Connect with us

Jakarta

Soegiarto Santoso Dorong Smart Waste Management untuk Jakarta

Published

on

JAKARTA — Persoalan sampah di DKI Jakarta dinilai membutuhkan lompatan kebijakan yang lebih progresif, sistemik, dan berbasis teknologi. Di tengah kepadatan urban yang terus meningkat, pola pengelolaan sampah konvensional yang hanya bertumpu pada skema kumpul–angkut–buang dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan kota metropolitan modern.

Praktisi teknologi infrastruktur dan solusi engineering, Soegiarto Santoso, SE, menilai Jakarta membutuhkan transformasi menyeluruh menuju sistem pengelolaan sampah cerdas yang terintegrasi, efisien, dan adaptif terhadap kompleksitas persoalan perkotaan.

“Jakarta adalah kota metropolitan dengan mobilitas tinggi, kepadatan ekstrem, aktivitas ekonomi masif, dan volume sampah yang terus meningkat. Kalau pendekatannya masih manual dan konvensional, maka persoalan ini hanya akan berpindah tempat, bukan selesai,” ujar Soegiarto di Jakarta.

Menurutnya, tantangan pengelolaan sampah Jakarta tidak lagi sekadar persoalan kebersihan kota, melainkan telah berkaitan langsung dengan efisiensi fiskal, kesehatan publik, mitigasi banjir, kualitas lingkungan hidup, hingga efektivitas tata kelola perkotaan.

“Setiap hari pemerintah mengeluarkan biaya besar untuk pengangkutan sampah. Tetapi jika sistem dasarnya tidak berubah, tekanan anggaran akan terus meningkat sementara akar persoalannya tetap berulang,” katanya.

Karena itu, Soegiarto mendorong transformasi menuju smart urban waste management ecosystem, yakni model pengelolaan sampah berbasis teknologi digital, otomatisasi, pengawasan cerdas, dan sistem pengolahan modern.

Salah satu langkah konkret yang dinilai dapat segera diterapkan ialah penggunaan smart waste collection system, yakni sistem pengumpulan sampah berbasis sensor digital yang memungkinkan pemantauan kapasitas tempat sampah secara real-time, terhubung langsung dengan armada pengangkut melalui dashboard monitoring terintegrasi.

“Pengangkutan sampah seharusnya berbasis data, bukan sekadar rutinitas. Armada bergerak ke titik yang memang membutuhkan penanganan. Ini membuat operasional jauh lebih efisien,” jelasnya.

Selain itu, ia menyoroti persoalan pembuangan sampah liar yang hingga kini masih menjadi tantangan serius di sejumlah titik Jakarta.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Soegiarto menilai AI surveillance system dapat menjadi instrumen strategis dalam penegakan tata kelola kebersihan kota.

“CCTV berbasis artificial intelligence hari ini sudah mampu mendeteksi aktivitas pembuangan sampah ilegal, mengenali kendaraan, mendokumentasikan pelanggaran, bahkan terhubung dengan command center untuk respons cepat. Ini bukan konsep masa depan, teknologinya sudah tersedia,” tegasnya.

Tak hanya pengawasan, pengolahan sampah organik juga dinilai harus menjadi prioritas utama. Mengingat komposisi sampah perkotaan sebagian besar berasal dari limbah rumah tangga, pasar tradisional, restoran, dan kawasan komersial, Soegiarto mendorong pemanfaatan teknologi biodigester, komposting modern, hingga konversi energi.

“Kalau sampah organik bisa diselesaikan di level kawasan, tekanan terhadap fasilitas pengolahan akhir akan turun signifikan. Ini jauh lebih rasional dibanding semuanya harus dibawa ke hilir,” ujarnya.

Ia juga menilai modernisasi Tempat Penampungan Sementara (TPS) sebagai kebutuhan mendesak, agar fasilitas penanganan sampah di tingkat kota tidak lagi identik dengan bau, tumpukan terbuka, dan persoalan sanitasi.

“TPS modern harus tertutup, higienis, memiliki sistem pemadatan, pengolahan lindi, kontrol bau, bahkan pemilahan yang lebih sistematis. Kota besar tidak bisa lagi mengelola sampah dengan pendekatan lama,” katanya.

Soegiarto menambahkan, gagasan transformasi pengelolaan sampah Jakarta juga menjadi bagian dari komunikasi strategis dengan sejumlah tokoh nasional.

“Pada Kamis, 14 Mei 2026, kami berkesempatan bersilaturahmi dan bertukar pandangan dengan sejumlah tokoh nasional, termasuk mantan Gubernur DKI Jakarta dan mantan Kepala BIN, mengenai tantangan pembangunan perkotaan ke depan, termasuk kebutuhan menghadirkan solusi pengelolaan sampah metropolitan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Dalam perspektif yang lebih luas, problem sampah Jakarta sejatinya bukan semata isu teknis perkotaan, melainkan cerminan cara bangsa mengelola ruang hidupnya. Dalam pembacaan budaya geopolitik Nusantara, kota bukan sekadar pusat administrasi, melainkan simpul peradaban yang mencerminkan kualitas tata kelola negara.

Dalam tradisi Nusantara, ruang hidup selalu dipahami sebagai ruang keseimbangan, antara manusia, alam, dan tata kekuasaan. Ketika sampah menjadi persoalan kronis, yang terganggu bukan hanya estetika kota, tetapi juga harmoni ekologis dan disiplin peradaban urban.

Di era kompetisi global antarkota, pengelolaan sampah bahkan telah menjadi indikator kapasitas geopolitik modern: apakah sebuah kota mampu mengelola tekanannya sendiri, menjaga efisiensi fiskalnya, serta membangun ketahanan lingkungan yang menopang produktivitas ekonomi.

Karena itu, menurut Soegiarto, persoalan sampah Jakarta membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, pelaku usaha, komunitas teknologi, hingga para pemangku pengalaman kebijakan nasional.

“Jakarta punya peluang menjadi model nasional pengelolaan sampah berbasis teknologi. Ini bukan sekadar isu kebersihan, tetapi bagian dari transformasi smart city, efisiensi APBD, ketahanan lingkungan, dan peningkatan kualitas hidup warga,” tegasnya.

Ia menekankan, yang dibutuhkan bukan sekadar pengadaan alat, melainkan pembangunan ekosistem solusi yang benar-benar terintegrasi.

“Kalau dikelola serius, persoalan sampah justru bisa diubah menjadi momentum modernisasi tata kelola kota,” pungkasnya. (By/Red)

Jakarta

Desk Ketenagakerjaan Polri Berhasil Mediasi Sengketa PT Kerta Gaya Pusaka, 131 Pekerja Terima Hak Senilai Rp10 Miliar

Published

on

Jakarta— Desk Ketenagakerjaan Polri berhasil melaksanakan mediasi penyelesaian sengketa ketenagakerjaan antara manajemen PT Kerta Gaya Pusaka dan 131 pekerja.

Permasalahan tersebut bermula dari pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami para pekerja sejak tahun 2021. Hingga saat ini, para pekerja belum menerima kompensasi PHK maupun kekurangan upah yang menjadi hak mereka.

Melalui fasilitasi dan mediasi yang dilaksanakan pada Rabu (3/6/2026), yang dihadiri oleh Kepala Desk Ketenagakerjaan Polri Brigjen Pol. Mohammad Irhamni, Penasihat Kapolri Bidang Ketenagakerjaan Andi Gani Nena Wea, perwakilan pekerja, serta manajemen PT Kerta Gaya Pusaka, para pihak akhirnya mencapai kesepakatan.

Dalam hasil mediasi tersebut, manajemen PT Kerta Gaya Pusaka menyatakan kesediaannya untuk membayarkan kompensasi PHK dan kekurangan upah kepada 131 pekerja dengan total nilai mencapai Rp10 miliar.

Kepala Desk Ketenagakerjaan Polri Brigjen Pol. Mohammad Irhamni mengatakan keberhasilan penyelesaian kasus ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan perlindungan kepada pekerja sekaligus menjaga keberlangsungan hubungan industrial yang harmonis.

“Desk Ketenagakerjaan Polri hadir untuk memastikan setiap permasalahan ketenagakerjaan dapat diselesaikan secara adil, profesional, dan mengedepankan dialog. Penyelesaian kasus PT Kerta Gaya Pusaka ini menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif dan restorative justice mampu memberikan kepastian hukum sekaligus memenuhi hak-hak pekerja yang selama ini tertunda,” ujar Brigjen Pol. Mohammad Irhamni kepada Wartawan di Jakarta.

Ia menegaskan bahwa Polri akan terus mendukung terciptanya iklim ketenagakerjaan yang kondusif melalui upaya mediasi, perlindungan hukum, serta pengawasan terhadap pelaksanaan hak dan kewajiban para pihak dalam hubungan industrial.

Keberhasilan penyelesaian sengketa ini menjadi bagian dari komitmen Polri dalam mewujudkan perlindungan ketenagakerjaan bagi seluruh masyarakat, dengan mengedepankan penegakan hukum yang berorientasi pada penyelesaian masalah, keadilan restoratif, serta terciptanya hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan di Indonesia. (By/Red)

Continue Reading

Jakarta

Dugaan Korupsi BGN Diusut, Pernyataan Presiden Mahasiswa UGM Mengenai MBG Dinilai Relevan

Published

on

Jakarta— Praktisi hukum Ramadhan Reubun SH, menilai bahwa pernyataan Presiden Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) terkait potensi permasalahan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan publik setelah munculnya pengusutan dugaan korupsi di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN).

Menurut Ramadhan Reubun, kritik yang sebelumnya disampaikan oleh Presiden Mahasiswa UGM merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial yang perlu diapresiasi dalam sistem demokrasi. Ia menilai bahwa berbagai masukan dari kalangan akademisi dan mahasiswa seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menjalankan program-program strategis nasional.

“Ketika ada dugaan penyimpangan yang sedang diusut oleh aparat penegak hukum, maka kritik dan peringatan yang pernah disampaikan oleh mahasiswa menjadi relevan untuk dikaji kembali. Ini menunjukkan pentingnya pengawasan publik terhadap penggunaan anggaran negara,” ujar Ramadhan Reubun.

Ia menegaskan bahwa proses hukum harus berjalan secara profesional, transparan, dan berdasarkan alat bukti yang kuat. Semua pihak, lanjutnya, harus menghormati asas praduga tak bersalah hingga adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Ramadhan juga berharap pengusutan dugaan korupsi di BGN dapat menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola Program MBG agar tujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat tetap tercapai tanpa adanya penyimpangan anggaran.

“Yang terpenting saat ini adalah memastikan proses hukum berjalan secara objektif dan program yang menyangkut kepentingan masyarakat luas tetap terlaksana dengan baik, transparan, dan akuntabel,” katanya.

Pengusutan dugaan korupsi di BGN sendiri telah menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi, aktivis mahasiswa, dan masyarakat sipil yang selama ini menaruh perhatian terhadap efektivitas serta akuntabilitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Ramadhan Reubun mendorong agar hasil penyelidikan dibuka secara transparan demi menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara dan program-program pelayanan masyarakat, selanjutnya Ia meminta kepada Kejaksaan Agung dan Presiden RI (Bapak Prabowo Subianto) untuk melakukan investigasi secara menyeluruh ke internal BGN agar dugaan Korupsi dibersihkan secara menyeluruh. (By/Red)

Continue Reading

Jakarta

Mengenang J.M. Pattiasina: Arsitek Teknis yang Menghidupkan Permina di Masa Paling Kritis

Published

on

Jakarta— Di balik sejarah besar lahirnya industri minyak nasional, terdapat sosok teknokrat yang membantu membangun fondasi kemandirian energi Indonesia dari tengah keterbatasan dan pergolakan awal kemerdekaan.

Selama puluhan tahun, narasi mengenai lahir dan berkembangnya industri minyak nasional lebih banyak menyoroti tokoh-tokoh yang berada di garis depan kepemimpinan. Salah satu nama yang paling dikenal tentu adalah Ibnu Sutowo, sosok dokter militer yang kemudian menjadi figur sentral dalam sejarah awal Pertamina.

Namun sejarah industri tidak pernah dibangun oleh satu orang semata. Di balik para pemimpin yang tampil di panggung utama, terdapat para teknokrat, insinyur, dan pelaksana lapangan yang bekerja memastikan setiap kebijakan dapat diwujudkan menjadi kenyataan. Salah satu tokoh yang layak mendapat perhatian lebih dalam sejarah energi Indonesia adalah Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Johannes Marcus Pattiasina.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi peran tokoh lain dalam sejarah Permina maupun Pertamina. Sebaliknya, tulisan ini berupaya menempatkan J.M. Pattiasina pada posisi yang lebih proporsional sebagai salah satu figur teknis yang berkontribusi besar dalam fase awal pembangunan industri minyak nasional.

Tahun 1957 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan industri energi Indonesia. Pemerintah mengambil langkah strategis dengan menasionalisasi berbagai aset minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. Dari proses tersebut lahirlah PN Permina, yang kelak menjadi salah satu fondasi berdirinya Pertamina.

Namun Permina lahir bukan dalam situasi yang ideal. Infrastruktur migas di berbagai daerah mengalami kerusakan akibat perang dan pergolakan politik yang berlangsung sejak masa revolusi hingga awal kemerdekaan. Kilang-kilang minyak membutuhkan rehabilitasi besar-besaran, sementara tenaga ahli nasional masih sangat terbatas.

Di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi tantangan keamanan akibat berbagai gejolak politik dan pemberontakan daerah. Sektor energi yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional harus tetap berjalan di tengah situasi yang tidak menentu.

Dalam kondisi inilah bangsa Indonesia membutuhkan figur-figur teknis yang tidak hanya memahami teknologi perminyakan, tetapi juga mampu bekerja dalam suasana penuh keterbatasan.

Johannes Marcus Pattiasina merupakan salah satu putra bangsa yang memiliki pengalaman teknis di bidang perminyakan pada masa ketika keahlian tersebut masih sangat langka.

Pengalaman yang dimilikinya menjadikan Pattiasina sebagai salah satu tenaga teknis yang dipercaya ikut membangun kembali fondasi industri migas nasional. Ia kemudian mengemban tanggung jawab sebagai Direktur Teknik Permina dan selanjutnya dipercaya menduduki posisi Wakil Direktur Utama.

Di balik jabatan tersebut, kontribusi terbesarnya terletak pada kemampuan menerjemahkan cita-cita besar kemandirian energi ke dalam pekerjaan teknis yang nyata. Rehabilitasi fasilitas, pengembangan sumber daya manusia, hingga penguatan operasional menjadi bagian dari tugas besar yang harus dihadapi pada masa-masa awal pembangunan industri minyak nasional.

Jika para pemimpin organisasi merumuskan arah kebijakan, maka para teknokrat seperti Pattiasina memastikan roda industri benar-benar dapat bergerak.

Salah satu persoalan terbesar yang dihadapi Indonesia pada akhir 1950-an adalah minimnya tenaga ahli di sektor energi.

Karena itu, pembangunan sumber daya manusia menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting dibandingkan pembangunan infrastruktur fisik. Berbagai proses pelatihan dan transfer pengetahuan dilakukan untuk menyiapkan generasi baru teknisi dan insinyur Indonesia yang mampu mengelola industri migas secara mandiri.

Dalam proses tersebut, Pattiasina dikenal sebagai figur yang memberikan perhatian besar terhadap pengembangan kemampuan teknis tenaga kerja nasional. Pendekatan ini menjadi bagian penting dari upaya membangun kapasitas bangsa dalam mengelola sumber daya strategisnya sendiri.

Langkah tersebut memiliki dampak jangka panjang. Indonesia tidak hanya berusaha menghidupkan kembali fasilitas yang ada, tetapi juga menyiapkan manusia-manusia yang kelak menjadi tulang punggung industri energi nasional.

Bagi negara yang baru merdeka, energi bukan semata persoalan ekonomi. Energi juga berkaitan dengan kemampuan negara mempertahankan stabilitas, menjalankan pembangunan, dan menjaga kedaulatan nasional.

Karena itu, keberlangsungan operasional sektor migas pada masa awal kemerdekaan memiliki arti yang sangat strategis. Setiap fasilitas produksi yang kembali beroperasi memberikan kontribusi bagi penguatan negara yang sedang membangun fondasinya.

Dengan latar belakang teknik dan militer yang dimiliki, Pattiasina menjadi bagian dari generasi yang bekerja memastikan sektor energi nasional tetap berjalan di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan keamanan yang dihadapi Indonesia pada masa itu.

Bagi Indonesia yang berbentuk negara kepulauan, energi memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar komoditas ekonomi. Energi merupakan salah satu penopang utama integrasi nasional.

Sejak masa kerajaan-kerajaan maritim Nusantara, kekuatan politik selalu berkaitan dengan kemampuan menguasai jalur perdagangan dan sumber daya strategis. Pada era modern, minyak bumi menjadi salah satu sumber daya yang menentukan posisi sebuah negara dalam percaturan geopolitik global.

Dalam konteks tersebut, perjuangan generasi awal Permina sesungguhnya merupakan bagian dari upaya memperkuat kedaulatan nasional. Mereka tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga membantu menyiapkan fondasi agar Indonesia mampu mengelola sumber daya strategisnya sendiri.

Sebagai putra Maluku, J.M. Pattiasina juga mencerminkan wajah Indonesia sebagai bangsa kepulauan. Kehadirannya menunjukkan bahwa pembangunan nasional tidak hanya lahir dari pusat-pusat kekuasaan, tetapi juga dari kontribusi anak-anak bangsa yang berasal dari berbagai daerah Nusantara.

Dari Sumatra yang kaya sumber daya energi, Jawa sebagai pusat administrasi dan pendidikan, Kalimantan dengan cadangan alamnya, hingga Maluku sebagai wilayah maritim strategis, seluruh elemen bangsa memiliki kontribusi dalam membangun Indonesia modern.

Dalam perspektif geopolitik Nusantara, kilang minyak bukan sekadar fasilitas industri. Ia merupakan simpul strategis yang menopang pertahanan, transportasi, perdagangan, dan stabilitas negara. Karena itu, upaya menghidupkan kembali fasilitas-fasilitas migas pada masa awal kemerdekaan memiliki makna yang jauh melampaui urusan bisnis semata.

Menurut Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara, Bayu Sasongko pada Jumat 29/5/2026, sosok J.M. Pattiasina merupakan representasi penting dari generasi teknokrat yang turut membangun fondasi kemandirian energi Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

“Sejarah bangsa sering kali lebih mengingat tokoh-tokoh yang berada di panggung utama, sementara para teknokrat yang bekerja di balik layar kurang mendapatkan ruang yang memadai dalam ingatan kolektif. Padahal, tanpa kapasitas teknis yang mereka bangun, cita-cita besar negara sulit diwujudkan,” ujar Bayu Sasongko.

Menurutnya, peran Pattiasina tidak hanya relevan dalam konteks sejarah industri migas, tetapi juga memiliki dimensi geopolitik yang penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.

“Dalam perspektif geopolitik Nusantara, energi bukan sekadar komoditas ekonomi. Energi adalah instrumen kedaulatan. Kemampuan mengelola sumber daya strategis secara mandiri menjadi salah satu syarat utama agar Indonesia mampu menjaga integrasi wilayah dan memperkuat posisinya dalam percaturan global,” katanya.

Bayu menilai J.M. Pattiasina merupakan simbol dari semangat pembangunan yang lahir dari keberagaman Nusantara.

“Sebagai putra Maluku yang berkiprah dalam pembangunan industri energi nasional, Pattiasina menunjukkan bahwa kontribusi terhadap Indonesia tidak mengenal batas wilayah maupun latar belakang. Ia menjadi simbol bagaimana anak-anak bangsa dari berbagai penjuru Nusantara ikut membangun fondasi negara modern,” ujarnya.

Menurut Bayu, warisan terbesar generasi perintis Permina bukan hanya keberhasilan menghidupkan kembali fasilitas migas, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri bangsa untuk mengelola sumber daya strategis secara mandiri.

“Kemandirian energi pada akhirnya adalah bagian dari kemandirian nasional. Itulah pesan yang masih relevan dari perjalanan hidup J.M. Pattiasina hingga hari ini,” pungkasnya.

Sejarah sering kali mengingat mereka yang berdiri di podium, memimpin organisasi, atau menandatangani kebijakan besar. Namun sejarah yang utuh juga perlu memberi ruang kepada mereka yang bekerja dalam senyap, memastikan roda pembangunan terus bergerak.

Johannes Marcus Pattiasina adalah salah satu di antaranya.

Ia mungkin bukan nama yang paling sering disebut dalam sejarah industri minyak Indonesia. Namun bagi mereka yang memahami bagaimana sebuah industri dibangun dari keterbatasan, peran tokoh-tokoh teknis seperti dirinya memiliki arti yang sangat penting.

Mengenang J.M. Pattiasina bukan sekadar mengenang seorang perwira atau teknokrat. Ini adalah bentuk penghormatan kepada generasi perintis yang membantu meletakkan fondasi kemandirian energi Indonesia pada masa-masa awal perjalanan bangsa.

Di balik tumbuhnya industri energi nasional, terdapat kerja keras, dedikasi, dan pengabdian banyak anak bangsa yang tidak selalu tercatat dengan huruf paling besar dalam buku sejarah. J.M. Pattiasina adalah salah satu di antaranya seorang putra Maluku yang turut membantu menyalakan kembali denyut industri minyak nasional dan meninggalkan warisan berharga bagi Indonesia hingga hari ini.

Pada akhirnya, kisah J.M. Pattiasina mengingatkan kita bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh para pemimpin yang terlihat di permukaan, tetapi juga oleh para teknokrat, insinyur, dan pekerja yang dengan tenang membangun fondasi kemajuan dari balik ruang mesin. Mereka mungkin tidak selalu menjadi tokoh utama dalam narasi sejarah, tetapi tanpa mereka, sejarah itu sendiri tidak akan pernah bergerak. (By/Red)

Continue Reading

Trending