuhkan asupan gizi yang baik.

Lebih lanjut, Abah Imam meminta para kepala dapur MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap mematuhi standar belanja makanan yang telah ditetapkan pemerintah.

Dirinya mengingatkan bahwa anggaran makanan harus digunakan sesuai ketentuan, yakni Rp8.000 untuk siswa kelas kecil dan Rp10.000 untuk siswa kelas besar.

Menurutnya, kepala SPPG memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahan makanan yang diterima benar-benar layak konsumsi.

“Para Kepala SPPG harus tetap membelanjakan Rp8.000 untuk kelas kecil dan Rp10.000 untuk kelas besar. Jika mitra memberikan bahan yang kurang baik, lebih baik ditolak dan dibuat laporan khusus,” ujarnya.

Abah Imam juga menyoroti pentingnya peran pengawasan dalam pelaksanaan program MBG di daerah. Dia meminta para kepala satuan pelaksana (Kasatpel), koordinator kecamatan (Korcam), hingga koordinator wilayah (Korwil) SPPG untuk tidak ragu bersikap tegas terhadap mitra yang melanggar.

Menurutnya, program yang dirancang untuk meningkatkan gizi anak-anak bisa kehilangan tujuan jika pengawasan di lapangan lemah.

“Mitra nakal harus diberi peringatan agar program yang baik ini dapat berjalan sesuai tujuan awal,” terangnya.

Dalam pesannya yang disampaikan dari Tanah Suci pada Jumat (6/3), dia juga menegaskan bahwa aparat pengawas program tidak boleh bersikap pasif.

“Kasatpel, Korcam, dan Korwil wajib tegas. Tidak boleh lemah,” tegasnya.

Selain itu, Abah Imam juga menekankan bahwa kepala SPPG harus memiliki keberanian untuk menolak bahan makanan yang tidak layak dari mitra penyedia.

Ketegasan tersebut menjadi kunci agar kualitas makanan yang diterima siswa tetap terjaga dan program MBG benar-benar memberi manfaat bagi kesehatan anak-anak sekolah.

“Jadi Kepala SPPG harus tegas. Kalau ada mitra nakal, harus berani menolak,” pungkasnya.

Temuan roti berjamur di sekolah dasar tersebut menjadi alarm bagi pelaksanaan program MBG di daerah. Tanpa pengawasan ketat dan integritas para mitra penyedia makanan, program yang bertujuan meningkatkan gizi generasi muda berisiko tercoreng oleh praktik yang tidak bertanggung jawab. (DON/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Redaksi

Skandal Roti Berjamur di Program Makan Bergizi Gratis, Sultan Resto Diduga Terlibat

Published

on

TULUNGAGUNG— Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menyehatkan anak-anak sekolah justru jadi petaka. Sejumlah siswa SDN 4 Kampungdalem, Tulungagung, dikejutkan dengan temuan roti berjamur dalam paket snack yang dibagikan di sekolah, pada Jumat pagi (6/3) pagi.

Kejadian ini langsung viral di kalangan orang tua murid dan memicu kemarahan publik. Pasalnya, makanan yang didistribusikan oleh pihak katering Sultan Resto itu nyaris dimakan oleh para siswa sebelum akhirnya diamankan oleh guru.

Peristiwa bermula saat para siswa menerima paket snack seperti biasa. Namun, kegaduhan terjadi ketika beberapa anak membuka kemasan roti dan melihat bercak jamur jelas menempel di permukaan roti.

Reflek, para siswa langsung melapor ke wali kelas. Pihak sekolah pun sigap. Guru langsung memerintahkan seluruh siswa untuk tidak memakan roti tersebut dan mengamankan paket snack yang mencurigakan.

Paket makanan tersebut diketahui merupakan bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan oleh SPPG Sultan Resto,salah satu rekanan penyedia MBG di wilayah Tulungagung.

Orang tua murid pun geram. Mereka menuding adanya kelalaian fatal dalam proses kontrol kualitas makanan sebelum dikirim ke sekolah.

“Ini menyangkut kesehatan anak-anak SD. Seharusnya makanan dicek dulu, jangan asal kirim. Kalau sampai dimakan, gimana nasib anak kami?” ujar salah satu wali murid yang tidak ingin disebutkan namanya.

Menurutnya, program yang bertujuan meningkatkan gizi siswa justru berpotensi menjadi bumerang jika makanan yang diberikan tidak layak konsumsi.

BGN Tulungagung Gercep: Beri SP1 dan Evaluasi Supplier.

Menanggapi insiden ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Tulungagung, Sabrina Mahardika, langsung buka suara. Pihaknya berjanji akan menelusuri rantai distribusi makanan dan menindak tegas penyedia jasa boga yang lalai.

“Saya sudah minta yang bersangkutan membuat laporan dan memberikan SP 1 kepada supplier. Kami akan pertimbangkan kembali kerja sama dengan supplier tersebut karena terbukti tidak mampu memberikan kualitas yang baik,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) terkait belum memberikan keterangan resmi. Belum diketahui pasti apakah kerusakan roti disebabkan oleh kesalahan produksi, distribusi, atau penyimpanan.

Insiden roti berjamur ini menjadi alarm keras bagi pengelola program MBG. Mengingat konsumennya adalah anak-anak, standar keamanan dan higienitas makanan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas.

Publik kini menanti tindakan nyata dari BGN dan pihak terkait. Jangan sampai program bernilai positif ini tercoreng oleh kelalaian yang membahayakan generasi penerus bangsa. (DON/Red)

Editor : Joko Prasetyo

Continue Reading

Redaksi

Program MBG di Tulungagung Tercoreng: Gagal Jaga Mutu, Roti Berjamur Dibagikan ke Siswa SDN 4 Kampungdalem

Published

on

TULUNGAGUNG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi upaya meningkatkan kesehatan dan gizi anak sekolah di Kabupaten Tulungagung justru tercoreng. Pada Jumat pagi (6/3/2026), sejumlah siswa di SDN 4 Kampungdalem menemukan roti dalam paket kudapan (snack) yang dibagikan di sekolah dalam kondisi berjamur dan diduga tidak layak konsumsi.

Temuan tersebut langsung memicu kekhawatiran di kalangan guru maupun orang tua murid. Pasalnya, makanan yang seharusnya menjadi bagian dari program peningkatan gizi justru berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak jika sampai dikonsumsi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, paket snack tersebut merupakan bagian dari program pendampingan gizi yang rutin dibagikan kepada para siswa. Paket makanan itu diketahui berasal dari penyedia jasa boga Sultan Resto, yang menjadi rekanan penyedia makanan dalam program MBG di wilayah Tulungagung.

Kejadian bermula ketika para siswa menerima paket snack seperti biasa dan hendak mengonsumsi roti yang ada di dalamnya. Namun saat kemasan dibuka, beberapa siswa melihat adanya bercak jamur pada permukaan roti.

Bercak tersebut terlihat cukup jelas dan menimbulkan kecurigaan bahwa makanan tersebut sudah tidak layak dikonsumsi. Para siswa kemudian melaporkan temuan tersebut kepada guru yang berada di kelas.

Mengetahui adanya roti yang diduga telah rusak, pihak sekolah segera mengambil langkah cepat. Guru dan pihak sekolah langsung menginstruksikan para siswa untuk tidak memakan roti tersebut.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya antisipasi untuk mencegah kemungkinan terjadinya keracunan makanan di kalangan siswa.

Selain itu, beberapa paket snack yang ditemukan bermasalah juga langsung diamankan oleh pihak sekolah guna dilakukan pengecekan lebih lanjut.

Insiden ini menimbulkan pertanyaan serius terkait proses pengawasan kualitas makanan sebelum didistribusikan ke sekolah. Mengingat makanan tersebut dikonsumsi oleh anak-anak sekolah dasar, standar keamanan dan kebersihan makanan seharusnya menjadi prioritas utama.

Sejumlah orang tua murid pun menyayangkan kejadian tersebut. Mereka menilai adanya kelemahan dalam sistem kontrol kualitas dari pihak penyedia makanan.

Menurut mereka, setiap makanan yang disalurkan ke sekolah seharusnya melalui proses pengecekan ketat agar benar-benar aman dikonsumsi oleh para siswa.

“Seharusnya pihak katering memastikan setiap makanan yang dikirim ke sekolah dalam kondisi segar dan higienis. Ini menyangkut kesehatan anak-anak sekolah dasar,” ujar salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.

Dirinya juga menilai bahwa program yang bertujuan meningkatkan gizi siswa tidak seharusnya justru menimbulkan risiko kesehatan akibat makanan yang tidak layak konsumsi.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Tulungagung, Sabrina Mahardika mengatakan pihaknya akan menelusuri sumber distribusi makanan tersebut.

“Dari SPPG Aquatic sepertinya pak, saya sedang cari tahu juga,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi 90detik.com Jumat(6/3).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pihak terkait masih melakukan penelusuran untuk mengetahui asal distribusi makanan serta kemungkinan adanya kesalahan dalam rantai penyediaan makanan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak SDN 4 Kampungdalem maupun pihak SPPG yang berkaitan belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti roti tersebut berjamur.

Belum dapat dipastikan apakah kerusakan makanan tersebut disebabkan oleh kesalahan dalam proses produksi, distribusi, atau penyimpanan sebelum sampai ke tangan siswa.

Insiden ini menjadi peringatan serius bagi pelaksanaan program MBG di daerah. Masyarakat berharap dinas terkait segera melakukan evaluasi terhadap sistem pengawasan serta kinerja rekanan penyedia makanan. (DON/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Trending