Redaksi
Energi Mahal, Kelas Menengah Melemah: Indonesia Tumbuh, Tapi Siapa yang Naik ?

Jakarta— Indonesia hari ini tampak kuat. Ekonomi tumbuh stabil, ekspor energi melonjak, dan neraca perdagangan mencatat surplus.
Namun di balik itu, ada perubahan yang lebih sunyi dan lebih berbahaya: kelas menengah mulai melemah. Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal arah masa depan.
Ketika Pertumbuhan Tak Lagi Terasa.
Dalam lima tahun terakhir, jutaan orang keluar dari kategori kelas menengah. Di saat yang sama, kelompok “menuju kelas menengah” yang hidup di batas aman ekonomi justru membengkak.
Sejak lama, Bank Dunia mengingatkan bahwa kelas menengah adalah kunci stabilitas ekonomi dan sosial:
“The middle class is critical for Indonesia’s economic future.”
Masalahnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Kelas menengah tidak menguat, melainkan tergerus perlahan.
Boom Energi: Berkah yang Tak Menetes.
Indonesia diuntungkan oleh lonjakan harga energi global, terutama batu bara. Permintaan meningkat, harga melonjak, dan penerimaan negara ikut terdorong.
Namun pertanyaannya sederhana: apakah masyarakat ikut merasakan?
Ekonom Bhima Yudhistira menilai pertumbuhan berbasis komoditas memiliki keterbatasan serius:
“Booming komoditas tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas, karena nilai tambahnya tidak terdistribusi merata.”
Di sinilah paradoks itu muncul: ekonomi tumbuh, tetapi tidak semua ikut naik.
Kelas Menengah yang Diam-Diam Tertekan.
Selama ini, kelas menengah adalah mesin ekonomi: mereka berbelanja, membayar pajak, dan menjaga stabilitas sosial.
Kini perilakunya berubah. Mereka menahan konsumsi, mengurangi belanja non-esensial, dan lebih fokus pada keamanan finansial.
Ekonom Yusuf Rendy Manilet menyebut:
“Yang terjadi bukan hanya pelemahan daya beli, tetapi perubahan perilaku konsumsi akibat ketidakpastian.”
Artinya, ini bukan hanya soal pendapatan, tetapi soal rasa aman.
Energi: Antara Subsidi dan Beban.
Di sinilah politik ekonomi energi menjadi krusial. Negara berusaha menjaga harga tetap stabil melalui subsidi, tetapi tekanan global membuat biaya energi tetap tinggi.
Kelas menengah berada di posisi paling rentan: tidak cukup miskin untuk dilindungi penuh, tetapi tidak cukup kuat untuk menahan kenaikan harga.
Sejumlah studi menunjukkan kebijakan seperti pajak karbon berpotensi bersifat regresif lebih membebani kelompok menengah dan bawah.
Energi, pada akhirnya, bukan hanya soal listrik atau BBM, tetapi soal distribusi beban ekonomi.
Geopolitik Energi dan Masa Depan yang Tak Pasti.
Lonjakan harga energi beberapa tahun terakhir dipicu oleh konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, dan transisi menuju energi bersih.
Namun tren ke depan berpotensi berbalik. Permintaan batu bara diproyeksikan mencapai puncak, lalu menurun.
Indonesia menghadapi risiko ganda:
saat harga naik, masyarakat terbebani; saat harga turun, negara kehilangan penerimaan.
Siklus ini membuat ekonomi tampak kuat, tetapi rapuh secara struktural.
Masalah Utama: Distribusi yang Tak Selesai.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Masalahnya ada pada distribusi.
Selama ini:
• keuntungan energi terkonsentrasi
• dampak ke rumah tangga terbatas
• kebijakan kompensasi belum optimal
Akibatnya, kelas menengah terjepit di tengah tidak cukup dilindungi, tetapi cukup terdampak. Dan perlahan, mereka turun kelas tanpa banyak disadari.
Jalan Keluar :
Pertama, kebijakan energi harus diposisikan sebagai alat distribusi, bukan sekadar stabilisasi harga. Subsidi dan kompensasi perlu menjangkau kelompok rentan, termasuk kelas menengah bawah.
Kedua, windfall energi harus diarahkan untuk investasi jangka panjang: pendidikan, kesehatan, dan penciptaan kerja berkualitas.
Ketiga, hilirisasi harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat luas, bukan hanya angka investasi.
Indonesia Tumbuh, Tapi Siapa yang Naik?
Indonesia tidak sedang mengalami krisis pertumbuhan. Yang dihadapi adalah krisis yang lebih halus: krisis distribusi.
Melemahnya kelas menengah adalah sinyal paling jelas.
Jika diabaikan, dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial dan politik. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan seberapa cepat ia tumbuh, melainkan seberapa banyak warganya ikut naik.
Dan hari ini, pertanyaan itu menjadi semakin mendesak: Indonesia tumbuh tetapi siapa yang benar-benar naik kelas? (By/Red)
Oleh: Yuwono Setyo Widagdo, S.Sos., MH.
Redaksi
KPK Masuk Blitar, Sistem Pengadaan dan Hibah Jadi Sorotan Utama

Blitar— Kunjungan tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, kembali memunculkan perhatian publik terkait ketatnya pengawasan terhadap pengelolaan anggaran daerah.
Langkah KPK tersebut disebut sebagai bagian dari pendampingan pencegahan korupsi yang difokuskan pada perbaikan sistem di sejumlah sektor strategis yang dinilai memiliki kerawanan tinggi terhadap penyimpangan.
Bupati Blitar, Rijanto, menegaskan bahwa pemerintah daerah menyambut penuh proses pendampingan tersebut dan berkomitmen memperbaiki tata kelola pemerintahan agar lebih transparan dan sesuai regulasi.
Menurutnya, terdapat tiga sektor utama yang menjadi perhatian serius, yakni pengadaan barang dan jasa, pengelolaan hibah, serta mekanisme Pokok Pikiran (Pokir) DPRD.
“Bagaimana kita membangun pemerintahan menjadi baik melalui tata kelola yang benar. Mulai dari pengadaan barang dan jasa, tata hibah, hingga Pokir, semua harus berjalan sesuai aturan yang berlaku dan harus kita taati,” ujar Rijanto kepada Media, Selasa (5/5/2026).
Rijanto menyebut, pertemuan yang berlangsung cukup panjang dengan KPK itu menghasilkan banyak catatan penting serta arahan teknis yang akan menjadi pedoman bagi seluruh organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemkab Blitar.
Dirinya menilai, hasil koordinasi tersebut memberikan kejelasan arah dalam upaya memperkuat sistem pengawasan internal agar lebih efektif.
“Pertemuan ini berlangsung cukup lama namun sangat komprehensif. Saya merasa puas karena hasil koordinasi ini memberikan arah yang lebih jelas bagi kita semua,” jelasnya.
Lebih jauh, Rijanto menegaskan bahwa upaya pencegahan korupsi bukan hanya menjadi tanggung jawab eksekutif, tetapi juga legislatif. Ia menekankan pentingnya sinergi antar lembaga dalam menjaga integritas pengelolaan anggaran daerah.
“Kita semua harus semakin baik dan semakin hati-hati. Tidak hanya eksekutif, tapi juga legislatif,” tegasnya.
Menanggapi anggapan publik yang menyebut kehadiran KPK sebagai bentuk tekanan atau “peringatan keras”, Rijanto membantah hal tersebut. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tugas negara dalam memastikan sistem pemerintahan berjalan sesuai koridor hukum.
“Bukan peringatan, tapi ini tugas negara untuk memastikan pengelolaan anggaran yang baik,” terangnya.
Pihaknya kembali menekankan bahwa tujuan utama pendampingan KPK adalah memperkuat edukasi dan mendorong setiap rupiah anggaran daerah dikelola secara transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Fokusnya tetap pada bagaimana kita menjalankan pemerintahan sesuai aturan. Mulai dari pengadaan barang dan jasa, pengelolaan hibah, hingga realisasi Pokok Pikiran DPRD, semuanya harus taat aturan,” tutupnya.
Dengan adanya pendampingan ini, Pemkab Blitar diharapkan mampu memperkuat sistem pengawasan internal dan meminimalisir potensi penyimpangan dalam penyelenggaraan pemerintahan. (DON/Jk)
Redaksi
Demokrasi Tersandera: Dari Ruang Gelap Kekuasaan hingga OTT yang Membongkar Wajah Asli Politik Tulungagung

TULUNGAGUNG— Dalam khazanah filsafat politik, kekuasaan selalu hadir sebagai paradoks, menjanjikan keteraturan, namun kerap melahirkan kekacauan. Sejak era Aristotle hingga Niccolò Machiavelli, hasrat berkuasa dipahami bukan sebagai dorongan netral. Ia dapat menjelma pengabdian, tetapi juga berubah menjadi ambisi rakus yang bersembunyi di balik slogan kesejahteraan rakyat.
Dalam demokrasi modern, hasrat itu menemukan wadahnya melalui partai politik. Di Indonesia, Partai Gerakan Indonesia Raya menjadi salah satu aktor penting dalam dinamika nasional. Namun ketika ditarik ke level lokal, wajah demokrasi sering kali berubah buram dipenuhi kompromi, transaksi, dan relasi kuasa yang sulit dijelaskan secara terbuka.
Semua bermula ketika Syahri Mulyo tersandung kasus korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tongkat kepemimpinan beralih kepada Maryoto Bhirowo, namun kekosongan jabatan wakil bupati membuka ruang bagi praktik politik senyap negosiasi di balik layar, lobi tak terdengar, dan kesepakatan tanpa jejak.
Nama Gatut Sunu Wibowo muncul dari pusaran itu. Dengan dukungan mayoritas parlemen daerah, ia melenggang menjadi wakil bupati. Namun bagi sebagian pengamat, kemenangan tersebut bukan sekadar kecakapan politik, melainkan hasil dari “dosa kolektif” para makelar kekuasaan demokrasi prosedural yang kehilangan substansi.
Di balik layar, Ahmad Bahrudin bukan sekadar saksi. Ia bagian dari mesin politik yang mengantarkan Gatut Sunu Wibowo ke puncak. Ketika pasangan Gatut–Bahrudin (GABAH) memenangkan kontestasi kepala daerah, publik sempat menaruh harapan.
Namun kekuasaan kembali menunjukkan wataknya: melupakan.
Ahmad Bahrudin perlahan tersingkir dari lingkar inti. Konflik internal partai mencuat. Sementara itu, gaya kepemimpinan Gatut Sunu mulai dipertanyakan otoriter, abai terhadap koalisi, dan lebih sibuk membangun citra daripada substansi. Narasi keberhasilan diproduksi masif di media sosial, seolah realitas bisa direkayasa lewat repetisi.
Di tubuh birokrasi, gejala yang lebih serius muncul. Mutasi jabatan yang diklaim bersih dari pungli ternyata menyimpan mekanisme lain: setoran rutin, baik bulanan maupun mingguan. Surat pengunduran diri dijadikan alat tekan. Loyalitas tidak dibangun, melainkan dibeli.
Kekuasaan berubah menjadi relasi transaksional yang dingin.
Puncaknya terjadi ketika Gatut Sunu terjaring operasi tangkap tangan OTT oleh KPK. Dugaan pemerasan terhadap OPD serta aliran dana ke sejumlah unsur FORKOPIMDA sebagai “THR” memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat berubah menjadi jaringan kepentingan yang sistemik.
Namun kerusakan demokrasi tidak berdiri sendiri.
Peran jurnalis, wartawan, dan aktivis LSM yang seharusnya menjadi pilar kontrol sosial ikut melemah.
Independensi terkikis oleh ketergantungan ekonomi. Upeti menggantikan idealisme. Kritik menjadi bisu. Integritas luntur, menyisakan wajah publik yang penuh kepura-puraan.
Di sisi lain, lembaga legislatif daerah kehilangan fungsinya. DPRD tak lagi menjadi pengawas, melainkan bagian dari arena transaksi anggaran. Fungsi kontrol melemah bahkan nyaris tak terlihat. Jika dibiarkan, lembaga ini tak ubahnya sekadar ruang diskusi tanpa arah yang menghabiskan uang negara.
Lalu, di mana rakyat?
Rakyat Tulungagung terjebak dalam pusaran menjadi objek sekaligus korban. Pola yang sama terus berulang dari satu periode ke periode lain. Bahkan figur bermasalah tetap terpilih, seolah menjadi kewajaran.
Apatisme dan pragmatisme tumbuh subur. Demokrasi direduksi menjadi transaksi jangka pendek. Suara diperjualbelikan, integritas ditukar dengan kebutuhan sesaat.
Demokrasi sejatinya bukan sekadar memilih, tetapi membangun kesadaran kolektif. Tanpa partisipasi kritis dan bermoral, ia hanya menjadi alat legitimasi bagi oligarki.
Harapan masih ada, tetapi tidak otomatis hadir.
Tulungagung membutuhkan pemimpin yang bersih dari beban masa lalu tegas, demokratis, dan mampu memulihkan kepercayaan publik. Namun perubahan tidak cukup dari elite. Masyarakat harus bangkit dari ketidakpedulian. Politik uang harus ditolak, bukan dinegosiasikan.
Di saat yang sama, jurnalis, LSM, dan DPRD harus kembali pada perannya sebagai penjaga demokrasi. Tanpa kontrol yang kuat, kekuasaan akan selalu mencari celah untuk menyimpang.
Lebih jauh, sistem politik itu sendiri perlu dibenahi. Partai politik dan pemilu tidak boleh terus menjadi alat reproduksi oligarki. Demokrasi harus dikembalikan pada esensinya: kedaulatan rakyat yang berkeadilan. (DON/Red)
Oleh: Ahmad Dardiri Syafi’i, Pengamat Kebijakan Publik, Freelance Jurnalis Paralegal dan Aktivis Sosial.
Redaksi
Suasana Tegang di Blitar: KPK Datang, HP Peserta Disita, Ada Apa ?

Blitar — Situasi tak biasa terjadi di Kantor Bupati Blitar, Jalan Kusuma Bangsa, Kanigoro, Selasa (5/5/2026). Kehadiran mendadak tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung mengubah atmosfer menjadi tegang, setelah seluruh unsur pimpinan daerah dikumpulkan dalam satu forum tertutup dengan pengamanan berlapis.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pertemuan tersebut dihadiri lengkap oleh jajaran eksekutif, mulai dari Bupati, Wakil Bupati, kepala OPD, hingga pimpinan satuan kerja perangkat daerah.
Tak hanya itu, sejumlah anggota DPRD Kabupaten Blitar juga tampak hadir, memperkuat kesan bahwa agenda ini memiliki bobot penting.
Ruang Candi Penataran di lantai 3 Kantor Bupati menjadi lokasi berlangsungnya pertemuan. Namun, yang menarik perhatian adalah penerapan aturan ketat, seluruh peserta diwajibkan meninggalkan telepon genggam dan perangkat elektronik sebelum memasuki ruangan.
Pengamanan di akses menuju lokasi juga diperketat, menandakan pembahasan yang berlangsung di dalam tidak bersifat biasa.
Anggota DPRD Kabupaten Blitar, Anshori Baidlowi, membenarkan adanya rapat mendadak tersebut. Ia mengungkapkan, para peserta tidak memperoleh penjelasan rinci sejak awal terkait alasan diberlakukannya aturan tanpa perangkat komunikasi.
“Benar, seluruh peserta dilarang membawa HP. Kami juga tidak diberi penjelasan detail terkait maksud larangan itu (oleh penyelenggara),” ujar Anshori.
Sampai Selasa siang, agenda tersebut masih berlangsung secara tertutup tanpa keterangan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Blitar maupun KPK. Kondisi ini memicu beragam spekulasi di masyarakat.
Sebagian kalangan menilai kegiatan tersebut merupakan bagian dari supervisi dan penguatan pencegahan korupsi. Namun, suasana yang dinilai lebih tegang dari biasanya juga memunculkan dugaan adanya pembahasan khusus terkait isu tertentu.
Kehadiran KPK dengan pola pengamanan dan protokol yang tidak lazim ini menghadirkan sinyal kuat bahwa ada agenda strategis yang tengah dibahas di balik pintu tertutup.
Hingga kini, tim redaksi masih berupaya menggali informasi lanjutan guna memastikan maksud utama dari kegiatan tersebut di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar. (DON/Jk)
Redaksi2 minggu agoRifqi Firmansyah Disorot: Dari Ketua KADIN ke Bursa Wabup, Tersandung Isu Tunggakan Sewa Aset Daerah
Redaksi2 minggu agoMerawat Tradisi: Jejak Pondok Tengah Kamulan
Redaksi2 minggu agoKPK Kuliti ‘Surat Sakti’ Bupati Nonaktif Tulungagung, 9 Pejabat Kembali Diperiksa
Redaksi7 jam agoSuasana Tegang di Blitar: KPK Datang, HP Peserta Disita, Ada Apa ?
Redaksi1 minggu agoHalal Bihalal di Pantai Midodaren, Ratusan Jazz GE8 Jatim Perkuat Solidaritas dan Komitmen Positif
Redaksi2 minggu agoAkar Sejarah: Dari Kalangbret ke Kamulan
Jawa Timur2 minggu agoKhotaman ke-8 Insan Kamil Tuban: 126 Santri Tuntaskan Yanbu’a, Diuji Kyai dan Dikuatkan Pesan Birrul Walidain
Nasional3 minggu agoKPK Sita Surat “Resign” Kepala OPD Tulungagung Tanpa Tanggal, Diduga Jadi Alat Tekan Bupati












