Connect with us

Redaksi

Gus Peyek: Pemenang Jangan Euforia, Yang Kalah Mari Saling Berdoa dan Mendukung

Published

on

SIDOARJO, 90detik.com – Tokoh masyarakat Kabupaten Sidoarjo yang juga pengasuh Pondok Pesantren Panca Warna, Gus Peyek mengajak para kontestan Pemilu 2024 dan masyarakat berjiwa besar untuk NKRI.

Disampaikannya, pada Jumat (23/2/2024), beberapa tahap Pemilu 2024 telah berlalu, pemungutan suara pun sudah. Kini semua masih menunggu penghitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ia berharap semua pihak dan masyarakat tahan diri hingga semua proses demokrasi lima tahunan ini selesai.

“Siapa pun pemenangnya Pemilu 2024 jangan keburu euforia, yang kalah ayo saling mendoakan dan mendukung. Harap tahan diri biar sampai selesai prosesnya,” pesannya.

Lebih lanjut, Gus Peyek menegaskan hal terpenting adalah mari kita melihat kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), perdamaian harus kita junjung tinggi untuk kejayaan bangsa kita.

“Alhamdulillah terbukti pelaksanaan coblosan Pemilu kemarin berjalan lancar dan situasi damai ini mari kita jaga terus,” lanjutnya. (Red)

Redaksi

Persiapan TKA SMP 2026 Dimatangkan, Disdik Tulungagung Libatkan 48 Sekolah dalam Sosialisasi

Published

on

TULUNGAGUNG — Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang SMP tahun 2026.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar sosialisasi teknis kepada satuan pendidikan yang dilaksanakan pada Rabu (4/3/2026), sebagai upaya menyamakan persepsi sekaligus memastikan kesiapan sekolah sebelum memasuki tahapan gladi bersih hingga pelaksanaan ujian utama.

Kegiatan yang diselenggarakan melalui Bidang Pembinaan Ketenagaan, Kurikulum, Bahasa dan Perizinan (PKKBP) tersebut diikuti 107 peserta yang merupakan perwakilan dari 48 SMP negeri dan swasta di Kabupaten Tulungagung.

Sosialisasi ini menjadi forum koordinasi awal antara dinas pendidikan dan pihak sekolah dalam mempersiapkan pelaksanaan TKA agar berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Sosialisasi teknis tersebut diprakarsai oleh Kepala Bidang PKKBP Dinas Pendidikan Tulungagung, Erna Umi Safitri, S.Pd., yang juga bertindak sebagai penanggung jawab teknis kegiatan.

Dirinya menegaskan bahwa kesiapan teknis di tingkat sekolah menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kelancaran pelaksanaan TKA.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang PKKBP Dinas Pendidikan Tulungagung, Gatot Suwarno, S.Pd., M.M., saat dikonfirmasi menilai kegiatan tersebut memiliki peran strategis dalam memperkuat koordinasi antar satuan pendidikan.

Menurutnya, komunikasi yang solid antar penyelenggara di tingkat sekolah sangat penting untuk meminimalkan potensi kendala saat ujian berlangsung.

“Melalui forum ini kami ingin memastikan tidak ada lagi perbedaan pemahaman terkait mekanisme pelaksanaan TKA. Dengan persepsi yang sama, setiap sekolah dapat menjalankan tahapan ujian secara tertib dan sesuai prosedur,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).

Dalam kegiatan tersebut, panitia memaparkan berbagai aspek teknis pelaksanaan TKA secara menyeluruh.

Materi yang disampaikan meliputi kesiapan sarana dan prasarana ujian, pengaturan ruang pelaksanaan, mekanisme distribusi dan pengamanan soal, sistem pengawasan, hingga tata cara pelaporan hasil ujian.

Selain aspek teknis, dinas pendidikan juga menekankan pentingnya menjaga integritas serta profesionalisme panitia dan pengawas ujian.

Hal ini dinilai menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas pelaksanaan TKA sekaligus memastikan proses evaluasi akademik berjalan secara jujur, transparan, dan akuntabel.

Gatot Suwarno berharap melalui kegiatan sosialisasi ini seluruh SMP di daerah tersebut dapat memahami secara menyeluruh tahapan pelaksanaan TKA, mulai dari persiapan, gladi bersih, hingga pelaksanaan utama.

“Dengan kesiapan yang matang, potensi kendala teknis di lapangan diharapkan dapat ditekan semaksimal mungkin. Dengan koordinasi yang semakin solid antara dinas dan satuan pendidikan, kami optimistis pelaksanaan TKA SMP 2026 dapat berjalan lancar, profesional, serta memberikan gambaran objektif terhadap capaian kompetensi akademik peserta didik di Kabupaten Tulungagung,” pungkasnya. (DON/Red)

Continue Reading

Redaksi

Roti Berjamur, Pembina Yayasan Al Azhaar: Sudah Dibiayai Rp6 Juta Sehari, Jangan Rakus

Published

on

TULUNGAGUNG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan setelah ditemukan makanan tidak layak konsumsi dalam paket yang dibagikan kepada siswa sekolah dasar di Tulungagung. Temuan roti berjamur dalam paket snack tersebut memicu kritik keras dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Azhaar Indonesia, KH. Imam Mawardi Ridlwan.

Kasus ini mencuat setelah media 90detik.com melaporkan adanya roti berjamur yang diterima siswa di SDN 4 Kampungdalem pada Jumat pagi (6/3/2026). Makanan tersebut merupakan bagian dari paket snack program MBG yang seharusnya mendukung pemenuhan gizi anak-anak sekolah.

Menanggapi hal itu, Imam yang akrab disapa Abah Imam menyampaikan kritik tajam terhadap para mitra penyedia makanan dalam program tersebut. Dia menilai temuan roti berjamur menunjukkan adanya kelalaian serius bahkan potensi penyimpangan dalam pelaksanaan program di lapangan.

Menurutnya, para mitra MBG seharusnya menjalankan amanah pemerintah dengan penuh tanggung jawab dan tidak mengurangi kualitas makanan yang diberikan kepada para siswa.

“Mereka para mitra BGN sudah diberi dana sewa oleh BGN setiap hari Rp6 juta. Maka tidak baik masih mengkorupsi dana jatah para murid. Jangan rakus. Belanjakan yang amanah. Jujurlah sebagai mitra BGN,” tegas Imam Mawardi Ridlwan pada Jumat (6/3).

Pihaknya menegaskan, praktik menekan biaya hingga mengorbankan kualitas makanan sangat tidak dapat dibenarkan, apalagi program tersebut menyasar anak-anak sekolah yang membutuhkan asupan gizi yang baik.

Lebih lanjut, Abah Imam meminta para kepala dapur MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap mematuhi standar belanja makanan yang telah ditetapkan pemerintah.

Dirinya mengingatkan bahwa anggaran makanan harus digunakan sesuai ketentuan, yakni Rp8.000 untuk siswa kelas kecil dan Rp10.000 untuk siswa kelas besar.

Menurutnya, kepala SPPG memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahan makanan yang diterima benar-benar layak konsumsi.

“Para Kepala SPPG harus tetap membelanjakan Rp8.000 untuk kelas kecil dan Rp10.000 untuk kelas besar. Jika mitra memberikan bahan yang kurang baik, lebih baik ditolak dan dibuat laporan khusus,” ujarnya.

Abah Imam juga menyoroti pentingnya peran pengawasan dalam pelaksanaan program MBG di daerah. Dia meminta para kepala satuan pelaksana (Kasatpel), koordinator kecamatan (Korcam), hingga koordinator wilayah (Korwil) SPPG untuk tidak ragu bersikap tegas terhadap mitra yang melanggar.

Menurutnya, program yang dirancang untuk meningkatkan gizi anak-anak bisa kehilangan tujuan jika pengawasan di lapangan lemah.

“Mitra nakal harus diberi peringatan agar program yang baik ini dapat berjalan sesuai tujuan awal,” terangnya.

Dalam pesannya yang disampaikan dari Tanah Suci pada Jumat (6/3), dia juga menegaskan bahwa aparat pengawas program tidak boleh bersikap pasif.

“Kasatpel, Korcam, dan Korwil wajib tegas. Tidak boleh lemah,” tegasnya.

Selain itu, Abah Imam juga menekankan bahwa kepala SPPG harus memiliki keberanian untuk menolak bahan makanan yang tidak layak dari mitra penyedia.

Ketegasan tersebut menjadi kunci agar kualitas makanan yang diterima siswa tetap terjaga dan program MBG benar-benar memberi manfaat bagi kesehatan anak-anak sekolah.

“Jadi Kepala SPPG harus tegas. Kalau ada mitra nakal, harus berani menolak,” pungkasnya.

Temuan roti berjamur di sekolah dasar tersebut menjadi alarm bagi pelaksanaan program MBG di daerah. Tanpa pengawasan ketat dan integritas para mitra penyedia makanan, program yang bertujuan meningkatkan gizi generasi muda berisiko tercoreng oleh praktik yang tidak bertanggung jawab. (DON/Red)

Editor: Joko Prasetyo

Continue Reading

Redaksi

Skandal Roti Berjamur di Program Makan Bergizi Gratis, Sultan Resto Diduga Terlibat

Published

on

TULUNGAGUNG— Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menyehatkan anak-anak sekolah justru jadi petaka. Sejumlah siswa SDN 4 Kampungdalem, Tulungagung, dikejutkan dengan temuan roti berjamur dalam paket snack yang dibagikan di sekolah, pada Jumat pagi (6/3) pagi.

Kejadian ini langsung viral di kalangan orang tua murid dan memicu kemarahan publik. Pasalnya, makanan yang didistribusikan oleh pihak katering Sultan Resto itu nyaris dimakan oleh para siswa sebelum akhirnya diamankan oleh guru.

Peristiwa bermula saat para siswa menerima paket snack seperti biasa. Namun, kegaduhan terjadi ketika beberapa anak membuka kemasan roti dan melihat bercak jamur jelas menempel di permukaan roti.

Reflek, para siswa langsung melapor ke wali kelas. Pihak sekolah pun sigap. Guru langsung memerintahkan seluruh siswa untuk tidak memakan roti tersebut dan mengamankan paket snack yang mencurigakan.

Paket makanan tersebut diketahui merupakan bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan oleh SPPG Sultan Resto,salah satu rekanan penyedia MBG di wilayah Tulungagung.

Orang tua murid pun geram. Mereka menuding adanya kelalaian fatal dalam proses kontrol kualitas makanan sebelum dikirim ke sekolah.

“Ini menyangkut kesehatan anak-anak SD. Seharusnya makanan dicek dulu, jangan asal kirim. Kalau sampai dimakan, gimana nasib anak kami?” ujar salah satu wali murid yang tidak ingin disebutkan namanya.

Menurutnya, program yang bertujuan meningkatkan gizi siswa justru berpotensi menjadi bumerang jika makanan yang diberikan tidak layak konsumsi.

BGN Tulungagung Gercep: Beri SP1 dan Evaluasi Supplier.

Menanggapi insiden ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Tulungagung, Sabrina Mahardika, langsung buka suara. Pihaknya berjanji akan menelusuri rantai distribusi makanan dan menindak tegas penyedia jasa boga yang lalai.

“Saya sudah minta yang bersangkutan membuat laporan dan memberikan SP 1 kepada supplier. Kami akan pertimbangkan kembali kerja sama dengan supplier tersebut karena terbukti tidak mampu memberikan kualitas yang baik,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) terkait belum memberikan keterangan resmi. Belum diketahui pasti apakah kerusakan roti disebabkan oleh kesalahan produksi, distribusi, atau penyimpanan.

Insiden roti berjamur ini menjadi alarm keras bagi pengelola program MBG. Mengingat konsumennya adalah anak-anak, standar keamanan dan higienitas makanan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas.

Publik kini menanti tindakan nyata dari BGN dan pihak terkait. Jangan sampai program bernilai positif ini tercoreng oleh kelalaian yang membahayakan generasi penerus bangsa. (DON/Red)

Editor : Joko Prasetyo

Continue Reading

Trending