Budaya
Peguyuban Tayub Margo Rukun Trenggalek Gelar Tasyakuran, Perkuat Komitmen Lestarikan Budaya Lokal

TRENGGALEK – Upaya melestarikan seni budaya tradisional terus dilakukan masyarakat Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek.
Peguyuban Seni Tayub Margo Rukun menggelar tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memperkuat komitmen menjaga eksistensi kesenian Tayub di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan tersebut berlangsung di kediaman Ketua Peguyuban Margo Rukun, Yani Parisma, di Dusun Cangombo, Desa Wonocoyo, pada Rabu (24/6).
Acara dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Trenggalek, Muspika Kecamatan Panggul, Polsek Panggul, Koramil Panggul, Kepala Desa Wonocoyo, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, para sesepuh, serta pecinta seni budaya.
Dalam sambutannya, Ketua Peguyuban Margo Rukun, Yani Parisma, mengatakan bahwa kelompok seni yang dipimpinnya kini telah memiliki legalitas resmi berupa badan hukum dari Kementerian Hukum dan HAM.
Selain itu, organisasi tersebut juga telah memiliki surat keputusan (SK) dan didaftarkan ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Trenggalek.
Menurutnya, legalitas tersebut menjadi langkah penting agar keberadaan organisasi seni budaya semakin diakui serta memperoleh kepastian dalam menjalankan berbagai kegiatan pelestarian budaya.
“Ke depan paguyuban ini akan terus kita perkuat kelembagaannya agar semakin tertata. Semua organisasi seni budaya nantinya diharapkan memiliki legalitas yang jelas sehingga dapat terus berkembang,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelestarian seni budaya merupakan bagian dari komitmen bersama untuk menjaga warisan budaya daerah. Karena itu, seluruh anggota diminta menjaga kekompakan dan menghindari sikap merasa paling unggul.
“Mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikan seni Tayub. Seni budaya ini adalah milik bersama sehingga harus dirawat dengan semangat kebersamaan,” katanya.
Yani juga mengungkapkan bahwa Desa Wonocoyo memiliki beragam kesenian tradisional lain, seperti jaranan. Kehadiran kembali seni Tayub diharapkan mampu mempererat kerukunan masyarakat sekaligus menjadi ruang hiburan bagi para sesepuh dan pecinta seni tradisional.
Budaya Tayub sendiri merupakan salah satu kesenian rakyat Jawa yang telah berkembang sejak masa Kerajaan Singosari.
Pertunjukan ini mengedepankan keindahan gerak tari dan dimainkan secara berpasangan antara penari perempuan (waranggana) dan penayub laki-laki.
Hingga kini, Tayub masih kerap ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti pernikahan, khitanan, hajatan, hingga sedekah bumi. Seiring perubahan zaman, kesenian Tayub juga mengalami transformasi.
Langen Tayub yang berkembang saat ini dinilai lebih tertata dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sosial tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat.
Pengamat seni, Bambang, berharap regenerasi pelaku seni Tayub terus berjalan sehingga kesenian tradisional tersebut tetap lestari di masa mendatang.
“Kami berharap Tayub, khususnya Peguyuban Margo Rukun, semakin berkembang dan mampu melahirkan generasi penerus. Gerakan tari yang dahulu belum tertata kini sudah disesuaikan dengan versi baru, sementara kekompakan para pelaku seni juga semakin baik,” ungkapnya.
Melalui kegiatan tasyakuran ini, masyarakat berharap Peguyuban Seni Tayub Margo Rukun dapat menjadi wadah pelestarian budaya lokal sekaligus memperkuat identitas budaya Kabupaten Trenggalek di tengah arus modernisasi.(YT/Red)
Editor: Joko Prasetyo
Budaya
Langen Tayub Tetap Eksis di Trenggalek, Masih Jadi Hiburan Favorit Warga Panggul

TRENGGALEK – Kesenian tradisional Langen Tayub masih mampu mempertahankan eksistensinya di tengah derasnya perkembangan hiburan modern.
Di Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, kesenian khas Jawa ini bahkan tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk memeriahkan berbagai acara hajatan maupun tradisi adat.
Tidak hanya diminati kalangan tua, Langen Tayub kini juga mulai menarik perhatian generasi muda.
Pergelaran seni yang memadukan tari, musik gamelan, dan tembang Jawa tersebut masih rutin digelar dalam berbagai kegiatan seperti pernikahan, khitanan, sedekah bumi, hingga sedekah laut.

Pecinta kesenian tradisional Langen Tayub Trenggalek, saat mengikuti acara tasyakuran.(dok/YT)
Pementasan Tayub umumnya dimulai pada malam hari dan berlanjut hingga siang hari keesokan harinya. Selain menjadi hiburan, kesenian ini juga berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan sosial masyarakat.
Menjadi bagian dari sebuah kelompok Tayub bukan perkara mudah. Para pelaku seni dituntut memiliki kemampuan khusus, mulai dari olah vokal, penguasaan tari, hingga memahami tata cara jalannya pertunjukan.
Dalam satu kelompok Tayub terdapat sinden, penabuh gamelan, penari perempuan atau waranggana, serta seorang pemandu acara yang mengatur jalannya pertunjukan.
Di Kecamatan Panggul saat ini terdapat satu paguyuban Tayub yang telah berbadan hukum, yakni Paguyuban Margo Rukun, dengan iringan kelompok campursari Surya Nada.
Pemilik Campursari Surya Nada, Suyono, mengatakan kelompoknya saat ini didukung sekitar 20 orang pemandu Tayub dan sekitar 25 waranggana yang masih aktif tampil.
“Jumlah tersebut merupakan mereka yang masih aktif menjalani profesinya hingga saat ini. Bisa bertambah atau berkurang, tetapi yang paling berpengaruh adalah faktor usia,” ujar Suyono, Rabu (24/6).
Menurutnya, minat masyarakat terhadap Tayub di wilayah Panggul masih sangat tinggi. Bahkan, sekitar 75 persen hajatan di sejumlah desa masih menghadirkan hiburan Langen Tayub.
Selain sebagai hiburan, menghadirkan Tayub dalam sebuah hajatan juga dianggap memiliki nilai prestise di tengah masyarakat.
Untuk mendatangkan satu kelompok Tayub, penyelenggara acara setidaknya harus menyiapkan anggaran mulai Rp15 juta untuk satu kali pementasan.
Biaya tersebut dapat meningkat apabila tuan rumah menginginkan waranggana yang sudah memiliki nama besar atau populer di kalangan pecinta Tayub.
Di balik tingginya minat masyarakat, profesi sebagai waranggana juga memiliki tantangan tersendiri. Selain dituntut memiliki kemampuan menari dan menyanyi, mereka juga harus siap menghadapi situasi pertunjukan yang berlangsung hingga larut malam.
Salah seorang waranggana asal Kecamatan Panggul yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku telah menekuni profesi tersebut selama 13 tahun.
Ibu dua anak itu mengatakan risiko terbesar yang dihadapi adalah harus tampil di tengah keramaian dengan beragam karakter penonton.
Meski demikian, profesi tersebut dinilai masih mampu memberikan penghasilan yang cukup menjanjikan. Untuk sekali tampil, ia mematok tarif sekitar Rp1 juta.
Hingga kini, Langen Tayub tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat pedesaan di Trenggalek.
Di tengah hadirnya berbagai bentuk hiburan modern, kesenian tradisional ini masih bertahan sebagai warisan budaya yang terus dilestarikan sekaligus menjadi hiburan favorit dalam berbagai hajatan masyarakat.(YT/Red)
Editor: Joko Prasetyo
Budaya
Marching Band Mustika Nada SDN 2 Karangrejo Kampak Trenggalek Bikin Heboh, Lantunkan Lagu “Cinderella”

TRENGGALEK— Festival Drumband tingkat SD, MI, dan SLTP dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2025 di Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek, resmi digelar pada Sabtu (9/8/2025).
Acara ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai lembaga pendidikan di wilayah Kampak.
Kompetisi ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-80 dan dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu kategori Brass dan Non-Brass.
Kategori Brass mengacu pada pertunjukan drumband yang menampilkan formasi dan musik dengan fokus pada instrumen tiup seperti trumpet, trombone, dan tuba, serta instrumen pit.
Sementara Non-Brass lebih menekankan pada alat musik perkusi seperti snare drum, bass drum, cymbal, serta xylophone dan keyboard, tanpa melibatkan instrumen tiup.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian dan sukses membuat suasana haru adalah Marching Band Mustika Nada dari SD Negeri 2 Karangrejo, Kampak, Trenggalek, yang tampil di kategori Brass.
Penampilan mereka dinilai sangat harmonis dan memukau, terutama saat membawakan lagu “Cinderella” milik Band Raja.

Marching Band Mustika Nada SDN 2 Karangrejo Kampak Trenggalek Bikin Heboh. Foto;(dok/Jiat)
Pelatih Mustika Nada, Rifan Baikuni, menjelaskan bahwa timnya membawakan dua lagu dalam parade kali ini.
“Lagu pertama berjudul Cinderella dari Band Raja, dan lagu kedua adalah lagu kebangsaan Berkibarlah Benderaku,” terang Rifan.
Ia juga menambahkan bahwa tim Mustika Nada selalu menunjukkan performa terbaik di setiap kompetisi.
“Alhamdulillah, sejak saya melatih, Mustika Nada selalu berhasil meraih juara. Ini semua berkat kedisiplinan anak-anak saat latihan, yang kami adakan secara rutin seminggu sekali,” ungkapnya.
Apresiasi juga disampaikan oleh pihak sekolah. Guru SDN 2 Karangrejo, Endah Srilestari, memberikan penghargaan tinggi atas perjuangan para siswa dan pelatih.
“Kami sangat bangga atas kerja keras anak-anak dan pelatih. Mereka sudah berjuang luar biasa dan menampilkan performa terbaik. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, termasuk para wali murid yang telah aktif mendukung setiap kegiatan sekolah,” ujarnya.
Penampilan Mustika Nada menjadi salah satu momen paling berkesan dalam festival kali ini, sekaligus mempertegas eksistensi mereka sebagai salah satu marching band terbaik di tingkat sekolah dasar di wilayah Kampak. (Ji/Red)
Budaya
Menteri Kebudayaan Apresiasi Polri Atas Konsistensi Lestarikan Pagelaran Wayang Kulit

Jakarta — Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengapresiasi semangat Polri dalam memajukan kebudayaan dengan rutin melaksanakan pagelaran wayang kulit saat peringatan Hari Bhayangkara setiap tahunnya. Tahun ini, pagelaran itu dihadiri langsung oleh Menteri Fadli Zon.
“Kegiatan ini saya kira luar biasa. Kami sangat apresiasi sekali dalam rangka HUT Bhyangkara diselenggarakan sebuah pagelaran wayang dengan tema Amartha Binangun ini,” jelas Menteri Fadli Zon di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (4/7/25) malam.
Ia mendorong institusi lain mengikuti langkah Korps Bhayangkara. Terutama dalam upaya melestarikan kebudayaan dalam kegiatan-kegiatannya.
“Kami sangat apresiasi sekali dan mudah-mudahan semakin banyak institusi dalam hari-hari lahirnya bisa menyelenggarakan berbagai kegiatan, termasuk seperti wayang,” ungkapnya.
Pagelaran Wayang, ujar Menteri Fadli Zon, telah masuk di dalam warisan budaya yang diakui oleh UNESCO. Oleh karenanya, pelestarian wayang melalui pementasan sangat menarik.
“Yang pertama malah dulu, tahun 2003 masterpiece of oral tradition and intangible heritage of humanity. Jadi warisan agung budaya dunia, wayang lah yang pertama kali diakui oleh UNESCO dari Indonesia,” ujarnya.
Tak dipungkirinya, komunitas wayang memang masih banyak di daerah-daerah. Namun, beberapa wayang memang perlu penyelamatan khusus.
“Wayang golek yang perlu semakin banyak pementasan. Kalau wayang kulit saya kira masih masih cukup kuat komunitasnya,” ungkap Fadli Zon. (DON)
Nasional3 hari agoHarga Telur Jebol di Bawah Rp20 Ribu, Peternak Blitar di Ambang Gulung Tikar
Nasional2 minggu agoKisruh TORA Ngepoh Memanas, Ketua Pokmas Mergo Mulyo Laporkan Dugaan Fitnah ke Polda Jatim
Nasional1 minggu ago9.000 Jamaah Padati GWD Banyuwangi, Dzikir Jama’i Nasional Persyadha Sambut Tahun Baru Islam 1448 H
Nasional2 minggu agoPasca OTT KPK, Ratusan Massa GEMPAR Tuntut Bersih-Bersih Birokrasi di Tulungagung
Jawa Timur2 minggu agoPolemik MBG dan Koperasi Merah Putih di Blitar, Ketua LASKAR : Program Nasional Dibenahi, Bukan Ditolak
Nasional5 hari agoHimpunan Aktivis Malang Laporkan Dugaan Korupsi Rp12,5 Miliar di Perumda Tugu Tirta ke KPK
Nasional17 jam agoWarga Tulungagung Laporkan Dugaan Penipuan Proyek SPPG MBG, Nama Plt Bupati Disebut dalam Pengaduan
Nasional2 minggu agoLima Perusahaan Perkebunan Dilaporkan, Akankah Pemkab Tulungagung Berani Membuka Fakta ?













